
Krisna hanya duduk di tepi pantai memperhatikan setiap pergerakan dari tubuh gemulai sang istri. Daya tarik yang Dila tawarkan amatlah menarik di mata pria ini. Sayang, ketakutan yang terasa semakin jelas ia rasakan membuatnya tak berani untuk senang. Berbagai prasangka buruk terus saja ia pikirkan ketika sang istri justru akan sangat membencinya. Bahkan keputusan Dila untuk kembali pada keluarganya pun begitu menakutkan di pikirkan saat ini.
"Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Tapi apa yang harus ku lakukan?" gumamnya menggelengkan kepala menghalau berbagai pikiran buruk itu.
Sedangkan Dila masih saja fokus dengan olahraganya. Ia begitu konsentrasi, satu gerakan pun tak ada yang salah di buatnya. Dila bergerak layaknya para yoga professional. Meski bisa di katakan memang itulah hobynya sejak dulu hingga menjadi model.
Sedangkan di kota ini Bagas tengah mengendarai mobil memastikan jika benar anak buahnya menemukan rekam jejak terakhir sang istri. Hingga jejak itu pun akhirnya tak menunjukkan kemana mereka pergi. Beralih pada rumah sakit yang hendak ia tuju. Bagas tiba di ruangan dokter yang baru saja menghubunginya.
"Perkenalkan saya dokter Kurniawan, Tuan." pria berjas putih pemilik salah satu ruangan di rumah sakit tersebut tampak menyambut hangat kedatangan Bagas.
Bekerja setiap hari di rumah sakit berhadapan dengan banyak pasien membuatnya tidak begitu perduli dengan dunia luar termasuk lingkungan para orang-orang pembisnis. Hingga sebuah berita menggemparkan dunia membuatnya tahu siapa pria di depannya saat ini.
Merasa tak memiliki banyak waktu, Bagas pun langsung berbicara pada pokok inti pertemuan mereka berdua. Ia di persilahkan duduk lebih dulu kemudian sang dokter mulai mengatakan semua dari awal.
"Setahun yang lalu saya menerima seorang pasien wanita, Tuan. Tapi, kami tidak tahu identitasnya bahkan yang membawanya ke rumah sakit ini pun juga tidak tahu siapa wanita itu. Ia kami operasi sebab ada benturan keras di kepalanya yang membuat penggumpalan di bagian otak serta kerusakan pada tengkorak kepalanya. Hingga saat selesai operasi pasien masih belum sadarkan diri. Pasien koma cukup lama, dan pada akhirnya saat ia sadar ingatannya tidak ada yang kembali sedikit pun. Nama sendiri pun ia tidak ingat."
Bagas terdiam mencermati setiap kata yang dokter katakan. Hingga akhirnya kini kebingungannya terjawab sudah. Jika pertemuannya dengan Dila saat itu benar adanya jika hatinya mengatakan dia adalah sang istri.
"Siapa orang yang membawanya kemari, Dok? Apa dia seorang polisi?" tanya Bagas jelas membuat sang dokter menganggukkan kepala cepat.
Ia sangat kenal dengan sosok Krisna yang sering kali namanya terdengar oleh masyarakat di kota bunga itu.
Di sini Bagas mulai bisa menebak, jika mulanya Krisna memang tidak tahu siapa Dila. Hingga pada akhirnya ia tahu jika Dila adalah istri dari Bagas dan itu membuatnya nekat membawa pergi Dila demi menjauhkan dari Bagas dan keluarga Feli. Sontak saja memikirkan semua itu membuat Bagas mengepalkan tangannya erat. Sumpah demi apa pun ia sangat murka mendapati pikiran Krisna yang begitu kejam tega memisahkan mereka bahkan dengan kedua anak kembarnya dari sang mamah.
"Baik, Dokter. Terimakasih. Ini untuk anda seperti yang sudah saya janjikan di berita." Bagas menyodorkan amplop cokelat berisi lembaran uang yang sangat tebal.
__ADS_1
Melihat itu sang dokter benar-benar tidak mau menerimanya. Ia menggelengkan kepala seraya mendorong kembali amplop cokelat itu.
"Saya ikhlas memberi bantuan ini, Tuan. Sebab kebetulan saya yang menangani dan melihat berita itu. Jangan memberikan imbalan seperti ini pada saya" tuturnya lagi.
Bagas tahu ia tak banyak waktu untuk berdebat soal imbalan saat ini. Yang terpenting ada hal yang harus ia selesaikan saat ini lebih dulu. Pria itu pun pergi dari ruangan dokter entah kemana yang ingin ia tuju saat ini. Pikirannya benar-benar bingung harus kemana mencari Feli lagi. Semua koneksi tak ada yang bisa terhubung pada Krisna. Bahkan bawahannya semua tak ada yang bisa memberikan akses pada orang lain termasuk Bagas anak buahnya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku, awas kalian." geram Bagas.
