
Sudah lima bulan lamanya mereka bersama sejak Feli lupa ingatan. Dan hari ini adalah hari dimana Bagas berulang tahu. Sejak pagi Feli tak bangun-bangun dari tidurnya. Matanya terpejam dan wajahnya nampak kusut, Bagas yang melihat keanehan sang istri nampak mengerutkan kening heran.
“Mah, ada apa? Sakit? Tapi badan kamu tidak demam.” ujar Bagas usai memeriksa kening istrinya.
“Kepalaku pusing, Pah. Sepertinya aku kecapean.”
Baga mengerti dengan keadaan Feli yang masih sedikit lemah di tambah harus melayani dirinya serta kedua anaknya, tentu bisa membuatnya dengan mudah jatuh sakit. Sama sekali ia tidak mempermasalahkan. Dengan pengertian Bagas pun memutuskan untuk menuju kantor hari ini dengan membawa kedua anaknya.
Sebab baginya mengurus Fia dan Cia bukan lagi hal sulit. Ia sudah terbiasa dengan kegiatan aktif sang anak.
Apalagi saat ini kedua anaknya sudah pandai berjalan semua, itu akan sangat membantu Bagas.
“Baiklah. Sebaiknya istirahat saja di rumah. Aku akan membawa Fia dan Cia ke perusahaan. Tapi, jangan melakukan apa pun di rumah. Aku akan pulang dengan segera.” tutur Bagas.
Sejujurnya Feli merasa tak enak hati, namun ini semua demi sesuatu yang harus ia kerjakan.
“Maafkan aku, Pah. Aku terus-menerus membuatmu repot.” tuturnya dengan rasa bersalah.
__ADS_1
“Tidak ada yang repot. Mereka adalah anak kita.” ujar Bagas mencium kening sang istri.
Pagi itu ia pun pergi dengan kedua anaknya ke perusahaan. Sedangkan Feli yang sudah mendapat kode sang pelayan jika suaminya telah pergi sontak melempar selimut dan loncat dari tempat tidur.
“Aduh, Nyonya. Pelan-pelan. Saya ngilu lihatnya.” Sang pelayan takut jika terjadi sesuatu kembali pada kepala Feli yang ternyata sudah pulih seratus persen obatnya.
“Ayo, Bi. Cepat kita ke pasar dan belanja semuanya. Pokonya anniversarry pernikahan kami harus paling baik.” Dengan semangatnya wanita itu bergegas membersihkan wajah dan mandi.
Feli memang tengah membohongi sang suami dengan mengatakan tak enak badan. Dengan begitu ia akan leluasa menyiapkan semua hal yang ingin ia buat menyambut kepulangan sang suami.
Dan satu hari telah di kerjakan semua dengan bantuan mamah dan ibunya, Feli sukses menyelesaikan semua tepat pada pukul empat sore. Dimana sang suami akan pulang bersama kedua anaknya.
Kening Bagas mengerut dalam. Melihat pintu rumah yang tertutup rapat dan bahkan mobil orangtuanya pun tak ada. Hanya mobil sang istri yang berada di garasi.
“Kok rumah sepi yah, Sayang?” tanya Bagas heran.
Kedua anaknya yang gelisah minta turun membuat Bagas enggan berpikir dan memilih melangkah membuka pintu rumah. Ternyata pintu tak terkunci, dan terdengarlah suara sorak heboh di ruang tamu itu.
__ADS_1
“Happy anniversay suamiku…” Feli berjalan dari arah depan membawa satu cake yang di beri lilih.
Bagas senang sekali, setidaknya Felinya tak berubah sama sekali. “Terimakasih, Fel.” tuturnya lembut mencium kening sang istri. Keduanya meniup lilin itu bersamaan.
Anak-anak mereka juga tampak antusias melihat lilin yang menyala.
“Nah ini buat Fia dan Cia. Ayo tiup seperti mamah dan papah.” pintah sang oma.
Bocah kecil itu meniup dengan bibir yang ikut maju. Namun, tak mampu membuat lilin padam.
“Happy anniversary suamikua. Di ulangtahun pernikahan kita ini aku sudah menjadi istri yang kau inginkan sepenuhnya. Sebab…” kening Bagas mengerut menantikan ucapan sang istri.
“Sebab apa, Fel?” tanyanya tak sabaran.
Feli dan yang lain tersenyum-senyum melihat Bagas yang antusias.
“Aku sudah bisa mengingat semuanya.” tutur Feli. Dan itu membuat Bagas segera memeluk sang istri erat.
__ADS_1