
”Apartemen Kediaman Elora”
argh... ”Dasar laki-laki pecundang!”
Keluh Elora, tatkala mengingat semua yang selama ini ia lalui. Beruntung, Elora belum termakan rayuan Maxwell, jika tidak, mungkin Elora akan dilanda kegalauan yang tak berujung.
Elora berbaring, dan memandangi gelang silver yang kini melingkar di pergelangan tangannya, juga kalung liontin yang sedang ia kenakan.
”Elora bodoh! Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tuan Luke hanyalah pria darmawan saja..” gumam Elora dengan kedua pipi bersemu merah.
Dalam kesendiriannya, Elora kembali teringat akan kedua mendiang orangtuanya yang sudah tiada lagi.
”Ayah, ibu.. andai kalian masih ada, mungkin kalian tidak perlu lagi bertani, karena anak gadis kalian ini sudah mampu berdiri dengan kaki sendiri..” ucap Elora sembari memegang bingkao foto kedua mendiang orang tuanya.
Sedih memang, tatkala sudah menjadi wanita yang cukup sukses dalam karir, namun kedua orang tua justru sudah tiada. Niat ingin membahagiakan orang tua pun, hanyalah tinggal kenangan saja. Namun, semua bukan salah Elora. Karena takdir sudah membuat garis hidup seperti ini. Semua yang terjadi, membuat Elora semakin dewasa karena keadaan.
Drrrt....
Mr. Luke is calling...
”Tuan Luke!” sontak Elora terperanjat dari kasur miliknya.
Elora: ”Hallo, tuan Luke,”
Luke:”Hallo, nona Elora. Maaf, jika panggilan dariku mengusik waktu istirahat, Nona.”
Elora: ”Ah, tidak, tuan. Ada apa, tuan Luke?”
Luke: ”Jumat malam ini, aku ingin mengajak nona menonton bioskop. Kebetulan, ada movie yang sangat seru. Apakah Nona Elora keberatan?”
Sontak Elora tawaran dari Luke tersebut menjadikan mood booster bagi Elora.
Elora: ”Tentu tidak, tuan Luke.” Jawab Elora dengan wajah tersipu.
Luke: ”Oke, nona. Tepat, pukul.19.00 wib, aku sudah menjemput nona..--”
Keduanya pun sempat berbincang ringan, dan hal itu membuat Elora benar-benar lupa waktu dibuatnya.
***
Perusahaan XX.
Pagi ini, suasana hati Elora cukup baik. Semua karena Luke yang telah menjadi mood booster bagi Elora.
Ehmmpp...
__ADS_1
”Sepertinya, ada yang sedang kasmaran..” ucap Jems, yang baru tiba di dalam pantry kantor untuk menyeduh kopi hitam. Kebetulan, Elora berada di sana juga untuk menyeduh teh.
”Kak Jems,” balas Elora dengan wajah tersenyum ramah.
”Elora, kuharap, kamu jangan terlalu banyak berharap pada laki-laki yang belum bisa memiliki komitmen pada ucapannya. Harga diri seorang laki-laki adalah ketika ia bisa menjaga komitmennya, entah apapun rintangan yang dihadapinya.” Ucap Jems.
Mendengar ucapan dari Jems, sepertinya Elora paham arah pembicaraan dari Jems.
”Kusarankan, kamu tetap pada pendirianmu saja. Perempuan seperti kamu itu, tidak sulit mendapatkan pasangan. Kamu akan terus dicari oleh banyak laki-laki mapan.” Ucap Jems.
”Tumben sekali kak Jems bicara seperti ini?” balas Elora sembari menyeruput teh miliknya, dan keduanya duduk di meja makan pantry.
”Aku hanya memperhatikan setiap pergerakanmu saja, dan aku menilai kamu adalah perempuan dengan value tinggi. Tetap pertahankan, oke!” Jems mengusap puncak kepala Elora.
”Kak Jems, please.. aku sudah merapikan rambut pagi ini.” Ucap Elora, dengan nada bercanda.
•••
Sore hari tiba, dan saatnya bagi para karyawan untuk kembali pulang. Sore itu, Elora sedang berada di area parkiran dan terlihat sedang mengobrol dengan Jems.
”Ikut senang, karena kalian akhirnya bersatu lagi. Kuharap, tidak ada wanita pelakor yang berani mengusik kisah asmara kalian!” Ucap Merry, yang kala itu datang bersama Emma, kekasih dari Maxwell.
