Bukan Duda

Bukan Duda
Dila Permata


__ADS_3

Bagas diam tanpa berkata apa pun melihat aksi agresif dari Alisia. Kali ini ia sadar jika statusnya pasti akan menjadi ancaman bagi dirinya dan kedua anaknya. Sebelum kepergian Feli bahkan begitu banyak wanita yang mengagungkan dirinya. Selama di dalam lift bahkan Bagas tak ingin berbicara apa pun dengan sosok Alisia.


"Halo cantik...kalian pada pinter semua yah?" celoteh Alisia menoel kedua pipi sang anak.


Hingga beberapa waktu berlalu akhirnya pintu lift terbuka dengan sempurna. Bagas mendorong kedua baby stroller untuk keluar dari dalam lift. Alisi terus mengikuti langkah lebar kaki Bagas namun sayang terpaksa ia menghentikan langkah saat mendapati pintu ruang kerja Bagas sudah di tutup dari luar.


"Sialan!" Alisia menggeram kesal tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.


Kini jam kerja sudah di mulai, ia pun terpaksa harus kembali ke ruang kerja dengan wajah angkuhnya yang selama ini bersembunyi di balik lemah lembutnya. Sementara Bagas yang berada di ruang kerja nampak baik-baik saja. Ia menata beberapa susu yang baru ia bawa dari rumah. Dan meletakkan pada freezer yang sudah di siapkan.


"Sayang...Papah sekarang kerja dulu di situ. Kalian bermain dulu di sini yah? Nanti akan minum susu bergantian." tutur Bagas sembari menundukkan kepala melihat kedua anaknya tampak terlelap dengan tenang.


Sungguh rasanya begitu ingin teriak setiap kali memandang wajah tidur kedua anaknya. Bayangan Feli selalu saja terputar di benaknya. Dan Bagas tak bisa sama sekali mencegah hal itu terjadi.


"Kemana kamu pergi, Sayang? Aku masih yakin kamu masih ada di dunia ini. Apa kamu tidak ingin segera kembali ke rumah? Anak-anak kita sangat membutuhkan kamu, Feli..." lirih Bagas sejenak menatap foto sang istri yang berdiri tegak di atas meja kerjanya.


Ada cairan yang ingin lolos begitu saja di kedua pipinya, segera Bagas menghapus kasar dan menuju kursi kerja. Ia tampak fokus bekerja di ruangan itu. Tak jarang ia pergi menghampiri sang anak demi memastikan keduannya baik-baik saja serta diapersnya masih tak ada kotoran. Kasih sayang yang Bagas berikan benar-benar sangat besar untuk kedua anaknya. Ia begitu berharap bisa menggantikan posisi Feli sementara untuk anak kembarnya sembari mengharapakan sang istri yang akan kembali.


Tanpa ia tahu di sis lain seorang wanita yang masih terbaring di rumah sakit nampak pucat. Wajah cantiknya begitu menyedihkan kala beberapa luka di wajah serta perban di kepala terbalut sempurna. Sudah berapa lama ia belum juga sadar.


"Bagaimana keadaannya dokter? bukankah ini sudah sangat lama dari waktu operasi di otaknya? Seharusnya semua sudah baik-baik saja kan?" Sosok pria tampan yang baru saja tiba tampak mendekati seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.


Seragam cokelat lengkap dengan beberapa lambang di pakaian menggambarkan betapa ia memiliki peran penting di dalam dunia kerjanya. Wajah tampan yang tampak sangat tegas sungguh begitu menawan. Jangan lupakan beberapa pengawal yang berdiri dengan sikap sigap di belakangnya.

__ADS_1


"Maaf, Pak Krisna. Kami sedang berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Namun, sampai saat ini keadaannya masih kritis. Bukankah di awal operasi saya sudah mengatakan hal terburuk sekali pun?" Mendengar pertanyaan sang dokter sontak saja Krisna menganggukkan kepala paham. Ia sangat tahu dan ingat apa yang dokter katakan.


Dari kemungkinan akan ada masa koma berbulan-bulan bahkan sampai tidakĀ  bisa di selamatkan sebab kecelakaan yang terjadi di kepala begitu membuat kepala dari pasien mengalami kerusakan di bagian tempurung kepala dan bisa berdampak pada otaknya. Saat ini operasi yang di lakukan sebelumnya adalah penggantian sementara tempurung di kepala pasien.


"Kenapa kau belum pulih selama ini? Bangunlah...aku akan merawatmu sampai menemukan keluargamu." ujar Krisna menatap wanita yang memiliki hidung tinggi di depannya.


