
Setelah sekian lama kini akhirnya Bagas bisa kembali berbaring menatap wajah cantik sang istri. Meski pun ingatan Feli belum pulih baginya tak apa. Yang terpenting semua miliknya masih di jaga dengan utuh oleh sang istri. Berbaring untuk malam ini saja Bagas ingin merehatkan tubuh dari menjaga kedua malaikat kecilnya. Semua pekerjaan tentang Cia dan Fia khusus malam ini di tangani oleh Irma dan juga Laras. Dua wanita paruh baya itu dengan suka rela memberikan waktu mereka untuk kedua cucunya. Bagas benar-benar menikmati malam indahnya memeluk tubuh sang istri sepanjang waktu. Ia tak perduli bagaimana Feli yang merasakan sesak sebenarnya. Yang di pikiran Bagas hanya satu, yaitu memeluk dan melepaskan rindunya setahun ini.
"Dia begiu lelap tidurnya...kalau aku bergerak pasti akan bangun lagi." gumam Feli yang merasa tak enak hati untuk melepaskan tangan sang suami yang bertengger di dadanya.
Hingga tak sadar ia pun mulai ikut terlelap dalam tidur hangat it. Berbeda halnya dengan kamar yang lain. Iwan dan Dimas justru merengek melihat sang istri yang masing-masing sibuk dengan cucu mereka. Waktu yang seharusnya mereka memejamkan mata sembari memeluk justru di gunakan para istri untuk memegang botol susu cucunya yang hendak terlelap.
"Mah, masih lamaka?" tanya Iwan pada sang istri.
Jam di dinding bahkan sudah menunjuk pukul dua belas malam lewat. Namun, cucu mereka masih begitu menikmati minuman yang bisa mengisi perut gembul mereka. Irma menggeleng melihat sang suami. Sebab ini adalah pertanyaan yang kesekian kali pria itu lontarkan padanya.
"Papah ini kok kayak anak kecil sih? tidur saja sana, nanti mamah nyusul setelah Cia tidur lelap. Kalau tidak bisa nangis lagi nanti." jawabnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu bukannya patuh, Iwan justru bangun dari tidurnya. Matanya begitu berat sekali untuk ia buka namun tanpa memeluk tubuh sang istri tentu saja ia tidak bisa tidur nyenyak. Pada akhirnya pria paruh baya itu memilih keluar kamar untuk mencari angin segar. Di balkon rumah justru ia bertemu dengan sang besan. Dimas tengah menikmati secangkir cokelat hangat seorang diri.
Senyuman seketika merekah di wajah pria itu. Ia mendekat lalu berdehe.
"Wah ternyata malam ini malam apes berjamaah yah? Aku pikir hanya aku sendiri yang tidak bisa tidur." kekehnya duduk di samping sang besan.
Dimas terkekeh tanpa suara hanya kedua bahunya saja yang bergetar. "Kita itu punya dua cucu, jadi pasti adil. Jangan banyak mengeluh biarkan malam ini menjadi malamnya Bagas dan Feli. Kasihan mereka waktu setahun harus terbuang sia-sia hanya karena lupa ingatan." tuturnya menggeleng prihatin pada sang menantu.
Mereka terus berbicara setelah sang bibi kembali membawakan secangkir kopi hangat untuk Iwan.
Sementara di malam yang sama di tempat yang berbeda, Krisna merenung di sebuah desa terpecil. Satu hukuman dari sang atasan adalah mutasi ke tempat yang lumayan jauh dari perkotaan. Bayangan akan Feli yang masih utuh di kepalanya seolah membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
__ADS_1
Pernikahan yang sama sekali tak berarti untuk Feli begitu membuat Krisna hampir gila. Ia benar-benar telah jatuh hati pada istri orang lain.
"Sadar, Krisna. Dia adalah ibu dua anak kecil. Kau tidak boleh egois seperti ini." tuturnya memperingati diri sendiri.
Krisna berusaha terus menenangkan dirinya. Ia mengisi kekosongan dengan berbagai macam game di ponselnya. Hidupnya benar-benar sepi tanpa adanya Feli. Namun, takdir telah berpihak pada Bagas dan artinya ia harus mengalah.
Yang terpenting saat ini adalah pekerjaannya tak terancam akan di cabut. Krisna berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan hal yang lebih baik lagi ke depannya. Berharap dengan begitu ia bisa mengikhlaskan Feli bersama suaminya.
"Astaga sudah jam tiga pagi," Pria itu kaget saat menyadari jam di ponselnya yang ternyata begitu cepat berlalu. Ia pun bergegas untuk masuk ke dalam kamar memejamkan mata sebab besok ia mendapatkan misi untuk berangkat ke salah satu desa yang tengah menjadi incaran mereka. Krisna saat ini tak lagi bertugas di kota di dalam kantor yang nyaman. Ia harus berjuang kembali untuk membuat namanya baik di depan pimpinan dengan cara mencari hal-hal kriminal yang bisa ia bongkar.
Terlalu sulit memang untuk memulai semuanya dari awal. Namun, mengingat kesalahannya yang cukup fatal rasanya itu tak sebanding dengan perjuangan yang harus ia tempuh kembali saat ini.
__ADS_1