Bukan Duda

Bukan Duda
Treatment Ala Feli


__ADS_3

Merasa tak bisa melakukan apa pun di dalam kamar, ia memilih untuk keluar meninggalkan sang suami serta kedua anaknya. Feli bertemu sang ibu mertua yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Untuk hari ini mereka memilih menetap di rumah sang anak takut jika Bagas membutuhkan tenaga mereka untuk menjaga kedua cucunya. Pelan, Feli mendaratkan tubuhnya di sofa samping sang mertua.


"Mah," sapanya lembut.


"Feli, sini nonton bareng. Dulu kalau kamu sedang off kerja pasti banyak nonton bareng mamah. Makanya sejak kamu pergi rasanya mamah kehilangan sekali. Sepi rasanya nonton sendirian. Makanya mamah lebih sering jalan-jalan sama teman di luar sana. Bagaimana Cia dan Fia sudah pada anteng tidurnya?" ujar Irma bertanya pada sang menantu.


Feli mengangguk dan tersenyum. Sebab sampai saat ini pun rasanya ia masih kaku untuk sekedar berbicara pada siapa pun di rumah ini.


"Aku merasa malu, mah." tutur Feli kemudian.


Mendengar ucapan itu sontak Irma mendekatkan wajah mereka. "Malu? Karena?"


"Yah aku malu sampai saat ini sudah bertemu anak-anakku aku bahkan masih belum tahu melakukan apa pun untuk mereka. Apa aku pantas di sebut seorang mamah?" tanya Feli seolah sedang mencurahkan kegelisahan di hatinya.


Bercerita dengan sang suami yang ia rasa masih begitu canggung tak membuatnya nyaman, Feli jauh lebih tenang berbicara bersama perempuan seperti mamah mertuanya. Irma tersenyum mendengar ucapan menantunya.


"Kamu kok bicara seperti itu, Feli? Itu semua kan bukan kemauan kamu. Ini musibah dan kita semua bisa mengerti. Apalagi suami kamu dia adalah orang yang paling mengerti keadaan ini. Sudah cukup lama dia berpisah dari kamu menahan rindu satu tahun lamanya. Sungguh itu tidak mudah untuk seorang pria seperti Bagas. Bahkan dia sampai mengerjakan semua urusan kantor dari rumah demi mengasuh anak kalian sendiri. Mamah yang seorang wanita pernah memiliki satu anak bahkan tak bisa yakin jika mamah sanggup seperti Bagas. Sekarang, sudah saatnya kamu temani dia. Berdirilah selalu di samping suamimu, Nak. Gantilah semua waktu kalian yang terbuang dengan waktu yang sekarang. Selama satu tahun hidup anak mamah benar-benar kacau karena mencari istrinya yang paling di cintai. Hanya Bagas satu-satunya orang yang percaya kamu masih hidup tanpa melihat keadaanmu setahun."


Feli meneteskan air mata kala mendengar kisah hidup sang suami saat ia pergi. Bagaimana pun juga cerita itu begitu nyata terasa meski ia masih belum mengingat siapa Bagas baginya.


"Banyak wanita yang datang. Kamu bisa cek cctv, Feli. Suamimu begitu setia menanti kehadiran kamu."

__ADS_1


Feli pun tak sanggup berkata apa pun lagi. Kini ia melangkah masuk ke dalam kamar sembari meneteskan air mata sedih.  Tak menyangka di balik sikap cuek Bagas selama ini bertemu dengannya justru ada cinta yang begitu besar di hati pria itu untuknya. Seketika pintu kamar terbuka, Feli langsung memeluk erat tubuh suaminya. Ia membenamkan wajahnya di punggung Bagas yang tengah duduk di kursi kerjanya.


Pria itu tengah sibuk mengirim hasil koreksi berkas untuk pengajuan cabang mall kembali di kota lainnya. Tiba-tiba saja tubuhnya merasa sentuhan erat dari kedua tangan Feli.


