Bukan Duda

Bukan Duda
Rasa Bersalah


__ADS_3

Di dalam kamar kini Cia dan Fia di baringkan di atas tempat tidur. Feli tampak memperhatikan sang suami yang mengusap lembut kepala anaknya. Bagas pun sadar jika dirinya tengah di perhatikan sang istri.


“Mereka sudah tidur. Bisa kita bicara sebentar?” tanya pria itu usai berdiri tegak.


Ragu Feli mengangguk pelan. Keduanya duduk di sofa kamar itu. Sejenak Bagas menata kata apa yang harus ia lontarkan untuk pertama kalinya. Kerinduan yang menggunung selama ini bahkan begitu sulit untuk ia luapkan. Sebab ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.


“Apa aku masih belum ada di ingatanmu?” tanyanya.


Feli jelas langsung mengangguk mengiyakan. Siapa pria di depanya ia masih belum bisa mengingat.


“Maaf jika aku tidak bisa mengingatnya.” ujar Feli pada akhirnya merasa tak enak hati.


Bagaimana mungkin bisa ia melupakan pria yang menjadi cinta sejatinya itu hingga melahirkan dua anak kembar begitu cantik. Pajangan foto besar di kamar mereka jelas Feli lihat betapa ia menjadi pengantin wanita yang paling bahagia tersenyum lebar dengan sang suami yang mengecup pipinya.

__ADS_1


“Itu foto pernikahan kita. Di sana aku bersumpah akan setia padamu sampai kapan pun. Semua yang aku janjikan masih terjaga sampai saat ini. Setahun aku hidup seorang diri membesarkan Fia dan Cia. Bagaimana denganmu?” pertanyaan itu seketika terucap begitu saja oleh Bagas.


Setidaknya itu adalah kata yang paling pas untuk ia tanyakan pada sang istri yang sempat menjadi istri pria lain.


Mendengarnya Feli tertunduk, ada perasaan bersalah di dalam dirinya saat ini. Merawat dua anak sekaligus tentu saja bukanlah perkara mudah.


“Maaf. Aku melakukan itu karena merasa berhutang budi. Dan…aku tidak tahu harus kemana selain ikut dengan Krisna.” ujar Feli yang sejujurnya.


Bagas berkaca-kaca mendengar pengakuan sang istri. Rasanya dunia begitu sulit menunjukkan keberadaan istrinya selama ini. Bahkan ia sudah mencari kesana kemari namun tak juga bisa ia temukan.


Bagas menghela napas lega setelah mendengar ucapan sang istri. Akhirnya tanpa bertanya pun ia sudah mendengar jawaban yang selama ini terus ia pertanyakan.


“Maaf, aku sudah meragukanmu.” ujarnya baru kemudian Bagas mendekati Feli.

__ADS_1


Pelan ia duduk di samping istrinya kemudian ia memeluk tubuh Feli erat.


“Terimakasih sudah menjaganya.” tuturnya berbisik lirih.


Sayangnya Feli tak kunjung membalas pelukan itu. Bagas di matanya masih begitu asing. Semua kebenaran yang ia lihat belum mampu mengembalikan rasa cinta yang terhalang oleh ingatan itu.


“Cia menangis.” Pelukan sang suami pun terlepas begitu saja saat Bagas mendengar salah satu anaknya menangis.


Feli yang turut mendekati sang anak tak tahu harus melakukan apa. Ia melihat pergerakan tangan suaminya yang sangat lincah mengganti diapers sang anak setelah membersihkan kotoran anak cantiknya itu.


“Tidur lagi sayang papah. Masih ngantuk kan?” ujae Bagas penuh kelembutan.


Tubuhnya ia rebahkan di samping tubuh sang anak. Sebelah tangannya menepuk-nepuk bokong sintal anak mungil itu. Pelan kedua mata Cia pun tertutup kembali.

__ADS_1


Feli tampak kikuk melihat semua aktifitas di dalam kamarnya. Rasa bersalah kian muncul sebagai ibu bahkan ia tak ikut andil dalam merawat anak-anaknya.


__ADS_2