Bukan kekasih SIMPANAN

Bukan kekasih SIMPANAN
Masih berharap


__ADS_3

Max masih berusaha meyakinkan Elora akan perasaan tulusnya.


”Maaf, pak Maxwell, saya pikir permainan bapak kali ini sudah cukup keterlaluan!"


"Apa maksudmu Ell? permainan apa??" ujar Max heran.


Hmmpp Elora menyeringai ”Bagaimana mungkin bapak masih berpura-pura setelah apa yang bapak katakan pada Merry dan juga kak Robert, saat makan malam beberapa bulan lalu,” ketus Ell.


"Jadi,sikap dingin mu hanya karena perkataan ku saat itu??" ujar Max dengan tersenyum.


”Lalu apa lagi pak Maxwell terhormat?” tukas Ell dengan nada kesal.


"Ell, aku sudah lama mengenal Merry dan aku sangat tahu bagaimana ambisi gila Merry.”


”Aku juga tahu bagaimana kisah percintaan kalian sesungguhnya, dan aku sangat bangga padamu Ell." Ujar Max sembari tersenyum tulus pada Ell.


”Apa maksud bapak?”


"Ell, kamu walaupun dikecewakan dan disakiti oleh keluarga Lee juga Merry, tapi kamu sama sekali tidak membalasnya. Aku bangga padamu."


”Lalu dengan pernyataan bapak?”


"Iya, aku tidak benar-benar serius mengatakan itu Ell...”


”Kalau aku mau bermain, banyak sekali wanita diluar sana yang bisa aku mainkan."


”Yah, silakan saja.” Tegas Ell.


"Ell, kamu ketus dan dingin sekali padaku.”


”Aku minta maaf ya Ell." Max meraih tangan Ell.


”Maaf pak Max, saya tidak bisa begitu saja mempercayai perkataan seseorang apalagi belum aku kenal dengan baik.” Ell menepis tangan Max.


"Aku akan menunggumu Ell..." ucap Max dengan wajah kecewa, karena kali ini dari sekian banyak wanita hanya Elora yang tak mampu ia taklukkan.


***


"Kediaman Diego Family"


”Kamu kenapa nak, beberapa hari ini sudah jarang keluar selain ke kantor dan juga pekerjaan?” tanya sang ibu ketika Max tiba di rumah kediamannya bersama ayah dan ibunya.


"aku bingung dengan wanita mam!" ujar Max sambil menghela napas.


”Ada dengan wanita Max?” tanya sang ibu kembali, sembari mengusap kepala Max dengan lembut.


Maxwel akhirnya menceritakan semua yang terjadi pada ibunya dan berharap mendapatkan jalan terbaik.


Hahaa...


”Anak mama sudah dewasa ternyata, dan sudah terjeak dalam cinta.” Ujar sang ibu menghiburnya.


"Mam, aku harus bagaimana? sepertinya perkataan ku sudah cukup membuat Ell ilpil padaku ma?" tukas Max dengan raut wajah sendu.


”Kalau kamu memang menyukainya dan serius dengannya, coba dekati dia dengan kejujuran.”


”Dulu mama juga hanya karyawan biasa dan akhirnya menikah dengan papa, karena papa selalu jujur.”


"Iya ma, sepertinya Ell belum mampu melupakan kenangan masa lalunya yang cukup menyakitkan."


”Jika masa lalunya sudah membuatnya lebih berhati-hati dalam memilih, itu justru suatu keuntungan untukmu.”


"maksud mama??" tanya Max ingin tahu.

__ADS_1


”Iya Max, mama yakin dia adalah wanita baik-baik dan tidak asal dalam bertindak. Karena mendengar dari ceritamu, dia tidak bermaksud maupun berambisi untuk mengambil haknya lagi.”


"Justru hal itu yang membuat aku bangga ma, dan aku akan berusaha lebih baik lagi."


”Oke sayang, mama mendukungmu.” Ujar sang ibu dengan lembut.


 


”Pap, sepertinya anak kita sedang jatuh cinta hingga membuatnya tak semangat untuk pergi bersenang-senang dengan rekan-rekannya seperti dulu.”


"Maksud mama, Maxwell?” sahut sang suami yang merupakan ayah dari Max.


”Iya pap, tadi Max sudah menceritakan semuanya pada mama.” Ujar sang isteri sembari memeluk sang suami.


"Papa sih terserah Maxwell saja ma, yang penting wanita itu adalah wanita baik-baik." Tukas sang ayah.


”Iya pap, dulu kita juga bukan pasangan yang ekonominya sepadan kan?”


"Iya ma, tapi papa suka dengan kepribadian mama dan juga kecantikan mama," ujar sang suami dengan lembut.


Ahh ”papa bisa saja...”


