Bukan Duda

Bukan Duda
Berlawanan Dengan Polisi


__ADS_3

Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Kali ini Krisna ke kantor bukan perihal pekerjaan. Melainkan mendatangi seorang hacker yang baru saja mengirimkan pesan padanya. Yah, Krisna tak mungkin begitu tega pada Dila pergi meninggalkan sang istri di saat ia sedang kambuh sakit di kepalanya jika bukan karena urusan yang sangat penting baginya.


Sebuah ruangan kerja miliknya di kantor kepolisian sudah ada seorang pria yang duduk menunggu kedatangannya. Krisna duduk setelah memastikan pintu ruang kerja miliknya tertutup rapat.


"Katakan ada hal penting apa?" tanyanya cemas.


"Ini Komandan. Beberapa akun masuk dan mencoba mensabotase data Ibu Dila. Mereka berusaha menerobos untuk bisa mendapatkan informasi Ibu." tuturnya menunjukkan temuannya pada sang atasan.


Seketika kening Krisna pun mengerut dalam penasaran siapa yang ingin mencari tahu informasi tentang istrinya. Rasanya sedikit aneh apa mungkin orang-orang kantor yang merasa penasaran? tetapi rasanya terlalu tidak mungkin bagi Krisna saat ini meski ia pun harus merasa was-was.


"Apa mereka juga anggota? Mungkin ingin menjatuhkan nama saya?" gumamnya berpikir keras siapa saat ini yang bisa di curigai. Hingga pada akhirnya suara hacker itu kembali terdengar.


"Mereka anggota dari salah satu pengusaha ternama, Komandan. Entah apa tujuannya tapi ini informasi yang sudah berhasil saya cari tahu dari keluarga mereka." satu persatu wajah yang ia dapatkan tampak Krisna cermati.


Dan lembaran ketiga setelah ibu dari Bagas ia lihat kini Krisna terbungkam seribu bahasa kala melihat siapa wajah yang ia lihat saat ini. Wajah wanita cantik yang begitu ia kenal bahkan saat ini sudah menjadi istrinya. Krisna menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin wanita yang ia nikahi beberapa waktu lalu justru adalah istri dari pria lain.


"Benar, ini adalah ibu Dila Komandan. Saya yakin inilah sebab dari semua ini. Beliau di kabarkan menghilang setahun lalu saat tragedi kapal pesiar di kota x mengalami musibah tenggelam. Hingga saat ini hanya jenazah dari Bu Dila yang tidak di temukan." Krisna menggelengkan terus kepala merasa ini hal yang sangat mustahil.


"Aku yakin ini pasti salah. Bahkan saya sendiri yang menemukan Dila dalam keadaan bersimbah darah di jalanan pada waktu itu. Bagaimana mungkin dia bisa kecelakaan di laut?" Krisna masih saja terus menolak jika Dila dan Feli adalah wanita yang sama.


Kepanikan di saat itu sungguh membuat Krisna sulit berpikir tenang. Pria itu tampak pusing dan cemas hingga satu-satunya cara adalah menjauh dari jangkauan Bagas saat ini juga. Sebelum ia memutuskan untuk pergi, Krisna sempat menduga satu hal yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Coba lihat kapan waktu mereka menelusuri tentang istri saya?" tanya Krisna kemudian dan segera pria itu memberi tahunya.


Ingatan tentang malam dimana Krisna dan Bagas menghabiskan waktu untuk minum akhirnya membuat Krisna semakin yakin jika Bagas memiliki niat terselubung dengan mendekati dirinya.


"Aku harus segera menjauh. Yah, ini tidak bisa di biarkan. Sekarang Dila sudah menjadi istriku." Mendadak jiwa egois Krisna pun keluar.


Meski dalam hati yang terdalam tentu saja ia merasa iba dengan semua cerita Bagas selama istrinya tiada. Namun, rasa takut kehilangan wanita yang ia cintai membuat Krisna tak bisa berempati pada Bagas.


Hari itu juga Krisna segera mengurus semua keperluan pindah tugas yang harus mengeluarkan banyak uang tentunya. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk membawa Dila pergi. Bahkan saat tiba di rumah pun Krisna tak lagi bertanya bagaimana sakit yang Dila rasakan. Yang jelas ia ingin sang istri segera menjauh dari jangkauan Bagas, sang suami sesungguhnya.


