Bukan Duda

Bukan Duda
Trik Cerdik dari Bagas


__ADS_3

Bagas yang melihat dua tangan saling menggenggam begitu meremas hatinya yang sekian lama menahan sakit. Ia hanya bisa menundukkan kepala mengingat ucapan sang mamah yang meminta dirinya harus tenang sebelum tahu kebenarannya. Sejenak ia memejamkan mata. Sedangkan dari arah berlawanan, Dila justru bingung melihat ekspresi Bagas.


"Pria itu apa mengalami sakit kok aneh seperti itu?'' tanyanya pada sang suami dengan berbisik.


Krisna pun balas berbisik. "Nanti kita cerita di rumah saja. Yang jelas aku tidak tahu kebenarannya sebab hanya mendengar dari cerita orang saja." tuturnya.


Singkat cerita hari itu pun terlewati dengan perasaan yang tidak mengenakkan sama sekali. Bagas kini berat rasanya untuk meninggalak lokasi acar, namun sekali lagi semua berkat mendengar ucapan sang mamah ia hanya bisa patuh. Irma memintanya untuk ikut beristirahat di hotel dan memikirkan semua yang harus di lakukan.


"Ingat Fia dan Cia yah? Kita pikirkan ini semua bersama-sama. Papah juga pasti akan bantu." Bagas mengangguk pasrah mendengar ucapan sang mamah.


"Iya, Bagas. Papah akan bantu sebisa mungkin. Ini sepertinya benar-benar hal yang tidak mungkin jika benar hanya kebetulan. Maka sebaiknya kita segera berpikir di hotel." Dengan semangat Bagas mendorong stroller anaknya setelah mendengar ucapan sang papah.


Berbeda halnya dengan Dila yang duduk di mobil bersama suaminya di kawal beberapa ajudan. Mereka saling bercerita tentang keanehan Bagas.


"Katanya yang saya dengar Pak Bagas itu di tinggal istrinya meninggal. Sepertinya belum lama tetapi ia begitu mengharapkan istrinya hidup sampai saat ini sebab jasadnya masih belum di ketahui." tutur Krisna akhirnya menceritakan di dalam mobil sebab Dila begitu penasaran dengan yang terjadi sebenarnya.


"Lalu anak kecil dua itu?" tanyanya lagi dengan wajah antusias.


Krisna menatap dalam kedua mata Dila. Entah merasa aneh rasanya ketika mereka berdua banyak bercerita sebab jika biasanya Krisna lah yang lebih aktif berbicara dari pada Dila.


"Apa kau tertarik dengan pria itu?" sentak Krisna merasa cemburu buta dengan sang istri. Bagaimana pun ketakutan akan kehilangan Dila masih jelas menghantui pikiran pria itu sampai detik ini meski pun mereka telah menikah.

__ADS_1


"Tertarik? tidak. Aku kan hanya penasaran, kasihan sekali lihat wajahnya begitu sedih sekarang aku paham mengapa dia menatap ku seperti itu." tuturnya mengerti keadaan Bagas yang sesungguhnya tanpa ia tahu apa yang membuat Bagas begitu nanar menatap wajah cantiknya.


"Kedua anak kecil itu adalah anak Pak Bagas dengan istrinya. Bahkan sampai saat ini beliau merawat anaknya sendiri tanpa baby siter." Makin tercengang rasanya Dila mendengar penuturan sang anak.


Ia tak bisa membayangkan merawat dua anak sekaligus dengan usia yang sama tanpa bantuan orang lain. Rasanya begitu mustahil bahkan Bagas sampai harus membagi waktu dengan pekerjaan utamanya sebagai seorang ayah yang harus mencari nafkah.


"Keren yah..." ujarnya dengan polos mengagumi sosok Bagas. Dila tidak sadar jika kata-kata itu justru membuat sang suami cemburu. Krisna enggan menunjukkan kecemburuan di depan sang istri. Ia tidak ingin semua sikapnya justru membuat Dila tak nyaman. Sadar jika wanita yang menjadi istrinya belumlah sepenuhnya memberikan cinta yang utuh untuk Krisna.


Tanpa mereka sadari di hotel, kini Bagas baru bisa menjatuhkan air mata setelah memeluk kedua anaknya yang terlelap di tempat tidur. Kesedihan Bagas yang di saksikan dengan kedua orangtuanya. Irma dan Iwan saling memandang sedih.


