Bukan Duda

Bukan Duda
Mengurus Anak Berdua


__ADS_3

Waktu yang di tunggu akhirnya tiba juga. Feli datang dengan kedua wanita yang mendampinginya. Di lihat sang suami yang kini justru bukan sibuk bekerja. Melainkan asik bermain dengan kedua anaknya. Bagas sulit fokus bekerja, entah mengapa hatinya masih terlalu senang hingga tak bisa tenang dalam bekerja. Kebersamaannya kembali dengan Feli terasa begitu menyenangkan. Dan itu bisa mereka lihat dari cara Bagas tertawa menjahili sang anak.


Cia dan Fia terus berteriak saat mainan yang mereka pegang tiba-tiba di ambil paksa oleh sang papah. Suasana yang sangat menggemaskan di lihat. Feli bahkan ikut tersenyum menikmati pemandangan indah itu.


“Bagas benar-benar jahil yah, Mah?” ujarnya pada Irma.


Mendengar hal itu Irma hanya mengangguk. Ingatannya kembali lagi selama satu tahun belakangan ini. “Ini semua karena kamu, Feli. Sejak kamu menghilang Bagas hanya memberikan kasih sayang pada anak-anaknya tanpa ada keceriaan di wajahnya. Mamah sangat tahu bagaimana selama ini ia menahan diri untuk harus kuat menjaga Cia dan Fia. Mamah bersyukur kamu bisa kembali dengan membawa keceriaan di wajah anak mamah yang sempat hilang.”


Feli menatap dalam pemandangan di depannya. Tak lama kemudian ia pun bergabung bersama sang suami.


“Papah, jangan jahili Cia dan Fia dong.” ujarnya mengambil paksa mainan di tangan sang suami.


Melihat itu kedua anaknya serentak bertepuk tangan senang. Mereka senang sebab mendapatkan pembelaan dari sang mamah.


“Kalau begitu karena mamah yang ambil paksa, mamah harus terima hukumannya.” Bagas berseru sembari menggelitik tubuh istrinya.


Feli berteriak minta tolong ia kegelian dengan gelitikan sang suami di pinggang. Bukannya menolong, semua justru tertawa melihat sang mamah yang berguling-guling di pangkuan sang papah.

__ADS_1


“Ma…ma…pa…pah.” Suara dari Cia yang sedang belajar bicara. Hanya kata itu saja yang bisa ia ucapkan.


Irma dan Laras menggelengkan kepala melihat ruangan di depan mereka bukan lagi seperti ruang kerja. Melainkan ruang bermain lebih tepatnya.


“Akhirnya mereka bahagia juga.” tutur Laras senang.


Setelah memastikan semua baik-baik saja, keduanya berpamitan pulang. Meninggalkan Feli yang akan menjaga kedua anaknya di temani oleh Bagas. Baby siter yang menjaga dua bocah itu pun juga turut pulang.


Feli siap untuk menjaga kedua anaknya. Bagaimana pun ia tidak ingin di kalahkan oleh sang suami.


“Papah kerja dulu yah? Setelah pulang kerja kita akan jalan-jalan sama mamah. Okey?” tuturnya meninggalkan mereka menuju ke meja kerja.


“Sayang jangan ambil ini yah? Ini Fia main ini saja. Itu punya papah, Nak.” tuturnya memperingati sang anak.


Merasa tak suka dengan sang mamah yang merebut mainannya, Fia menangis. Ia menjatuhkan tubuhnya saat itu juga.


“Astaga Fia.” Feli panik ia buru-buru menggendong anaknya yang terbentur bokongnya.

__ADS_1


“Fel, Fia tidak apa-apa. Lantainya sudah aku lapis bahan tebal. It’s okey.” ujar Bagas tak sampai hati melihat sang istri yang begitu paniknya.


Di bawah Cia tampak menggulingkan tubuhnya menangis ingin di gendong juga. Bocah kecil satu ini terbilang sangat cemburuan.


“Sabar yah, Nak. Ayo gantian. Mamah bisa gendongnya satu-satu.” Feli benar-benar terkuras tenaganya dengan tingkah dua anaknya itu.


Tak tahan melihat sang istri yang kesulitan, Bagas pun kembali terlibat. Ia mendekati Cia yang menangis lalu menggendongnya. Melihat sang suami yang masih harus turut menjaga anaknya, Feli merasa tak enak hati.


“Maafkan aku…mereka begitu sulit aku jaga.” ujarnya berterus terang dengan wajah bersalahnya.


Bagas hanya tersenyum. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusap kepala sang istri.


“Kamu masih baru bertemu mereka itu sebabnya harus beradaptasi dulu agar bisa kenal lebih jauh. Ini bukan masalah, Fel. Aku senang bersama anak-anakku. Ya sudah aku kerja dulu sambil jaga Cia. Semangat yah.” tutur Bagas memberikan semangat pada sang istri.


Feli mengangguk. Ia tak menyangka ada sosok pria sebaik dan sesabar Bagas. Di lihatnya sang suami tengah memeriksa laporan di laptop sembari memangku sang anak yang bermain pulpen dan kertas.


Sedih rasanya tak bisa di andalkan oleh sang suami untuk mengurus rumah dan anak. Feli ingin ia bisa di andalkan agar Bagas bisa bekerja dengan tenang.

__ADS_1


Namun, satu minggu bukanlah waktu yang cukup untuknya belajar serta mendekatkan diri dengan kedua anaknya. Tentu masih membutuhkan waktu yang lama. Hingga akhirnya satu hari itu Feli merasa sangat lelah seperti biasanya. Di tambah saat waktu makan siang. Ia harus memberikan makan pada anak-anaknya di saat Bagas tengah makan siang juga.


Hingga tak terasa kini sore sudah tiba, waktunya mereka untuk pulang ke rumah.


__ADS_2