Kedua orang tua Maxwell terlihat cukup menyukai sosok Elora, namun akankah Maxwell berhasil menaklukan hati Ell.


****


" Apartemen kediaman Robert Lee"


Hahhh... Robert mengerang kesal.


"Bagaimana bisa aku menikahi Merry, tapi hatiku milik Elora.." gumam Robert seakan-akan hampir patah akan kisah cintanya bersama Elora.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku pun mungkin sudah menyakiti Elora dengan sandiwara ku saat makan malam itu..."


"Sayang, aku mau shopping besok, temenin aku yah sayang.." Merry.


Hahh... Robert membanting ponselnya ke atas kasur. Setelah membaca pesan Merry, Robert mencoba untuk menelpon Elora.


"Hallo, ini aku Elora.


Aku rindu padamu, bagaimana bisa kamu menyiksaku dengan rasa rindu ini Elora."


Yah, aku mohon sekali ini saja..."


”Yes, akhirnya bisa bertemu. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya...”


***


”Sayang, hari ini aku bahagia sekali karena kamu sudah menamaniku selama berjam-jam.” Ujar Merry sembari terus merangkul Robert.


"Kalau sudah cukup, aku mau kembali mengurus pekerjaanku.” Ucap Robert.


”Oke sayang, aku puas.”


Robert pun bergegas mengantarkan Merry pulang dan segera menemui Elora ditempat yang telah mereka janjikan.


***


Beberapa saat kemudian...


"Disebuah café coffe"


Robert pun tiba dilokasi café yang cukup tenang dan sangat pas untuk berdiskusi.

__ADS_1


Disana terlihat Elora sedang bermain iPad sembari meminum air mineral.


Perlahan Robert melangkah dengan pasti dan getaran dadanya pun masih sama seperti dulu yang selalu jatuh cinta pada Elora.


"Elora..." suara Robert menyapa dengan torehan senyuman yang masih sama pada Elora.


”Iya kak?” sahut Elora yang masih merasa cukup canggung setelah apa yang mereka lalui.


"Maaf aku ada urusan sebentar.”


”Mas, pesan kopi icenya dua yah dan juga roti."


”Baik pak, silakan ditunggu sebentar.” Ujar sang pelayan café tersebut.


"Terimakasih kamu sudah mau datang Ell," ujar Robert dengan sedikit canggung.


”Iya kak, silakan hal penting apa yang membuat kakak memintaku untuk datang?”


"Elora, aku bingung harus memulai darimana, aku tidak sanggup menikahi Merry..." ujar Robert dengan lirih dan nada sedikit berbisik.


”Lalu kenapa harus melapor padaku?” ujar Ell sembari mengaduk-aduk ice coffeenya.


"Elora, aku mencintaimu.." tukas Robert sembari memandangi Ell dengan tatapan sendu.


”Maaf kak, aku..---”


"Elora, sampai kapan kamu terus bersikap begini? apa kamu tidak mencintaiku lagi?? tolong jujur dengan perasaanmu??" ujar Robert dengan lirih.


”Kak Robert, aku pun tidak menginginkan semua ini, tapi akan lebih bermasalah jika kakak menentang keinginan orang tua kakak..” ujar Elora dengan lirih hati dan wajah yang berkaca-kaca.


"Lalu bagaimana perjuangan kisah cinta ini dek?" ujar Robert sembari meraih tangan Ell.


”Jangan kak Robert, jangan panggil aku dengan panggilan itu lagi...”


"Kenapa dek? bukankah kisah cinta kita dulu berawal dari panggilan itu."


”Tidak kak Robert.” Elora menarik tangannya kembali.


"Aku sudah menunda waktu pernikahan kami dengan cukup lama, itu semua demi kamu Elora."


”Cukup kak Robert!” Tegas Elora dengan nada yang memberat dan air matanya sudah mulai menetes dengan derasnya di pipi.


"Elora, jangan bohongi persaanmu."


Sementara itu Elora hanya bisa tertunduk sendu dengan sesenggukan.


"Elora, tolong topang aku untuk hubungan ini!!" Robert berusaha menenangkan hati Elora.


”Aku tidak sanggup lagi kak Robert, aku rasanya mau pergi dari kota ini.”


"Iya, Elora. Maafkan perbuatan keluargaku."


”Kak Robert, jangan begini..”


"Oke Elora, aku cukup puas bertemu denganmu hari ini, dan aku harap kamu bisa pikirkan apa yang sudah kita bicarakan."


Elora hanya terdiam menahan tangisnya dengan terus tertunduk.


"Elora, aku antar pulang. sekarang..."


”Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kak, jangan sampai nanti ada yang melihat.”


Pertemuan malam itu sangat Robert rahasiakan dari keluarganya maupun Merry...

__ADS_1


***


__ADS_2