Lama pria itu berdiri di samping brankar milik wanita itu, hingga akhirnya hal yang tak terduga terjadi saat ini. Kedua mata dari wanita itu bergerak pelan hingga perlahan-lahan terbuka lebar. Samar ia melihat pria di depannya bak malaikan tak bersayap.


Krisna belum menyadari jika wanita di depannya telah membuka mata susah payah. Ia terus meratapi tangan yang belum juga bergerak.


"Si-siiapa anda?" suara lirih namun jelas terdengar di ruangan ICU, Krisna menoleh dan kaget melihat wanita yang berbaring di depannya sudah membuka mata lebar.


Tanpa menjawab ia pun sudah berlari keluar memanggil dokter. Krisna tak sadar jika wajahnya begitu senang melihat orang yang ia tunggu sadar akhirnya kini membuka mata dan melewati masa kritisnya.


"Semuanya sudah terlewatkan, Pak Krisna. Kita akan melihat perkembangan ke depan dan segera memindahkan pasien ke ruang rawat." ujar Dokter dengan tenang.


Krisna mengusap dadanya dengan senang lalu melangkah mendekati wanita yang bahkan sampai saat ini ia tidak tahu siapa wanita ini.


"Akhirnya kau sadar juga. Siapa namamu?" hal yang pertama Krisna tanyakan langsung pada nama. Ia begitu penasaran sebab tak tahu siapa wanita itu.


Mendengar nama, rasanya begitu aneh baginya. Hanya gelengan kepala samar yang ia berikan pada Krisna sebagai jawaban.


"Nama? Aku tidak tahu." jawabnya pasrah.

__ADS_1


Seketika senyum di wajah Krisna pun memudar kala itu. Ia mendapat masalah baru lagi saat ini.


"Ya sudah yang terpenting adalah kesembuhanmu saja saat ini." ujar Krisna tak ingin mengambil pusing.


"Aku beri kamu nama Dila Permata." mendengar nama yang indah wanita itu mengangguk senang. Saat ini rasanya kepalanya masih sakit dan tak mau ia buat semakin sakit dengan memikirkan semua pertanyaan yang muncul di benaknya.


Sejak hari itu akhirnya kesembuhan Dila berangsur-angsur membaik. Di kota bunga ini ia begitu senang setiap hari di waktu senggang Krisna akan membawanya berjalan keliling kota kecil itu. Kota kecil yang terkenal sebagai kota bunga begitu indah sebab banyak tempat wisata yang menawarkan berbagai macam bunga indah.


Sedangkan di ibu kota kini Bagas tampak semakin lihai mengurus kedua anaknya sembari mengurus pekerjaan. Kedua ibu dan mertuanya tak sekali pun pernah ia repotkan. Mereka hanya datang ketika merindukan sang cucu bukan karena datang atas panggilan dari Bagas.


Satu bulan sejak saat itu hingga hari ini bukan hanya sosok Alisia yang mulai terus mengusik ketenangan Bagas. Ada beberapa wanita yang terus datang bergantian menawarkan kerja sama mau pun melamar menjadi asisten pria itu untuk menjaga kedua anaknya. Hal yang berbeda tentunya. Jika biasa seorang majikan yang mencari asisten, kini tidak bagi Bagas. Para calon asisten yang berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan itu.


Seperti hari ini, sosok Denada tampak memasuki ruang kerja dari Bagas. Ia berjalan melenggang tak seperti biasa. Bahkan bisa terlihat jelas bagaimana wanita itu memakai lipstik yang sangat merah merona. Ia tersenyum menggoda melihat lirikan mata Bagas padanya.


"Silahkan duduk." ujar Bagas memberi perintah pada partner kerjanya.


Hari ini adalah hari terakhir masa kerja sama antara perusahaan mereka, namun bagi Denada ini bukanlah akhir sebab ia ingin mengajukan perpanjangan masa kerja sama.


Sebuah berkas Bagas sodorkan dengan sopan pada Denada. "Silahkan tanda tangani berkas ini, Bu Denada. Sesuai kesepakatan jika hari ini adalah hari terakhir untuk perusahaan kita kerja sama. Saya harap perusahaan kita sama-sama mendapatkan keuntungan yang sama seperti kita harapkan selama ini." tutur Bagas dengan tenang.


Berbeda dengan Denada yang justru mendorong kembali berkas itu. "Pak Bagas, saya ingin kerja sama perusahaan kita akan di perpanjang. Saya ingin terus berkerja sama dengan bapak." ujar wanita itu di iringi sekali kedipan mata.


Bagas paham arah pembicaraan dari wanita di depannya.

__ADS_1


__ADS_2