
Max mendekatkan wajahnya pada Ell, semakin dekat dan lebih dekat.
”Apa maksud bapak?" Ell mendorong Max.
"Elora Shin, kenapa kamu begitu cepat melupakanku?" Ujar Max dengan wajah sendunya.
"Siapa yang bapak maksud, kita baru saja bertemu tapi kenapa bisa seperti itu?" Ell beranjak pergi dari ruangan Max dengan penuh rasa kesal.
”Siapa dia kenapa bisa bertindak sesuka hati, apa aku mirip mantan pacarnya, bisa-bisanya memperlakukan karyawan seperti itu..” gumam Ell yang begitu kesal atas perlakuan Max.
***
"Kediaman keluarga Lee"
”Robert kapan kamu akan menikahi Marry?” ucap sang ibu.
"Kenapa mama begitu mengatur kehidupanku, apa mama ingin kehidupan rumah tanggaku sama seperti adiknya papa!" tegas Robert sambil menutup layar laptopnya.
"Robert mama hanya ingin yang terbaik untukmu, demi masa depan perusahaan dan semua bisnis-bisnis kita."
"Ma cukup, cukup mama setir kehidupanku."
"Robert ingat kamu itu anak mama!” bentak sang ibu dengan nada membentak.
"Kamu mau kemana lagi Robert, tidak bisakah kamu berdiam di rumah ini?" tegas sang ayah.
"Pa, mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen."
"Apartemen? kamu jangan gegabah Robert, apa kurang segala hal di rumah ini?" Teriak ibu Robert yang tak menyetujui keputusan Robert.
"Maaf pa, ma! aku punya kehidupanku sendiri!"
"Robert!" teriak ibunya lagi.
"Kamu lihat saja apa yang akan mama lakukan terhadap Elora si perempuan tidak tahu malu itu!"
"Ma, apa maksud mama?"
Hmmp... ibunya pun tersenyum jahat.
"Kamu akan tahu sendiri akibatnya jika berani menentang mama dan papa yang telah membuatmu seperti sekarang ini."
"Sudahlah!" Robert beranjak pergi dari kediaman orang tuanya.
***
Dalam perjalanan Robert begitu gelisah, tak tahu harus kemana lagi, semua terlihat begitu menyesakkannya.
"Elora dimana kamu sekarang, aku sangat merindukanmu?"
Robert yang merupakan sosok pria berwibawa dalam segala hal kini mulai menunjukkan sisi lemahnya sebagai seorang pria yang sedang jatuh cinta dan kecewa karena cinta.
.
.
.
"Perusahaan S"
"Permisi saya ingin bertemu dengan Sham!!"
Robert yang baru saja tiba di sebuah perusahaan tempat Sham bekerja.
"Silakan duduk pak, saya akan memanggil pak Sham." Ucap seorang pegawai kantor tersebut.
Robert duduk menunggu kehadiran Sham.
__ADS_1
"Pak Robert!" sapa Sham sambil menarik napasnya dan mencoba untuk tetap tersenyum.
"Sham langsung intinya saja!"
"Iya silakan pak Robert, anda memang begitu sama seperti dulu."
"Apa hubunganmu dengan Elora?"
Pertanyaan tersebut sontak membuat Sham begitu terkejut
"Apa maksud anda?" tanya Sham bingung.
"Sudahlah jangan basa basi, lebih baik langsung beritahu!" tegas Robert dengan wajah yang tak sabaran.
"Aku dan Elora hanya teman biasa dan..--" Sham menceritakan kedekatannya bersama Elora hanya sebatas teman biasa.
"Jadi begitu, jadi saya sudah salah paham pada Elora."
"Iya tolong bahagiakan Elora jika kalian memang saling mencintai." Pinta Sham.
"Itu adalah urusanku!!" Robert pun segera beranjak dan ingin segera menemui Ell.
"Aku pun tak tahu di mana Elora saat ini berada, apartemennya pun kini sudah pindah!!"
Berusaha mencari keberadaan Ell, namun belum juga menemukan titik terang dan kini Robert masih dilanda rasa dilema.
***
Perusahaan XX.