Yah, mereka adalah teman satu circle yang sangat klop tentunya. Entah bagaimana ceritanya, Maxwell ternyata menyimpan banyak rahasia dari Elora. Niat hati ingin menjadikan Elora tambatan hati, justru kekasih lamanya muncul. Emma yang sempat terputus komunikasi dengan Maxwell.
Namun, Elora sungguh tidak peduli akan hal itu.
”Elora, aku antar kamu pulang saja. Tidak usah hiraukan orang-orang seperti itu.” Ucap Jems, lalu keduanya pun bergegas pulang dengan Jems yang mengendarai mobil miliknya.
***
Ketika dalam perjalanan pulang...
”Maxwell adalah saudara sepepuku, anak dari paman kandungku. Aku juga sudah mengenal Robert juga Merry. Yah, begitulah Merry si mulut ketus.” Ucap Jems, sementara Elora hanya membalas dengan senyuman sendu.
”Hei!” Jems mengejutkan Elora yang terlihat sedang melamun.
”Elora, maaf jika pertanyaanku menyinggungmu. Apakah, kamu masih menaruh hati pada Robert?”
”Hubungan kami sudah lama berakhir, dan tak ada yang perlu dibicarakan dengan kisah masa lalu kami. Karena tidak menarik untuk diceritakan.” Ucap Elora.
”Oh, baiklah. Tapi, dari tatapan Robert, sebenarnya masih mencintaimu, Elora. Begitulah laki-laki, bisa bersama wanita lain, walau hatinya masih bersama wanita yang lama.” Ucap Jems dengan terkekeh.
***
”Terima kasih atas tumpangan, kak Jems, see you tomorrow!” Elora melambaikan tangannya pada Jems.
__ADS_1
Apartemen Kediaman Elora.
Elora membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang nyaman. Karena sebentar lagi, Luke akan tiba untuk menjemput Elora.
Setelah siap bersolek dan berlenggak di depan cermin panjang miliknya. Elora sudah siap untuk menanti kedatangan Luke.
Beberapa menit sebelum kedatangan Luke, Elora sudah duduk manis di area loby apartemen kediamannya.
Setelah beberapa menit kemudian...
”Hallo, nona Elora!” Seru Luke, yang datang dengan mengendarai motor sport miliknya.
Elora tidak memiliki ekspektasi tinggi, bahwa Luke akan membawa mobil, karena Elora juga bukan tipe wanita materialis.
***
”Apakah tidak masalah, jika kita pergi dengan kendaraan ini?” tanya Luke.
”Tentu saja, tidak, tuan Luke. Mengapa bertanya demikian?” balas Elora yang kala itu mereka sedang dalam perjalanan ke bioskop yang dituju.
”Tidak, aku hanya memastikan saja.” Ucap Luke, lalu keduanya pun tiba di bioskop yang dituju.
Cinema XX1 X.
Sebelum menonton film, Luke membelikan berbagai camilan juga minuman.
Suasana di dalam bioskop ternyata mampu membuat kedekatan diantara mereka kian erat. Tak lagi atasan dan bawahan namun bak sepasang kekasih saja.
Setelah selesai menonton film, Luke kembali mengajak Elora untuk makan malam bersama. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal satu sama lain. Elora kali ini merasa benar-benar nyaman ketika berbincang dengan Luke. Tak ada yang ditutupi, mereka bersikap apa adanya.
•••
”Senang, bisa menghabiskan waktu bersama, nona Elora.” Ucap Luke ketika Luke akan mengantarkan Elora kembali pulang ke apartemen kediaman Elora.
”Aku juga berterima kasih pada tuan Luke.” Balas Elora.
”Nona Elora, maaf jika ada sikap, juga ucapanku menyinggung nona.” Ucap Luke dengan tatapan tulus pada Elora.
”Ah, tidak, tuan Luke. Aku justru sangat berterima kasih atas ajakan dari tuan.” Ucap Elora.
Kemudian, mereka pun bergegas untuk pergi. Luke si pria disiplin waktu. Tak heran, jika di usia yang masih tergolong muda itu, Luke menjadi seorang perempuan pimpinan muda. Semua karena sikap disiplin yang Luke miliki.
__ADS_1