Bukan Duda

Bukan Duda
Perpisaha Pertama Kali


__ADS_3

Di kota Bagas tampak murka kala mendapat kabar jika keberadaan Krisna sudah tak bisa terlacak dan terakhir mereka mendapat akses jika Krisna berada di ibu kota. Sayang setelah mengecek di titik terakhir, Krisna sudah tak berada di sana.


Kini Bagas terduduk lesu. Kemana ia harus mencari sang istri lagi. Hingga akhirnya satu ide muncul di kepala pria itu. Bagas memerintahkan seluruh anak buah untuk membuat iklan di televisi tentang pencarian sang istri yang menghilang sejak setahun lamanya.


“Bagas…apa itu sudah kamu pikirkan dengan baik? Jika benar dia Feli, bagaimana jika semua orang tahu dia adalah istri dari pria lain saat ini?” Iwan tampak memberikan nasihat pada sang anak.


Sayangnya Bagas yang tak lagi perduli dengan semua pendapat orang tampak masa bodoh. “Papah, biarkan semua ini terjadi. Aku sudah sangat lelah jika terus seperti ini. Feli istriku. Satu pun pria tidak ada yang boleh menyentuh sedikit pun. Aku benar-benar tidak akan rela itu terjadi. Biarkan dia malu sekalian.” ujarnya begitu emosi.


Iwan dan Irma hanya bisa saling pandang. Keduanya sibuk menimang cucu yang terlelap nyaman di gendongannya. Mereka begitu sangat pengertian bahkan saat sang papah sibuk mencari sang mamah, mereka tak menyusahkan sedikit pun. Hanya tidur dan tidur yang mereka lakukan.


“Lakukanlah, Nak. Jika itu menurutmu sudah benar. Mamah dan Papah pasti mendukungmu untuk membawa Feli kembali.” tutur Irma penuh keyakinan.


Mengingat bagaimana ia bertemu sang menantu pertama kalinya setelah insiden kecelakaan begitu terasa aneh. Sepasang mata milik Dila pun sekilas menatapnya dengan tatapan asing.


Detik itu juga seluruh siaran televisi bahkan beberapa baliho yang Bagas perintah pada anak buah langsung tersebar di beberapa tempat. Dan tentu saja hal itu banyak menjadi buah bibir masyarakat yang sangat kenal dengan sosok Feli.

__ADS_1


Sebagian kecil bahkan ada yang membicarakan sosok Dila istri dari seorang abdi negara.


Begitu banyak yang bersimpati pada Bagas. Bukan tak mungkin, mereka sangat tahu bagaimana Bagas selama ini merawat sang anak dengan baik bahkan begitu setia mencintai sang istri yang menghilang setahun lamanya.


Berita yang menggemparkan seisi dunia tiba-tiba saja membuat seorang dokter tersedak minuman yang ia nikmati saat ini saat menikmati waktu istirahat di ruangannya.


“Hah? Wa-wanita itu? Ini…yah ini wanita yang sama.” Wajahnya mendadak syok. Tangannya bergerak mengambil kaca mata dan mendekai layar televisi.


Sekali lagi kedua matanya menatap yakin jika wanita di televisi itu sama dengan wanita di ingatannya.


“Mereka benar-benar orang yang sama.” tuturnya begitu yakin.


“Baik, saya segera ke sana.” Bagas berbicara di seberang telepon setelah mendengar penjelasan sang dokter.


Meski sebenarnya ia lelah setelah menyebar berita itu sudah banyak sekali panggilan yang masuk ke dalam ponsel pribadi miliknya. Bahkan hal ini sangat langka terjadi. Bagas paling tidak suka ponselnya di ketahui orang luar kecuali keluarga. Tetapi demi sang istri semua ia lakukan.

__ADS_1


“Ada apa, Gas?” tanya sang mamah.


Sejenak Bagas menatap kedua anaknya. Sedih rasanya jika harus membawa tubuh mungil itu kesana kemari, hingga akhirnya Bagas tak ingin egois kali ini.


Pelan ia mendekati malaikat kecilnya yang bermain. “Mah, kali ini aku minta mamah jaga anak-anakku. Apakah tidak masalah?” Pertanyaan yang Bagas lontarkan sontak saja membuat Irma terkekeh geli.


Wanita paruh baya ith menggeleng tak percaya mendengar ucapan sang anak.


“Kamu ini bertanya apa sih? Yah tentu saja tidak masalah. Ini cucu mamah semuanya.” jawab Irma.


“Mamah dan semuanya kembali ke ibukota duluan saja. Aku harus menyelesaikan ini semua. Rasanya tidak mungkin membawa mereka.” tutur Bagas melihat sedih kedua anaknya.


Mungkin ini menjadi hal pertama kalinya mereka berpisah. Rasanya sangat berat namun Bagas tak ingin masa perkembangan sang anak menjadi terganggu karena masalah orangtuanya.


Beruntung ia memiliki mamah yang sangat pengertian.

__ADS_1


“Mamah dan papah akan pulang bersama anak-anakmu. Ingat selesaikan dengan baik jangan menyelesaikan satu masalah dengan menimbulkan satu masalah lagi.” tutur Irma memperingatkan sang anak.


Mereka pun akhirnya berpisah. Bagas pergi menuju rumah sakit tempat ia janjian dengan dokter yang baru saja menghubunginya. Sedangkan Irma pergi ke ibu kota dengan sang suami serta kedua cucunya.


__ADS_2