
"Selamat ulang tahun anak Papah, Mamah. Cia dan Fia sekarang sudah satu tahun, Nak. Terimakasih yah kalian berdua sudah menemani Papah sampai saat ini. Kalian semangat Papah untuk menunggu Mamah kalian pulang." ucapan serta tiup lilin yang Bagas lakukan benar-benar sangat memilukan bagi semua mata yang memandang mereka bertiga.
Kedua orangtua Bagas serta kedua orang tua Feli semua turut hadir merayakan ulangtahun cucu mereka untuk pertama kalinya. Bagas di depan sana mencium kedua wajah sang anak penuh dengan rasa sayang. Suasana mala itu begitu terasa sedih kala air mata yang lama tak mereka semua lihat kembali Bagas jatuhkan lantaran tak kuasa menahan sesak di dadanya.
Hal yang paling menyakitkan baginya adalah tidak bisa memeluk tubuh sang istri untuk terakhir kalinya. Pergi tanpa bisa ia lihat jenazahnya sungguh membuat Bagas sampai detik iniĀ tak percaya jika sang istri telah pergi. Pikirannya terus menolak jika ia tengah seorang diri mengurus kedua anaknya. Meski terkadang alam bawah sadarnya membenarkan kepergian sang istri yang sudah setahun lamanya.
Melihat sang menantu yang begitu rapuh Laras pun sebagai ibu dari Feli melangkah mendekati Bagas. Ia meneteskan air mata lalu menghapusnya cepat. Laras memeluk Bagas erat yang tengah terisak di depannya.
"Lupakan Feli, Gas. Lupakan Feli, dia sudah tenang di sana, Nak. Demi Fia dan Cia kamu harus kuat. Kamu pasti bisa Bagas, ibu mohon kuatlah demi cucu ibu." Laras bisa melihat kerapuhan yang teramat sangat Bagas rasakan saat ini.
Bahkan pria itu jarang sekali berinteraksi dengan orang termasuk dengan keluarganya semenjak kepergian sang istri. Jika biasanya ia adalah pria yang sangat hangat jika bersama keluarga berkumpul. Namun, kepergian Feli benar-benar telah merubah semuanya.
__ADS_1
"Lupakan Feli melangkahkah ke depan bersama Fia dan Cia. Mereka harus bisa mendapatkan kebahagiaan mereka bersama papahnya dan calon mamahnya. Ayo Bagas kuatkan dirimu, ibu mohon biarkan Feli tenang dengan kepergiannya. Sudah saatnya kamu membuka hatimu demi anak-anakmu. Ibu dan ayah ikhlas untuk melihat kamu bahagia bersama wanita lain yang pantas mendapatkan pria sebaik kamu, Gas."
Semua ikut terisak melihat kepergian Bagas saat itu menuju kamarnya. Ia membawa kedua anaknya masuk ke dalam kamar. Seperti biasa Bagas tak akan pernah mau jika dirinya di minta untuk melupakan Feli. Sudah cukup dengan dirinya yang merawat kedua anak dengan sangat baik. Tidak, Bagas tidak akan bisa jika di minta untuk melupakan sang istri dan mengganti dengan wanita lain.
Kepergian Bagas membuat dua keluarga itu begitu sedih. Mereka duduk sejenak untuk saling berbincang. Laras diam saja melihat aksi Bagas yang sangat menolak ucapannya.
"Mungkin waktu setahun masih terlalu cepat untuk Bagas melupakan Feli, Bu. Kita harus beri dia waktu untuk memikirkan semuanya sendiri. Yang terpenting saat ini kita akan terus memberikan dukungan kekuatan untuk Bagas. Jika tidak, kasihan Cia dan Fia yang akan menjadi korbannya." ujar sang suami dan Laras pun mengangguk paham mendengar hal itu.
Tak di sangka jika di kota kecil wanita yang bernama Dila Permata telah sah di persunting oleh seorang perwira polisi bernama Krisna Mahesa. Keduanya sudah sah menjadi suami istri setelah beberapa bulan pernyataan dari Krisna terus mendapatkan penolakan akhirnya Dila mau menerima lamaran pria yang baru ia kenal setahun belakangan ini.
Hanya senyum yang bisa Dila berikan, dalam hati terdalam ada perasaan yang aneh ia rasakan. Lupa dengan semuanya bahkan dengan nama sendiri membuatnya tidak tahu harus melakukan apa selain menerima kebaikan pria yang saat ini sudah menjadi suaminya. Krisna begitu sangat baik pada Dila bahkan ia dengan sabar terus merawat Dila yang sering kali kambuh sakit di kepalanya.
__ADS_1
Sepenting apa pun pekerjaan ia terus selalu mengutamakan Dila, meski di awal hanya berniat untuk menolong saja hingga akirnya timbul perasaan kagum akan kelembutan dari wanita yang ia tolong ini. Cinta yang tak sadar kapan muncul membuat sosok Krisna berani mengutarakan niatnya untuk menikahi Dila. Semangatnya tak pernah pudar setiap kali Dila berusaha menghindar.
Malam pertama yang paling di takutkan Dila kini akhirnya tiba juga. Tubuhnya yang menggigil gemetar sebab belum siap jelas Krisna. Wajah cantik yang pucat memunculkan rasa iba di diri Krisna. Pelan ia raih tangan Dila. Dingin sekali rasanya.
"Aku tahu kau belum siap. Itu tidak masalah. Aku meminta menikah dalam waktu dekat bukan semata karena hal itu." Kening Dila berkerut dalam mendengarnya. Jika bukan karena kewajiban sebagai seorang istri lalu apa yang membuat Krisna ingin segera menikahinya, pikir Dila.
"Lalu karena apa?" tanya Dila begitu penasaran.
Krisna pun menatap dalam kedua mata Dila. "Karena aku takut kamu pergi meninggalkan ku setelah ingatanmu kembali yang aku sendiri tidak tahu bagaimana itu?" Aku sudah terlanjur jatuh hati padamu dan ingin memilikimu, Dila. Maaf jika aku terkesan egois, tapi inilah aku." ujar Krisna dengan penuh ketegasan meski dengan kata-kata yang ia buat selembut mungkin.
"Sekarang tidurlah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku lebih dulu di ruang kerja." ujar Krisna beranjak dari duduknya. Tangannya mengusap pelan kepala sang istri lalu di kecupnya kening Dila dengan dalam.
__ADS_1
"Dila, statusmu tidak selamanya bisa di sembunyikan dari keramaian. Kau adalah istr seorang perwira, itu sebabnya ada saatnya aku harus membawamu ke depan umum." Krisna pun ingat jika dalam beberapa minggu ke depan ia harus menghadiri acara yang di selenggarakan orang-orang besar. Sebagai perwira tentu saja statusnya yang sudah menikah akan membawa nama sang istri ikut bergabung dengan orang banyak di luar sana termasuk para istri rekan kerjanya sebagai abdi negara.
Mendengar itu Dila hanya diam, entah apa yang harus ia lakukan selain mengikuti ucapan sang suami. Jujur saja dirinya merasa tak memiliki percaya diri yang tinggi untuk bisa tampil di depan banyak orang. Dila begitu menjadi wanita yang sangat pemalu.