
Pagi harinya Krisna terbangun dari tidur, samar ia melihat tempat tidur di sebelah sudah tampak kosong. Tangannya bergerak mencari sang istri ternyata benar Dila sudak tak ada di sana. Entah kemana wanita itu di pagi buta seperti ini. Segera ia pun bangun dari tempat tidur lalu beranjak menuju kamar mandi membersihkan wajah.
"Dimana dia?" tanyanya pada diri sendiri sembari terus melangkah keluar. Beberapa pelayan nampak sibuk di meja makan untuk menyiapkan sarapan. Krisna melihat ada salah satu pelayan yang mendekatinya.
"Tuan butuh sesuatu?" tanya pelayan itu.
"Dimana Dila, Bi?" tanyanya.
Dan ternyata pelayan mengatakan jika istri dari pria itu sedang melakukan olahraga pagi di sekeliling perumahan mereka dengan di kawal beberapa ajudan. Mendengar itu Krisna segera berlari bersiap untuk menyusul sang istri. Ia tak perduli bagaimana kepalanya sangat pusing saat ini sisa kemarin. Yang terpenting Dila harus ia lindungi dengan dirinya sendiri.
Hal yang berbeda terjadi di hotel. Pagi itu adalah jadwal Bagas untuk kembali ke ibu kota bersama keluarganya. Namun, jadwal terpaksa ia batalkan sebab bertemu dengan wanita yang ia cari selama ini.
__ADS_1
"Ini pasti ada yang tidak beres, Pah. Tidak mungkin ia melindungi identitas istrinya sampai seperti itu jika bukan karena ada apa-apanya. Bohong jika ini menyangkut hanya keselamatan istrinya. Sekarang aku semakin yakin jika wanita itu adalah Feli ku. Hatiku tidak bisa di bohongi, Pah. Dia adalah istriku." Bagas begitu naik pitam kala mendengar ucapan sang papah yang mengatakan tak bisa menemukan apa pun tentang Dila sejak kemarin malam.
Iwan sampai menggelengkan kepala bingung harus berkata apa saat ini. Ia sendiri juga bisa merasakan apa yang anaknya rasakan saat ini. Dila dan Feli benar-benar orang yang sama meski nyatanya saat ini wanita itu tak kenal sama sekali dengan mereka.
"Tapi apa yang terjadi dengan Feli? Kenapa dia bahkan tidak bicara apa pun dengan mu, Gas?" Irma turut angkat suara saat ini.
Bagas pun menggelengkan kepala lirih tak mengerti dengan semua ini. "Aku harus bisa bertemu berdua saja dengannya, Mah. Aku harus bicara padanya." tutur Bagas.
"Kepalaku! sakit!" Dila terus saja berteriak sembari memegangi kepalanya.
Ia tidak bisa menahan lagi hingga akhirnya jatuh dan di papah oleh ajudan perempuan. Mereka kembali menuju ke rumah.
__ADS_1
"Dila? Apa yang terjadi?" Krisna menahan mereka semua dan mengambil alih tubuh sang istri yang sudah tidak sadar.
Kepanikan pun mulai Krisna rasakan saat laporan yang ia dengar jika Dila merasakan sakit di kepalanya. Bayangan akan kehilangan Dila sangat membuatnya begitu takut.
"Dila tidak boleh sakit terus seperti ini, apa jangan-jangan dia melihat bayangan masa lalu?" Krisna hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
Pada akhirnya hari itu ia merawat Dila dengan baik hingga siang harinya Krisna harus pergi ke kantor untuk mengurus pekerjaan. Dila hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa bisa bangun. Pusing masih terasa begitu jelas di kepalanya.
"Sayang, aku harus ke kantor dulu. Kamu di rawat sama mereka sebentar yah? Setelah selesai aku akan segera pulang." Krisna berpamitan pada istrinya seraya mencium kening milik Dila.
Dila hanya tersenyum mengangguk. Ia tahu menjadi istri abdi negara tidaklah mudah dan ia harus siap di tinggal kapan pun ada panggilan.
__ADS_1