
Malam harinya yang syahdu kedua pasang suami istri nampak duduk bersandar di headboard ranjang. Feli yang bersandar di dada bidang sang suami tampak menikmati elusan lembut di kepalanya. Bagas sangat menyayanginya dan anak-anaknya. Sehari bekerja membuat keduanya lelah. Bagas harus memiliki kesabaran yang ekstra untuk menuntun sang istri menjadi ibu yang baik. Di pijatnya lembut tangan lentik milik Feli.
"Bagaimana dengan therapinya?" tanya Bagas memulai pembicaraan.
Feli nampak menghela napas. "Banyak hal yang terlintas di kepalaku tapi masih samar." jawabnya apa adanya.
Bagas hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri. Sebab baginya tak masalah jika saja Feli lupa ingatan dalam jangka waktu lama. Yang terpenting wanita itu masih bersamanya dan tetap bersikap layaknya seorang istri yang mencintai suaminya.
"Jika aku tidak mengingat apa pun selamanya, bagaimana?" tanya Feli kini menatap sang suami dengan raut penasarannya.
"Apa itu juga termasuk tidak akan mencintaiku?" kini Bagas justru bertanya balik pada Feli.
__ADS_1
Kecil Feli menggeleng. Dan Bagas menghela kasar napasnya.
"Aku tidak perlu ingatan itu. Berada di tengah-tengah kalian yang mencintaiku sudah membuatku yakin jika kalian adalah orang penting dalam hidupku. Bahkan tanpa mengingatnya aku sudah jatuh cinta lagi denganmu..." Feli tersenyum mengatakan kejujuran di hatinya sembari memeluk tubuh sang suami.
Bagas senang mendengar ucapan istrinya. Keduanya pun memilih untuk tidur sebab kedua anak mereka pun sudah terpejam sedari tadi.
***
Sejak saat itu Bagas dan Feli akhirnya memutuskan untuk tidak kembali menemui therapi. Sebab Feli merasa sudah nyaman dengan semua ini. Seluruh keluarganya sudah sangat lengkap. Tak ada yang perlu ia ingat jika memang tidak bisa. Ia ingin memulai semuanya dari awal.
"Kamu yakin pergi dengan supir saja, Fel? Mamah dan Ibu bisa kok temani ke kantor." ujar Irma cemas pada menantunya.
__ADS_1
Feli nampak tersenyum. "Mamah dan Ibu makasih yah sudah banyak bantu Feli. Feli bisa kok kalau tidak belajar sampai kapan bisa pergi dengan supir saja?" ujarnya terkekeh.
Akhirnya Feli pun di antar supir menuju ke kantor. Ia membawakan makan siang untuk anak dan sang suami. Cia dan Fia begitu pintar saat di perjalanan mereka tidur dengan lelap hingga tiba di kantor Bagas langsung menjemput sang istri di loby.
"Sayang..." sapanya memeluk Feli dan mencium pipi sang istri kiri dan kanan.
Pemandangan yang tak asing lagi bagi para karyawan namun tak habisnya membuat siapa pun yang melihat merasa iri.
"Mau di lihat orang." ujar Feli yang tampak memerah wajahnya.
Bagas beralih berjongkok di depan kedua anaknya yang terlelap. Di cubit gemas bibir maju sang anak lalu ia cium wajah anaknya yang sangat wangi khas anak kecil.
__ADS_1
"Papah sudah dong gangguin si kembar. Mereka itu baru tidur di jalah loh. Kita makan dulu aja baru bangunin mereka." sahut Feli menegur sang suami dengan lembut.
Bagas pun mengambil alih stroller untuk ia dorong ke ruang kerjanya melalui lift. Sementara Feli nampak menyapa beberapa pekerja yang ia lewati dan membawa makan siang mereka.