
Usai pertempuran panas setelah sekian lamanya baru merasakan lagi, Bagas benar-benar tidur dengan nyenyak. Tangan kekarnya melingkar di atas perut rata sang istri yang tampak sedikit ada stretchmark jejak kehamilan satu tahun lalu. Feli tersenyum samar melihat wajah tampan di depannya saat ini yang tengah mendengkur halus. Sungguh ia senang memiliki suami seperti Bagas sekali pun ingatannya belum pulih. Semua keluarga yang menyambut kedatangannya begitu baik dan terlihat begitu tulus. Sedih tentu saja Feli merasa sedih sebab di saat seperti ini merasa seperti orang asing yang tak tahu kemana harus melangkah dan apa yang harus ia lakukan.
Malam ini semua anggota keluarga sudah siap di meja makan dengan makan malam yang di tata rapi di atas meja. Dua anak kecil yang menggemaskan juga tengah duduk di kursi mereka masing-masing yang sudah di sediakan. Cia dan Fia sudah mulai makan makanan yang di racik oleh sang oma. Seperti biasa mereka akan ribut meminta mainan di letakkan di depan meja mereka.
"Mah, apa tidak di panggilkan saja Bagas dan Feli? ini sudah jam makan malam." ujar Iwan yang mengkhawatirkan sang anak akan kehilangan tenaga jika tidak mengisi perut mereka.
"Papah ini mau mengganggu treatment anak sendiri. Dosa tahu pah. Lihat Cia dan Fia saja paham loh sampai harus pakai baju yang baru kering biar nggak masuk ke kamar papahnya." ujar Irma menunjuk ke arah dua cucu kembarnya.
Mereka semua terkekeh mendengar ucapan Irma saat itu. Laras pun dengan sabar menyuapi cucu satunya sedangkan Irma juga turut menyuapi satu cucunya juga.
Benar saja kedua orang yang tengah mereka bicarakan di meja makan nyatanya tengah menggeliat merasakan perut mereka yang terasa perih. Samar Feli yang terlelap sebentar karena kelelahan kini membuka matanya. Di lihatnya Bagas yang ternyata sudah menuju kamar mandi. Wanita dua anak itu duduk sejenak.
__ADS_1
"Mandi bareng?" tanya Bagas dan Feli seketika menggeleng malu. Ia belum bisa menampakkan tubuh polosnya. Saat sedang berhubungan dengan sang suami bahkan ia meminta untuk menggunakan selimut sebagai pelindung tubuh polosnya.
Beruntung Bagas mau mengerti, ia pun memilih untuk mandi seorang diri. Segera setelah itu ia meminta Feli mandi dan bergegas menuju ruang makan. Serentak mereka keluar kamar dengan wajah segar dan rambut basah. Semua yang tengah menikmati makan malam terfokus ke arah Feli dan Bagas.
"Ayo makan, nak." ajak Laras pada Feli.
Wanita paruh baya itu dengan penuh perhatian mengambil piring serta mengisi makanan untuk sang anak. Feli tersenyum senang di perhatikan begitu dengan sang ibu.
Begitu pun Bagas yang di ambilkan makan oleh Feli saat itu juga. Semua pun tersenyum melihat sikap Feli yang mau melayani sang suami meski ia belum mengingat apa pun juga.
Untuk pertama kalinya dalam keluarga itu makan dengan tenang tanpa ada beban pikiran apa pun. Beban pikiran mereka selama ini adalah Feli yang pergi. Namun, Tuhan sudah begitu baik memberikan mereka kesempatan untuk menikmati kebersamaan tanpa kurang satu pun anggota keluarga.
__ADS_1
Bagas bahkan baru kali ini bisa makan dengan lahap. Ia terus mengunyah makanan dan meminta tambah oleh sang istri. Rasanya tubuhnya begitu lapar setelah puasa makan dengan lahap setahun lamanya.
"Bagas, pelan-pelan makannya, nak." ujar Irma mengingatkan sang anak.
Begitu pun dengan Feli yang entah mengapa ia begitu senang menikmati makan malam saat ini.
"Kamu lapar sekali yah, Fel?" tanya sang ibu yang melihat anaknya juga turut lahap memakan makanan di piringnya saat itu.
Mendengar pertanyaan sang ibu, sontak Feli tersenyum malu.
"Makannya enak-enak, Bu. Aku suka makanan seperti ini." ujarnya dengan jujur.
__ADS_1
Semua saling tersenyum menatap Feli. "Ibu memasak memang makanan khusus kesukaan kamu malam ini. Ini semua lah menu yang kamu suka, Nak." ujar Laras mengenang tiap kali Feli tak napsu makan saat hamil muda ia sering kali meminta sang ibu yang memasak untuknya.