"Saya ingin Elora Shin menjadi sekretaris saya!" pinta Max pada Jems.
Emm "baik bos, tapi alangkah baiknya jika kita minta persetujuan Ell atas—”
"Sudah kamu kerjakan saja tugasmu, nanti kamu juga akan mendapatkan bonus atas hasil kerja kerasmu."
"Hmmm ternyata begitu saja pertahanannya setelah mendengar kata yang berhubungan dengan uang."
...
"Iya Elora, tolonglah kamu mau yah.." ujar Jems dengan nada memohon agar Ell mau menyetujui perubahan jabatan tersebut.
"Tapi kenapa harus aku kak?" tanya Ell heran.
"Iya karena hanya kamu yang begitu berbakat, sudah begitu saja alasannya."
Hah "entahlah terserah kakak."
"Iya, Ell tenang saja bonus kita telah menanti," ujar Jems sambil tersenyum.
"Dasar kak Jems mata duitan, tak disangka wajah tampannya telah menipu para wanita namun isi pikirannya hanyalah uang dan uang.." gumam Ell.
....
"Elora nanti malam akan ada pertemuan saya berharap kamu mempersiapkan diri." Ucap Max dengan sambil tersenyum kecil
"Baik pak. "Jawab Ell dengan singkat.
***
"Kediaman Elora"
Sebuah apartemen dengan gedung bertingkat, dan Elora tinggal tepatnya di lantai dasar apartemen tersebut.
"Sudah siap, begini saja." Setelah bersiap Ell berjalan dari apartemen menuju area droff of mobil.
Max tengah menikmati kopi hangatnya di sebuah café yang berada di samping apartemen kediaman Ell.
__ADS_1
"Oke kita berangkat!"
"Supir bapak kemana?" tanya Ell yang heran melihat Max tidak biasanya menyetir sendiri.
"Ohh nanti akan sangat mengganggu."
Max menyetir dengan serius tanpa bicara sepatah kata pun.
•••
Mereka pun tiba di tempat tujuan.
"Kita mengadakan pertemuan di sini?" tanya Ell sembari memandangi sekitar yang terlihat suasana hening di sebuah resto keluarga.
"Iya betul Elora Shin, hanya kita berdua." Max memandangi Ell sambil tersenyum hangat.
"Apa maksud bapak?"
"Sudahlah duduk."
"Mas, mas," Max memanggil seorang pelayan.
"Saya ingin menu yang selalu recommended di sini, dua yah!"
"Baik pak silakan ditunggu."
"Elora aku akan membantumu mengingatku!!"
"Jujur saya tidak mengerti apa yang sebenarnya bapak maksud dengan orang yang bapak kenal."
"Tentu kamu tidak akan mengingatku Elora."
Sedang menikmati makan malam bersama.
"Wah wahh hebat yah sudah menemukan pria kaya yang baru!" ucap seorang wanita yang muncul dihadapan Elora.
"Marry!" Ucap Ell terkejut.
"Iya Elora, kebetulan sekali yah kita bertemu di sini." ucap Marry dengan nada sinis.
"Ahh iya Marry." Ell mencoba tetap tersenyum.
"Ohh ia aku bersama calon suamiku."
Muncul seorang pria yang sangat ia kenal.
”Kak Robert...” Ell terkejut hingga melepaskan sendok dan garpu dari tangannya.
"Kamu!" Robert terbelalak saat melihat wanita pujaannya bersama pria lain.
"Sayangku, kebetulan banget yah!" Marry merangkul mesra Robert dihadapan Elora, sementara Robert terlihat begitu menahan amarahnya dan rasa cemburunya.
"Ohh maaf jika kehadiran kami mengganggu kalian, silakan nikmati."
Robert pergi begitu saja dari hadapan Elora.
Elora terlihat murung dan terus memandangi Robert yang kini bersama Marry.
"Kenapa Elora?" Max menyentuh pipi Ell
"Ahh sorry pak," Ell menepis tangan Max darinya.
"Ahh sorry!!
"Siapa pria itu kenapa Elora terlihat begitu sedih saat pria itu pergi, apa aku harus mencari tahu..." gumam Max saat melihat ekspresi sedih Ell.
***
__ADS_1