"Kenapa kita perginya tiba-tiba sih?" tanya Dila mengikuti sang suami yang terus mengemasi barang bawaan yang penting.


"Sudah, duduk saja di sana. Ada pekerjaan dari kantor yang mengharuskan kita pindah tempat. Sekarang biarkan aku mengemasi semuanya agar tidak ada yang tertinggal." sahut Krisna.


"Jadi kita pindah dalam waktu lama? Apa tidak bisa jika aku tetap di kota ini saja?" tanyanya dengan wajah sedih.


Mendengar itu Krisna yang sibuk mendadak terdiam. Ia mendekati tubuh sang istri dan di raihnya kedua tangan Dila.


"Kita hanya pindah sementara. Rumah ini bahkan akan tetap ada dan kita akan kembali ke sini lagi. Tugasmu adalah menjadi pendampingku. Kita tidak bisa berpisah. Maafkan pekerjaanku yang membuatmu tak nyaman berada  di satu tempat saja." Krisna berucap dengan sangat lembut. Hati Dila yang semula sedih tentu saja jadi merasa bersalah.


Ia pun tak lagi kekeuh untuk tetap tinggal di kota bunga itu. "Iya tidak masalah. Maaf aku terlalu banyak menuntut. Aku akan ikut kemana pun suamiku pergi bekerja."

__ADS_1


Mendengar ucapan sang istri, Krisna merasa sangat senang, refleks ia memeluk tubuh istrinya erat. Dan Dila hanya diam tanpa membalas pelukan sang suami.


Hari itu juga Krisna pun pergi meninggalkan kota bunga setelah surat kepindahannya mendapat persetujuan dari atasan. Sementara di hotel Bagas kini tampak bingung segala cara sudah ia lakukan demi mencari tahu sang istri namun tak kunjung membuahkan hasil. Hingga akhirnya pria itu memilih nekat datang ke rumah Krisna.


"Bagas, mau apa kamu kesana?" tanya Iwan pada sang anak.


"Pah, Bagas hanya ingin bertamu. Setidaknya Bagas harus tahu apa yang mereka lakuka. Feli sedang bersama pria lain, bagaimana mungkin aku bisa tenang, Pah?" Bagas tak perduli lagi dengan ucapan sang papah.


Ia terus melangkah dengan dua stroller anaknya yang di bawa ke dalam mobil. Sebagai ibu yang mengkhawatirkan sang anak, Irma tak bisa tinggal diam saja. Wanita paruh baya itu turut meninggalkan hotel demi mengikuti Bagas pergi.


Selama di perjalanan, tak ada pembicaraan apa pun. Bagas terus fokus menyetir mobil menuju kediaman Krisna. Hingga setibanya di kediaman yang nampak sunyi itu ia bergegas turun. Kedatangan Bagas di sambut ramah oleh penjaga pintu gerbang depan.


"Apa Pak Krisna ada?" tanya Bagas tanpa basa basi lagi.


"Oh komandan sudah pergi, Pak. Tadi siang mereka pergi pindah tugas." jawab security tersebut yang membuat Bagas langsung panik.


"Pindah tugas? Pindah kemana, Pak? Lalu Feli...eh maksud saya Dila istrinya?" terlihat jelas ketika Bagas sangat panik.


Sungguh ia takut jika sang istri di bawa semakin jauh darinya. Sumpah demi apa pun Bagas tak akan pernah rela istrinya di sentuh pria lain selain dirinya. Security yang mendengar ucapan dari Bagas pun sontak mengernyitkan kening heran. Ia merasa aneh ketika pria datang justru menanyakan perihal istri dari komandannya.


"Maksud saya apa mereka pindah berdua dari rumah ini? Jika berdua berarti Pak Krisna sangat lama." Bagas pun berusaha membuat orang tak curiga dengan kedatangannya.

__ADS_1


"Iya Pak. Kemungkinan akan sangat lama." jelasnya kembali.


Bagas benar-benar bingung kali ini. Untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan seorang polisi yang begitu banyak hal privasi, jika biasanya ia akan sangat mudah berlawanan dengan para pembisnis kali ini ia tidak bisa menganggap remeh sang musuh.


__ADS_2