
Ketika Elora tiba, Luke sudah duduk manis di loby apartemen kediaman Elora.
”Tuan Luke, apakah tuan sudah lama menunggu?” tanya Elora, yang masih terlihat was-was, kalau saja Robert nekat datang.
”Sekitar beberapa menit yang lalu.” Balas Luke, Luke kemudian bangkit dari tempat duduknya dengan membawakan seikat bunga segar berukuran besar juga sebuah paperbag.
”For you!” ucap Luke, sembari memberikan apa yang telah dipersiapkannya.
”Ah, tuan. Ini cukup banyak.” Ucap Elora terkejut, lalu mengajak Luke untuk duduk di kursi dalam loby apartemen.
”Aku minta maaf, karena diacara pentingmu, aku tidak bisa datang. Jadi, ini adalah hadiah kecil dariku, ssbagai ucapan selamat dan bangga atas pencapaianmu.” Ucap Luke dengan tersenyum tulus.
”Terima kasih banyak, tuan Luke. Ini sangat luar biasa, dan semua juga berkat dukungan dari tuan.” Ucap Elora yang masih terlihat begitu terkejut dengan kejutan dari Luke.
Luke menatap jam tangannya, ”sepertinya, aku harus segera kembali agar Nona Elora dapat beristirahat.” Ucap Luke, dan kemudian berpamitan pada Elora.
”Tuan Luke, sekali lagi terima kasih, karena bantuan dari tuan, saya sudah mendapatkan tempat bekerja yang tepat.“
”Aku turut senang mendengarnya. Lakukan yang terbaik. Bye!” Luke pun bergegas kembali pulang.
•••
”Apartemen kediaman Elora”
Elora tak bosan menatap hadiah dari Luke malam ini, seakan rasa kesalnya pada Robert berangsur sirna.
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Elora membuka isi dari paperbag pemberian Luke.
“Oo my God!” Ucap Elora terperangah. Tatkala mendapatkan sebuah dress anggun beserta jam tangan bermerek mahal. Yah, sebagai seorang pria yang mapan, hal itu tidaklah sulit untuk Luke berikan pada Elora.
”Inikan barang mahal, aku saja belum tentu mampu membelinya. Untuk sewa apartemen ini saja, aku sudah kesulitan..” ucap Elora sembari mencoba-coba semua yang ada di sana.
Hahh... ”Tuan Luke, terima kasih, telah menjadi sosok pria yang baik. Tapi, aku pun tidak boleh banyak menaruh harapan, agar kelak aku tidak kecewa..” ucap Elora.
__ADS_1
***
Perusahaan XX.
Maxwell duduk di dalam ruangan kerja miliknya, sembari memijat pelan kepalanya. Maxwell sedang membacakan surat pengunduran diri Elora, dan kala itu Maxwell tidak dapat mencegah Elora. Dikarenakan, ada Emma di sana, dan Maxwell benar-benar hanya bisa terdiam.
Sekian tahun terpisah, perasaan Maxwell terhadap Emma seakan luntur, ditambah lagi Emma yang masih belum terlalu dewasa dalam berpikir.
Drrttt... Emma memanggil...
Emma: ”Sayang, hari ini aku melihat tas keluarga terbaru di toko Herm*$, boleh ya aku beli satu lagi?”
Maxwell: ”Bukannya kamu sudah punya kemarin? Memangnya, harus beli lagi?”
Emma: ”Aku mau warna yang lain lagi, sayang..” rengek Emma dari balik panggilan.
Maxwell: ”Yah, silakan saja kamu beli.”
Maxwell: ”Kamu terlalu boros, Emma. Hal-hal tidak penting seharusnya kamu bisa pending, dan uangmu bisa untuk ditabung..”
Emma: ”Kalau tidak mau transfer dan buat aku bahagia, yasudah! Cukup tahu!”
Belum selesai Maxwell bicara, Emma memotong pembicaraan dan terkesan tidak terima.
Hahkk... Geram Maxwell, Maxwell sudah cukup bersabar dengan segala sifat manja dan boros Emma. Kali ini, Maxwell benar-benar sudah habis kesabaran.
Usai segala urusan kantor, Maxwell pergi ke kediaman orang tuanya, dikarenakan selama ini Maxwell tinggal di apartemen kediamannya yang berjarak tak jauh dari kantor.
* * *
”Kediaman Keluarga Diego”
”Maxwell, anak mama! Kenapa wajahmu muram seperti ini?” tanya sang ibu yang datang menyambut kedatangan putra keduanya.
__ADS_1
”Aku lelah, ma. Kemana papa?”
”Papa sebentar lagi turun. Ayo sini, sudah makan malam?”
”Kebetulan, belum ma.”.
”Yasudah, kita makan malam bersama ya.”
”Papa! Maxwell datang, pa!” Seru Mrs. Diego memanggil Mr. Diego, ayah dari Maxwell.
•••
Suasana hangat keluarga Diego terpancar jelas, ketika sedang bersama, canda tawa ada di sana.
”Ma, pa, sepertinya aku sudah tidak bisa lagi bersama Emma..” ucap Maxwell tiba-tiba.
Sontak ayah dan ibunya pun saling pandang seolah sudah menduga hal itu.
”Papa dan mama sangat menghargai apapun keputusan mu Maxwell.” Ucap Mr. Diego.
”Jujur, semenjak kembalinya Emma ke Indonesia, perasaanku sudah tidak sama lagi. Aku bahkan harus kehilangan wanita yang selama ini aku dambakan, ma, pa..” keluh Maxwell, sembari memutarkan garpu di atas mis goreng miliknya.
”Ikuti kata hatimu, dan pertimbangankan semua secara matang. Kamu sudah dewasa, papa mama akan selalu mendukung apa yang menjadi pilihanmu, oke.” Ucap Mrs. Diego dengan lembut.
”Hari ini, lagi-lagi Emma membeli tas mahal harga hampir ratusan juta. Padahal, baru dua minggu lalu Emma membelikan tas dengan merek yang sama. Hanya karena aku menasihatinya, Emma marah padaku!” Keluh Maxwell.
”Maxwell, sampai detik ini, sekalipun secar finansial papa sudah cukup mampu, tapi mama tidak pernah mendesak papa untuk membelikan barang-barang mahal. Walaupun sebenarnya, papa tidak keberatan, apalagi rumah tangga pala dan mama sudah melebihi usia perak pernikahan.” Tegas Mr. Diego.
”Benar, sayang. Sejak awal, mama selalu memiliki prinsip, gunakan apa yang masih dapat digunakan. Ingat! Kamu bekerja, dan bisa mencapai karir seperti sekarang ini, itu semua karena kerja keras kamu. Tapi mama lihat, kamu tidak pernah hidup seenaknya dengan gaya-gaya hedon zaman sekarang..” ucap Mrs. Diego.
”Yah, pa, ma.. maaf, aku sepertinya kurang tegas dengan pilihanku. Jika saja, sejak awal aku tegas, jika aku tidak lagi bisa bersama Emma, mungkin aku tidak harus menyesal seperti ini. Juga, meskipun hubungan kami nantinya berakhir, aku cemas, kalau Emma akan menyalahkan Elora..” wajah Maxwell terlihat penuh rasa penyesalan.
Kini, bagi Elora, Maxwell hanyalah pria pecundang yang tidak memiliki pendirian kuat. Sekalipun Maxwell kembali mendekati Elora, tentu Elora tidak akan seperti dulu bersikap pada Maxwell.
__ADS_1