Bukan Duda

Bukan Duda
Tamat


__ADS_3

Malam itu di kediaman Bagas, semua tampak menikmati makan yang sudah di sediakan oleh Feli. Mereka makan besar untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan  Bagas dan Feli. Tak hentinya Bagas memuji masakan yang sudah lama ia tak makan. Yah, Feli terkadang memang sering memasak untuknya sebelum insiden saat itu. Dan ini untuk pertama kalinya ia kembali memasak dan menyediakan semua makanan yang Bagas suka.


"Huh aku bersyukur, Mah. Awalnya ku pikir akan sulit mendapatkan hati ibu bayangkari ini lagi? Ternyata..."


"Sayang, kenapa gitu sih manggilnya? Aku nggak suka tahu." Feli kesal ketika suaminya mengingatkan dirinya yang pernah menjadi istri dari seorang abdi negara. Dimana ia memiliki gelar Nyonya.


Semua terkekeh mendengar ucapan Bagas yang memang sengaja mengejek sang sang istri.


Mereka nampak bercerita dengan bahagianya hingga acara pun berakhir dan di sinilah Feli, Bagas serta kedua anaknya. Mereka memilih istirahat di kamar bersama. Bagas menatap teduh wajah cantik sang istri. Feli pun demikian lalu kemudian keduanya tertawa bersama.


"Terkadang apa yang mereka lihat menyenangkan belum tentu mereka mau yah, Sayang ketika di tawarkan saat melihat prosesnya?" ujar Feli.

__ADS_1


Kening Bagas berkerut. "Maksudnya?" tanya Bagas tak mengerti.


"Hidup dengan suami tampan sepertimu, memiliki dua anak kembar yang lucu dan punya keluarga yang begitu baik. Ketika aku cerita dengan temanku mungkin mereka akan tergiur. Tapi pasti mereka tidak mau jika berada di posisiku yang harus mengalami kecelakaan itu." ujar Feli.


Ia merasa hidupnya memang akan sangat sempurna di mata orang yang melihat kehidupan mereka dari luar. Dan Bagas pun sama dengannya.


"Itu bukan berlaku hanya denganmu, Fel. Bahkan aku pun demikian. Memiliki istri yang cantik, anak kembar, semua ada. Tapi apa mereka mau melewati jika seandainya kehilangan istrinya dan justru istrinya menikah dengan pria lain? Aku rasa tidak ada yang mau seperti itu."


Keduanya pun kembali saling pandang.


***

__ADS_1


"Cia, Fia, mau kemana kalian!" Suara bariton sang papah yang terdengar menggema pagi itu membuat kedua anaknya nekat melajukan motor dengan seragam sekolah putih abu-abu mereka.


"Fia, lajukan motornya. Papah dengar." kedua remaja itu lolos dari tangkapan sang papah yang ingin mengejar dari pintu utama menuju gerbang rumah.


Dari dalam Feli tertawa terbahak-bahak mendengar sang suami yang mengejar namun tak bisa menangkan dua anak mereka. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, dimana Fia dan Cia sudah menduduki sekolah menengah atas. Keduanya begitu sangat nakal dan suka mengerjai papah mereka.


"Papah, sudah dong. Mereka sudah tahu hati-hati kok. Lagi pula mau sampai kapan papah selalu jadi supir mereka?" tegur Feli yang memeluk suaminya di depan rumah.


Mereka sangat harmonis pagi itu. Bagas yang ingin marah terpaksa hanya menghela napasnya kasar. Jika begini posisi mereka yang saling memeluk dan memandang, sudah pasti pria itu tak sanggup lagi mempertahankan amarahnya.


"Yasudah, ayo kalau begitu kita buat dedek buat mereka lagi." Feli tertawa nyaring kala tubuhnya di angkat sang suami pagi-pagi ke dalam kamar dan harus kembali keramas hari ini. Padahal rambutnya belum saja kering saat itu.

__ADS_1


Berbahagialah keduanya setelah penantian lama yang membuat mereka terpisah. Dan sekarang Bagas tak akan membiarkan sang istri pergi kemana pun. Ia akan menjadi suami yang paling posesif pada Feli.


TAMAT


__ADS_2