"Mungkin saat ini aku masih belum bisa mengingatmu. Tapi, aku akan membuat waktu yang terbuang itu segera aku gantikan saat ini. Maaf aku belum bisa menjadi istri yang sempurna." ucapan Feli sontak membuat Bagas salah paham.


Pria itu justru tersenyum senang mendengarnya dan membalikkan tubuh ke arah sang istri. Kedua tangan Bagas menangkup wajah cantik sang istri.


"Kamu sudah ingat semuanya sayang?" tanya Bagas merasa senang sekali. Namun, Feli justru menggelengkan kepala.


"Aku belum mengingatnya. Tapi aku berjanji akan berusaha mengingat semuanya. Aku yakin kamu adalah suami yang baik." ujarnya dengan mantap.


"Temani aku istirahat yah?" ajaknya dan Feli pun hanya bisa mengangguk malu.


Keduanya naik ke atas tempat tidur setelah Feli melihat Bagas mengangkat tubuh kedua anaknya ke tempat tidur di kamar itu khusus untuk mereka. Feli pun turut merebahkan tubuh saat Bagas memintanya berbaring di samping. Pelan pria itu memeluk tubuh sang istri dan memejamkan mata. Hal yang paling ia impikan sejak lama ketika bertemu kembali dengan sang istri adalah tidur memeluk tubuh Feli. Kini sudah ia dapatkan.


Beberapa menit berbaring dengan saling berpelukan, bukan terpejam ke alam mimpi. Justru Bagas dan Feli merasakan ada desiran aneh yang seolah menjalar ke seluruh tubuh mereka. Feli susah payah menahan degup jantung sedangkan Bagas tengah menahan gairah yang ingin segera di lampiaskan.


Tak lama kemudian pria itu pun membuka matanya. "Tunggu sebentar yah?" ujarnya pada sang istri.


Feli tentu saja tidak mengerti kemana sang suami akan pergi,  bukankah sebelumnya Bagas berkata jika ingin tidur sembari berpelukan. Kini pria itu justru menggendong Cia dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Mamah," panggilnya pelan.


Irma yang mendengar suara sang anak sontak mendekat.


"Mau di jagain?" tanya Irma yang memang sudah paham watak sang anak. Bagas hanya tersenyum mendengar ucapan sang mamah. Ia pun mengangguk.


"Sebentar Mamah panggilkan papahmu." ujar Irma yang tahu jika berikutnya adalah Fia yang akan di antar oleh Bagas keluar.


"Terimakasih yah, Mah." Segera kedua anaknya ia keluarkan dan di sinilah Bagas saat ini. Di dalam kamar hanya berdua dengan sang istri.


Feli tampak meneguk kasar salivahnya yang terasa sangkut di tenggorkan. Ia menatap Bagas yang sudah berjalan mendekat ke arahnya usai mengunci pintu kamar rapat.


Mereka tak tahu saja jika di luar kamar para orangtua justru tengah menggosipkan keduanya yang seperti kembali pengantin baru.


"Biarkan saja, Pah. Hitung-hitung ini kan hadiah buat Bagas yang lelah menjaga anaknya selama setahun. Cuman Feli yang bisa treatment suaminya dong." seru Irma di sambut kekehan oleh Laras sang baesan.


"Huh anak sekarang memang susah nahannya. Sabar kamu cu, malam ini tidurnya sama oma opa saja yah?" sahut Dimas yang menoel pipi sang cucu di gendongan sang istri.


Para orangtua saat ini tengah berkumpul di ruang televisi, sementara Bagas kini tengah berperang dengan keringat yang membasahi tubuhnya dan juga tubuh Feli. Meski pun merasa belum bisa mengingat apa pun, Feli merasa tak kuasa menolak permintaan sang suami. Semua sudah jelas jika dirinya memanglah istri dari pria tampan di atas tubuhnya ini.


Jelas terlihat bagaimana Bagas sangat agresif saat ini. Hingga satu sesi bagi pria itu masih kurang. Tak perduli bagaimana Feli yang merasa lelah, Bagas terus saja kembali memintanya.

__ADS_1


__ADS_2