
"Perusahaan L Group"
"Elora, apakah aku kurang berjuang
untukmu? apakah aku sungguh tak bisa mempertahankan hubungan kita..." gumam
Robert yang sedang duduk termenung di dalam sebuah ruangan kerjanya.
Robert sangat mencintai Elora, namun
kenyataan pahit bahwa orang tuanya tak menyetujui hubungan tersebut pun membuat
Robert cukup dilema, terutama sang ibu yang sangat kekeh tidak menyetujui hubungan keduanya.
Robert mencoba untuk mencari jalan
keluar terbaik bagi hubungannya bersama Elora.
Mengambilkan sebuah ponsel, mencoba
untuk mengirimkan sebuah pesan pada sang wanita pujaannya.
"Kenapa tidak masuk-masuk! apa sudah
berganti nomor?" gumam Robert yang mencoba untuk menghubungi Elora.
Knock...Knock...Knock...
"Permisi pak Robert Lee, hari ini kita
akan mengadakan rapat penting di sebuah perusahaan S." Ucap seorang asisten Robert.
"Oke, tolong siapkan mobil." Titah Robert yang sedang merapikan iPadnya.
•••
Sesaat dalam perjalanan...
"Pak Robert, mungkin pertemuan hari ini
akan memakan waktu yang lama, jadi kita akan makan siang terlebih dahulu di hall samping aula."
"Iya, silakan saja." Jawab Robert dengan
singkat, sambil terus memikirkan Elora.
Sepanjang rapat berlangsung, Robert
terus teringat akan sosok Elora. Bayangan wanita tersebut tak pernah pergi dari benaknya, namun keadaan maupun konsisi saat ini sungguh tak memungkinkan bagi mereka.
***
"Perusahaan Xx.
Elora terlihat begitu sibuk dan fokus dengan pekerjaannya.
"Elora, hari ini saya ingin kamu lembur dulu. Karena ada banyak berkas-berkas yang harus dikerjakan." Ujar Max sambil berjalan menuju meja kerja Ell.
Disebuah ruangan pimpinan perusahaan
tersebut, Elora yang merupakan seorang sekretaris pun berada didalam ruangan
yang sama dan hanya dibatasi penyekat ruangan.
Waktu menunjukkan pukul. 21:35 wib.
Argh... "akhirnya selesai juga." gumam Ell
sembari merenggangkan otot tubuhnya, setelah duduk selama seharian hingga malam hari untuk menyelesaikan tugas pekerjaan dari sang pimpinan, yaitu Maxwell Diego.
"Ell, jika sudah selesai tolong membereskan barang-barang, tolong ke temui aku di samping loby." Ujar Max yang melangkah keluar ruangannya dan menuju loby utama.
Selesai membereskan barang-barangnya, Ell pun menuju lokasi yang telah di minta oleh Max.
•••
"Pak Max!" sapa Ell yang baru saja tiba di
samping sebuah loby gedung kantornya.
"Oke, kita berangkat sekarang.." ujar Max sembari menekan tombol kunci mobilnya.
"Kita akan pergi kemana pak? "tanya Ell dengan heran.
"Kita akan makan malam dulu, kamu lelah
__ADS_1
seharian penuh hingga malam Ell." Ujar Max yang penuh perhatian tersebut.
"Ah, tidak perlu pak, saya tidak nyaman jika para pegawai kantor lainnya mencurigai kita." Ujar Ell sembari memandangi Max.
"Biarkan saja, lagi pula kita masih sama-sama sendiri!" Ucap Max sambil menyeringai.
"Tapi bagaimana pun juga aku adalah bawahan bapak!" balas Ell.
"Yes, I know that. Tapi sorry to say Elora, aku tidak bisa mengikuti pernyataan mu barusan!"
Hmmpp... "pak Max, saya hanya heran kenapa
anda selalu memperlakukan saya seperti ini."
"Kamu akan segera tahu Ell, dan aku Maxwell Diego akan selalu berada di sampingmu..." ujar Max dengan penuh percaya diri.
"Apa maksud bapak? jika para rekan-rekan
mencurigaiku, apa yang akan bapak lakukan?"
"Yah kita wujudkan saja apa yang mereka
curigai. Gampang kan?"
"Tapi itu tidak semudah itu pak."
"Kenapa Elora, apakah kamu sangat tidak
menyukaiku?" ujar Max.
"Bukan seperti itu pak, hanya saja saya
sangat lelah malam ini." ujar Ell sembari
menyenderkan dirinya di kursi mobil milik Max.
"Maafkan aku Ell, tapi aku kurang suka
kalau kamu memanggilku pak saat kita diluar kantor."
"Lalu aku harus panggil apa?"
"Up to you, tapi please jangan bapak juga yah."
•••
Drrrtttt... "Elora, hari ini kamu tidak perlu masuk kerja, dan aku tidak akan memotong gajimu mau pun bonusmu. Istrahatlah.." Mr.
Maxwell D.
