
Melihat wajah gugup sang istri tentu saja Krisna penasaran kala pintu terbuka dari dalam. Beberapa menit berada di kamar, ia pikir Dila sudah mandi. Nyatanya wanita itu masih saja dalam keadaan belum mandi. Dan kini justru wajah cantik itu nampak begitu pucat sekali. Dila melangkah pergi menuju kamar mandi tanpa berkata apa pun dengan suaminya.
"Dila!" panggilnya menghentikan langkah kaki wanita itu.
Dila berdiri tegap tanpa membalik tubuhnya menghadap sang suami. "Iya?" tanyanya.
Lama Krisna menatap sang istri tanpa mengatakan apa pun. Hingga di detik berikutnya ia pun menggeleng. "Tidak, pergilah mandi." tuturnya pada istrinya.
Dan saat Dila bergegas mandi, tiba-tiba saja Krisna mendapatkan panggilan telepon dari seseorang yang sukses membuat dadanya berdebar kencang.
"Komandan Digo? Ada apa ini?" tanyanya lirih.
Menoleh sejenak ke arah kamar mandi, Krisna segera melangkah menjauh. Ia mengangkat panggilan telepon sesegera mungkin dan tak ada kata yang sempat ia ucapkan.
"Krisna! Kembali ke kantor saat ini juga. Jika tidak akan ada jemputan paksa untukmu." sebuah perintah yang membuat Krisna terdiam membisu. Panggilan itu pun sudah terputuskan dalam sekejap. Jelas Krisna merasa ini adalah masalah tentang istrinya, sebab tak ada masalah apa pun yang ia lakukan selama ini.
__ADS_1
Dila yang baru saja berganti pakaian terpaksa harus kembali di bawa ke ibu kota. Bukan ke kota bunga tempat mereka tinggal sebab panggilan pada Krisna berasal dari ibu kota. Keduanya segera menaiki helikopter saat itu juga dan menuju bandara untuk terbang ke ibu kota.
Selama perjalanan bahkan Krisna mau pun Dila tak ada yang berbicara. Selama perjalanan Dila terus berpikir apa yang terjadi sebenarnya. Ia hanya bisa mengingat tentang masa di mana ia bertemu sang suami saat pertama kali membuka matanya. Pelan ia melirik wajah pria tampan di sampingnya kini. Pria yang beberapa waktu terus berada di sisinya begitu sangat baik. Namun, entah mengapa merasa di bohogioi, Dila tak lagi bisa mengagumi pria ini.
"Mengapa?" tanyanya lirih.
Krisna menoleh mendengar pertanyaan dari sang istri. Ia tahu kemana arah pembicaraan mereka saat ini. Sontak Krisna pun menghadap pada tubuh istrinya. Ia menggenggam tangan Dila erat.
"Aku mencintaimu...aku tahu apa yang sudah kau ketahui, Dila. Tapi satu hal yang perlu kau ingat. Ini semua aku laukan dalam batas wajar. Bahkan kewajibanmu sebagai seorang istri masih tak aku minta. Itu karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak tahu kapan waktu itu tiba. Semua terjadi dengan begitu saja. Sungguh sedikit pun aku tidak ada niat jahat padamu. Aku minta maaf, aku tahu saat ini mungkin ada hal yang sudah kau ketahui di belakangku."
Benar apa yang di ucapkan oleh Krisna barusan. Entah dasar apa ia merasa sang istri tengah mengetahui sesuatu. Ia pun tak lagi bisa berkata apa-apa saat ini. Tanpa di sadari air mata di kedua mata indah milik Dila menetes begitu saja. Bukan tak bisa berterimakasih, namun rasanya menjauhi Krisna karena hal masa lalu membuatnya tak tega. Selama bersama hidup sekali pun Krisna berlaku jahat padanya tak pernah.
"Dila, seharusnya aku yang minta maaf. Semua ini karena keegoisanku. Aku bukan pria yang baik yang berhak mendapatkan maaf darimu apa lagi cinta. Maafkan aku telah banyak berbohong, tapi sumpah demi apa pun aku tidak ada niat dari awal melakukan ini. Aku tahu semuanya setelah di pertengahan. Kalau ternyata wanita yang aku cintai dan nikahi adalah istri pria lain bahkan telah memiliki dua anak kembar."
Dila terperangah kaget mendengar ucapan sang suami. Bagaimana mungkin yang di dengarnya saat ini adalah sebuah kenyataan. Rasanya seperti kebohongan besar.
__ADS_1
"Istri pria lain? Ibu dua anak? Aku bukan wanita yang sama dengan Feli Anggita, kan?" Seketika kesadaran Dila teringat pada sosok wanita yang mirip dengannya.
Entah rasanya begitu sulit percaya jika dirinya adalah ibu dari dua anak. Namun, kembali pada sebuah kenyataan yang tak pernah bisa ia tutupi. Di perut ada bekas tanda operasi caesar dan kini adalah jawaban yang ia terus nantikan.
Pelan Dila memegang perutnya yang tertanda bekas sayatan terjahit. Meski belum bisa mengingat apa pun hatinya begitu sedih. Jika benar yang di ucapkan oleh Krisna saat ini, tapi mengapa ia tidak bisa merespon apa pun saat melihat kedua anaknya berada di depan mata saat acara itu?
"Dila, maafkan aku. Aku begitu mencintaimu dengan tulus." ujar Krisna kembali lagi memohon berharap dengan kejujuran hati Dila bisa luluh padanya.
Dila pelan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu harus apa saat ini. Satu pun orang tidak ada yang bisa aku ingat." tuturnya dengan nada bicara yang sedih.
Di perjalanan selama kurang lebih setengah jam mereka tampak terus berbicara dari hati ke hati. Bahkan kesedihan Krisna semakin besar saat tangannya tak lagi bisa menyentuh tangan sang istri. Dila benar-benar menjaga jarak darinya saat ini.
Sementara di ibukota seluruh keluarga dari Feli sudah berada di ruang kepolisian untuk menunggu kedatangan sang anak. Laras dan Dimas sama-sama berpelukan menangis haru mengetahui jika anak mereka masih ada. Sedangkan Bagas tampak duduk menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun siap meledak. Bayangan satu tahu hidup begitu kacau tanpa tahu jika sang istri masih ada rasanya sangat menyakitkan ketika sang istri justru di ketahui sudah menikah dengan pria lain.
Dalam hatinya begitu sakit, bayangan ketika ingatan semua Feli hilang tanpa tersisa satu pun untuknya atau kedua anak mereka.
__ADS_1
"Apa cinta kita begitu leemah hingga tidak bisa mengisi ingatanmu yang kosong itu, Feli? Sampai kapan pun aku tidak akan bisa memaafkan pria itu jika sampai dia menyentuhmu." gumam dalam hati Bagas.
Kecemburuannya saat ini sedang dalam mode penuh.