"Kita akan cari tahu siapa wanita itu dan pria itu. Tenanglah, Papah akan kerahkan semua anak buah papah sekarang juga." Iwan menepuk pelan pundak sang anak yang rapuh.


Jelas ia tahu jika Bagas saat ini tengah sulit untuk berpikir tenang lagi.


Pikiran malam akan segera tiba membuatnya tiba-tiba merasa tak tenang. Hingga Iwan dengan susah payah menahan tubuh sang anak lalu mengunci pintu kamar hotel itu.


"Bagas, tenang dulu. Apa yang mau kau lakukan dengan hal seperti itu? Ingat mereka sudah menikah statusnya. Kita tidak bisa menang jika benar ternyata wanita itu adalah istrinya. Biarkan Papah cari tahu dulu. Sekarang kita harus fokus dengan identitasnya lebih dulu. Jangan gegabah, pikirkan anak-anakmu. Sudah cukup mereka kehilangan mamahnya jangan papahnya lagi." Bagas pun terduduk di kasur dengan perasaan yang begitu kacau rasanya.


Setelah berkata demikian, akhirnya Iwan segera menghubungi seluruh anak buahnya untuk bisa mencari tahu siapa sesungguhnya istri dari Krisna Mahesa.


Hinga malam tiba satu pun dari mereka tak kunjung memberikan hasil temuan mereka. Sebab semua identitas Dila begitu rapat tertutup dengan semua kedudukan dari Krisna. Pria itu diam-diam sengaja mengurus demi mengamankan sang istri dari serangan musuh sekali gus masa lalu yang ia sendiri belum mencari tahu sebenarnya.

__ADS_1


Bagas tak bisa tenang, beberapa kali ia berusaha untuk mengecek ponsel bahkan bertanya pada sang papah yang juga berada di ruang itu demi menjaga anaknya yang sedang labil.


"Bagaimana, Pah?" tanya Bagas kemudian.


"Belum ada, tunggulah sampai besok pagi." ujar Iwan.


Sayangnya malam yang di takutkan Bagas kini sudah tiba. Dimana langit yang mulai gelap menjadi pertanda suami istri akan beristirahat di dalam kamar dan bayangan akan sentuhan Krisna pada sang istri sangat mengacaukan pikiran Bagas.


"Pah aku harus keluar." ujarnya ingin membuka pintu namun lagi-lagi sang papah mencegahnya.


"Aku janji tidak akan macam-macam, Pah. Biarkan aku mencari hiburan dengan Krisna di club sampai ada kabar tentang Feli. Setidaknya aku harus menahan mereka malam ini tidak satu kamar." Mendengar ide dari sang anak akhirnya Iwan pun mengijinkan sang anak keluar dari hotel dengan syarat bisa mengontrol keadaan emosi dan Bagas pun mengiyakan saja ucapan permintaan sang papah.


Toh ia sendiri memang hanya itu tujuannya bertemu Krisna. Malam tepat jam sembilan pria itu menelpon Krisna yang baru saja hendak mendaratkan tubuh di atas kasur usai mengganti piyama tidurnya.


"Siapa sih telepon malam-malam begini?" ujarnya bertanya dalam hati sebab tak ingin menimbulkan keributan dimana yang akan membangunkan sosok Dila.


"Halo komandan..." sapaan dari seberang telepon sontak di sambut hangat oleh Krisna. Ia melihat nama kontak yang sudah ia simpan sebelumnya.


"Pak Bagas, ada yang bisa saya bantu malam-malam begini menghubungi saya?" tanya Krisna ramah meski sebenarnya sedikit heran rasanya.


"Saya tidak sedang meminta bantuan. Hanya saja sesuai ucapan saya siang tadi untuk mengundang komandan Krisna hadir di sini." tutur Bagas berusaha baik-baik saja meski rasanya hatinya begitu kacau.

__ADS_1


Mendengar undangan dari seorang pengusaha, Krisna sadar tak memiliki alasan untuk menolak. Dengan senang hati pria itu mengiyakan dan bersiap meninggalkan sang istri.


"Dila sudah tidur lagi." ujar Krisna melihat sang istri terpejam di atas kasur. Pelan ia mendekati Dila dan mencium keningnya kemudian. Pamitan yang bisa di lakukan hanyalah mencium kening sang istri lalu pria itu pun pergi dari rumah menuju tempat yang sudah di sebutkan oleh Bagas.


__ADS_2