Hmmp "yasudah aku akan istirahat total hari ini.."
Sepanjang hari Ell terus tertidur karena kelelahan dengan semua pekerjaannya.
Drrrttt... panggilan masuk....
"Nomor baru!! siapa ini?" gumam Ell saat melihat layar ponselnya, dan mencoba mengangkat.
"Hallo, dengan saya Elora...--" sejenak Elora terdiam saat mendengar suara yang sedang berbicara dengannya dibalik telepon tersebut.
"Elora, sekarang aku ada di depan pintu
apartemenmu.." bippp panggilan berakhir.
"Kak Robert!! apa yang kak Robert lakukan?"
Ell bergegas menuju pintu dan membukakan
pintu, ternyata benar seseorang yang berdiri di balik pintu apartemennya ialah Robert.
Seketika itu juga Elora tak mengatakan
sepatah kata dan hanya berdiri terdiam kaku, saat melihat sosok pria pujaan hatinya kini berdiri dihadapannya dengan senyuman sendu.
"Elora, bolehkan kakak masuk?" tanya
Robert dengan nada lembut dan sedikit ada rasa canggung diantara keduanya.
"Iyaa." jawab, sembari mempersilakan Robert masuk.
"Silakan duduk kak, aku akan ambilkan
minuman..--"
Robert maraih tangan Elora, lalu mendekapnya dengan pelukan yang erat.
__ADS_1
"Elora, aku sangat merindukanmu.." bisik Robert tepat di daun telinga Ell.
Hembusan napas tersengal-sengan Robert
memenuhi kepala Elora, sehingga membuatnya tak mampu berpikir dengan jernih.
"Kak Robert a.. aku...---" Elora tak mampu
berkata-kata lagi dan berusaha menahan hatinya yang saat ini sulit untuk dijelaskan entah apa yang ia rasakan.
"Elora..." Robert membalikkan Ell kehadapan nya, dan membelai lembut wajah cantik Ell.
"Aku mencintaimu Ell" ujar Robert dengan
wajah sendunya.
"Kak Robert, kita tidak bisa seperti ini!" Elora berusaha melepaskan pelukan Robert pada dirinya.
"Kenapa sayang? kamu sudah tak mau lagi
bersamaku!" Robert enggan melepaskan pelukannya.
"Kak Robert, tapi..—" Ell sangat ingin
memberitahukan pada Robert, tentang apa yang telah ibu Robert lakukan padanya.
Namun, kata-katanya tertahan hanya sebatas dipikirannya. Ell tak ingin melihat hubungan keluarga Lee menjadi retak karena kehadiran dirinya.
"Kenapa? kamu tidak menjelaskan apa-apa
lagikan?" Robert menyentuh wajah Ell dengan kedua tangannya yang besar tersebut.
"Kak Robert, lepaskan aku! kita tidak
mungkin bersama.." ucap Ell dengan nada lirih.
"Kenapa Ell, apa kamu tidak ingin hidup
bersamaku?" tanya Robert kembali.
"Aku sangat ingin hidup bersama kakak,
tapi keluarga kakak tidak menyukaiku kak.." ucap Ell dengan nada semakin lirih.
"Elora, maafkan kakak yah...
Kakak memang kurang berjuang, sehingga
membuatmu seperti ini. Maafkan aku," ujar Robert sembari menyenderkan kepalanya
di bahu Ell.
Kak Robert, sudahlah kak...
"Tidak bisa Elora, kamu pikir aku akan menyerah dengan hubungan ini!" tukas Robert dengan nada sedikit membentak.
"Lalu kakak akan menjadi anak durhaka
hanya karena aku?? tidak kak, aku tidak sanggup!" ujar Ell dengan air matanya
yang sudah mulai membanjiri pipi polosnya.
"Elora, kumohon berjuanglah bersamaku
sayang, aku akan kuat jika ada seseorang yang menopangku." Ujar Robert dengan nada
lirih pula.
"Maafkan aku kak, aku tidak bisa..."
"Jadi kamu memang sangat ingin aku menikahi Merry? oke aku akan nikahi Mery biar kamu puas?" tukas Robert dengan nada sedikit membentak.
"Tidak kak Robert, aku sangat mencintai kakak tapi..."
"Tapi apa? perjuanganmu sampai disini saja kan?" tukas Robert lalu beranjak pergi dengan hati penuh kehampaan.
Sementara Robert pergi meninggalkan
apartemen kediaman Ell, Ell hanya bisa terus terisak dan tersandar di lantai apartemennya.
"Maafkan aku kak Robert, aku sudah cukup
menderita dan terhina atas perlakuan keluarga kakak. Aku pun tidak bisa
mengatakan secara jujur atas apa yang mama kakak perbuat, aku hanya takut kakak menjadi lebih berpihak padaku..."
__ADS_1
Lirih hati Elora, niatnya hanya ingin Robert tetap menjadi sosok anak yang berbakti, walau Elora lah yang harus menanggung luka tersebut.
***