
Hari itu juga Feli di bawa pulang oleh sang suami dan keluarganya. Perpisahan Krisna dan Feli begitu nampak menyedihkan. Sekali pun Krisna tak bisa bersuara sekedar meminta Feli untuk ia peluk sebagai perpisahan terakhir. Pandangan matanya nanar menyaksikan kepergian sang istri yang bersama keluarganya. Feli menoleh sejenak melihat tatapan mata Krisna. Lalu kemudian wanita itu melanjutkan langkah keluar kantor.
Bagas membantu istrinya duduk bersama kedua anaknya yang di pangku oleh mamah dan ibunya. Selama perjalanan tak ada suara yang terdengar selain suara Laras yang terus bertanya tentang keluhan tubuh Feli.
“Apa ada sakit lagi saat ini? Kepala? Atau badan kamu, Nak? Katakan pada Ibu. Kamu habis menjalani operasi pasti ada sakit yang kamu rasakan.” tutur Laras memeriksa setiap tubuh sang anak dengan penuh kecemasan.
“Bu, aku baik-baik saja kok. Sakitnya hanya sesekali kambuhnya. Ibu tidak perlu secemas ini.” ujarnya memeluk sang ibu.
“Ibu benar-benar pasrah saat kamu tidak di temukan.” ujar Laras menatap nanar sang anak satu-satunya.
Kecantikan Feli tak berkurang sedikit pun. Namun, perbincangan keduanya masih terasa begitu kaku. Tak ada sikap Feli yang terkesan manja seperti dulu lagi. Dan bukan hanya Laras yang kehilangan. Bagas pun juga merasa kehilangan sosok istrinya yang manja.
__ADS_1
“Memangnya dulu kejadiannya seperti apa sih, Bu? Sebab aku hanya mengingat berjalan di sekitar pantai lalu menuju ke kota dengan menumpang kendaraan orang.” Ingatan Feli hanya sebatas itu saja hingga akhirnya ia tersadar ketika usai bangun dari koma. Selebihnya ia tak mengingat sama sekali.
“Kamu mengalami kecelakaan saat di kapal nak. Semua orang tidak ada yang selamat. Bahkan sahabatmu pun juga tidak selamat. Kamu tahu, kepergianmu malam itu membuat dua cucu ibu menangis lama. Mereka merasakan apa yang terjadi dengan mamahnya…” panjang keduanya terus bercerita.
Irma memilih mengurus cucunya dari pada bicara dengan Feli. Rasanya sudah cukup jika Laras lah yang bercerita pada anaknya.
Meski banyak yang Feli dengar, namun tak ada satu pun yang bisa ia ingat sampai detik ini.
Laras dan Irma pun saling memandang. Mereka berharap sangat jika ingatan Feli segera kembali.
“Anak-anakmu pasti bisa membantu ingatan kamu pulih, Nak. Ada suamimu juga yang siap mendampingimu kapan pun itu.” Kini pandangan mata Feli pun beralih pada Bagas yang duduk diam di depan menyetir mobil.
__ADS_1
Entah hal apa yang membuat Bagas sampai detik ini tak ada suara apa pun. Dalam hati Feli terus bertanya-tanya. Tanpa ia tahu jika saat ini Bagas sedang berusaha menata kata-kata yang tepat untuk bertanya bagaimana sebenarnya hubungan Feli dan Krisna.
Bayangan akan kemesraan keduanya terus membakar api cemburu Bagas. Tak sadar jika wajahnya pun mulai memerah saat ini.
Perjalanan pun akhirnya kini berakhir di kediaman Bagas dan Feli. Tak ada yang berubah dari rumah mereka. Meski Feli tak mengingat, namun matanya berbinar melihat desain rumah di depannya yang sangat menarik.
Ia sangat suka rumah di depan sana. “Rumahnya cantik.” pujinya tanpa sadar.
“Itu kamu yang mendesain sendiri, Nak. Semua isi bangunan ini kamu yang menentukan. Iya kan, Bagas?” tanya Laras meminta persetujuan sang menantu.
“I-iya, Bu.” sahut Bagas.
__ADS_1