Satu-satunya jalan adalah melaporkan Krisna dengan pimpinan tertinggi di ibu kota. Sebab di kota bunga Krisna lah yang memiliki kedudukan paling tinggi. Bagas berniat untuk melaporkan tindakan pria itu yang membawa lari istri orang bahkan sampai memalsukan data Feli menjadi Dila agar bisa menikah dengannya.
Setelah menaiki pesawat terbang ke ibu kota kembali, kali ini Bagas tak memiliki waktu lagi untuk sekedar menjenguk sang anak yang sudah ia rindukan sekali. Setibanya di kantor polisi, kedatangan Bagas nampak di sambut banyak pandangan mata yang menatap kagum padanya. Terlebih semua polwan begitu mengidamkan sosok Bagas selama ini yang menjadi ayah dua anak kembarnya di kenal sangat penyayang.
"Silahkan masuk, Pak Bagas." sambutan salah satu anggota polisi yang sudah Bagas hubungi sebelum tiba di kantor itu.
Bagas duduk di ruangan pimpinan tertinggi di kota itu. Ia bisa langsung berhadapan dengan pria yang memegang kendali semua anggota kepolisian di kota itu termasuk seorang Krisna sekali pun.
Pria di depannya yang mengenakan pakaian begitu banyak lambang hanya tersenyum. "Anak Pak Iwan sudah setampan ini ternyata. Kau tumbuh dengan baik, Bagas." ujarnya yang justru terheran-heran melihat pria tampan di depannya yang begitu lama tak ia lihat. Beberapa waktu lalu Bagas masih begitu kecil dan menggemaskan. Tak di sangka waktu berjalan sangat cepat.
Bagas terdiam beberapa saat. Sebab dirinya pun tak memiliki waktu lagi untuk bicara santai. Istrinya sangat butuh bantuannya saat ini.
Hingga akhirnya Digo yang menyadari maksud kedatangan Bagas segera berdehem dan menegakkan punggungnya di kursi kebesaran itu. Yah, dialah satu-satunya orang yang bisa Bagas andalkan saat ini untuk membawa kembali Krisna dan juga Dila.
Di sini Bagas pun menjelaskan semua kejadian hingga perginya Krisnya membawa sang istri.
Sedangkan di pulau ini Dila tengah yok mendapati sebuah pesan di ponsel sang suami yang tak sengaja ia lihat di dalam kamar menampilkan sebuah pesan.
__ADS_1
Krisna duduk santai di tepi pantai dengan meminta sang istri membuatkan jus. Ia tak sadar jika telah meninggalkan ponsel miliknya di meja nakas.
"Tuan, Pak Bagas tengah melaporkan anda atas penculikan istrinya yang menghilang satu tahun lalu." Pesan itu sontak membuat kedua mata Dila membulat.
Di sini ia belum sadar siapa istri dari Bagas. "Kenapa menculik istri pria itu? Apa sebenarnya yang terjadi? Lalu dimana istrinya Pak Bagas?" Dila bertanya-tanya tanpa sadar jika yang di maksud pesan itu adalah dirinya.
"Sayang? Masih lamakah?" teriakan Krisna pun segera membuat Dila menaruh kembali ponsel itu dan bergegas mengantarkan minuman.
Ia berusaha bersikap tenang dan memilih untuk mencari tahu sendiri. Krisna begitu tenang menikmati jus buatan sang istri.
"Aku mau mandi dulu." pamit Dila meninggalkan Krisna.
Ucapannya pun hanya mendapat respon anggukan kepala dari sang suami. Bukan berniat mandi, Dila justru tertarik untuk membuka ponsel sang suami yang kebetulan tidak memakai password. Setibanya di kamar, tangannya sibuk mengunci kamar. Dila dengan gerakan cepat membuka satu persatu pesan yang di terima sang suami. Beberapa percakapan penting memang tentang Bagas, namun Dila tak mengerti apa semua yang sedang mereka bicarakan.
"Pastikan Bagas tidak bisa mengakses kami." itulah pesan singkat yang Krisna kirim pada anak buahnya.
Hingga sebuah file yang di terima sang suami membuat kening Dila mengerut dalam. Ia penasaran file apa yang sang suami dapatkan.
"Identitas siapa ini?" gumam Dila begitu penasaran saat ponsel sang suami tengah loading terbuka.
"hah? Siapa in? Ini wajahku?" Dila membulatkan mata kala melihat wajah yang sama dengannya namun dengan tampilan yang berbeda.
"Feli Anggita?" lirihnya lagi melihat nama yang berbeda dengannya.
Dila menggeleng tak mengerti. Hingga suara ketukan di luar kamar membuatnya terkaget dari semua rasa penasaran itu.
__ADS_1
"Sayang, buka pintunya!" teriak Krisna.