Bukan kekasih SIMPANAN

Bukan kekasih SIMPANAN
Kalah dengan keadaan


__ADS_3

Meskipun sudah menjadi tunangan bagi Merry, namun hal itu tidak membuat Robert mampu benar-benar menjauh dari sisi Elora. Justru berbagai tantangan itu membuat Robert semakin menggila saja.


Namun, meski demikian, Robert masih belum mampu melawan restu dari keluarga besarnya. Robert seperti pria pecundang, yang terus mempermainkan keadaan. Disisi lain menuruti keinginan keluarga bahkan Merry. Namun disisi lainnya lagi, Robert juga terus mengejar Elora.


Tentu saja hal itu membuat Elora semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Robert. Lagi-lagi, Elora yang paling disalahkan, bahkan kerap lali direndahkan oleh keluarga Robert juga Merry.


•••


Perusahaan Xx.


Elora datang untuk bekerja seperti biasanya, namun sikapnya pada Maxwell cukup acuh dan dingin. Karena walau bagaimanapun juga, ucapan Maxwell pada malam itu cukup menyakitkan bagi Elora. Meski hanya sandiwara semata.


Ketika selesai bekerja Elora selalu pulang lebih cepat dari biasanya, hal itu dilakukan agar dapat terhindar dari pertemuan bersama Maxwell. Mereka pun menjadi jarang memiliki waktu luang bersama seperti dulu.


Mall Pusat Kota DKI Jakarta.


Elora pergi ke mall hanya seorang diri, bersantai dan menikmati makanan seorang diri tanpa teman.


”Aku harus tegas, aku tidak bisa menjadi perempuan lemah. Jika terus seperti ini, maka kak Robert akan semakin sesuka hati. Bagitu juga pak Maxwell kurang ajar itu.. kenapa aku dikelilingi oleh pria-pria pecundang seperti ini sih..” keluh Ellora, sembari melahap makanan miliknya.


Saat sedang duduk bersantai, tanpa Elora duga, Maxwell sudah duduk di hadapannya tepat di meja yang sama.


”Pak Maxwell!” Pekik Ell terkejut.


”Kita benar-benar harus bicara Elora, jika tidak kamu akan terus salah paham dengan ucapanki malam itu.” Ucap Maxwell dan sudah datang dengan hidangan miliknya.


”Aku tahu, kamu pasti benci padaku, tapi satu hal yang harus kamu tahu! Aku bicara seperti itu, karena aku ingin melihat respon dari Robert.” Jelas Maxwell.


”Lalu, respon dari kak Robert sudah bapak terima kan? Hal itu sudah cukup membuat bapak puas, karena ternyata kak Robert hanyalah pecundang.” Ketus Elora.


”Maaf Elora, untuk menebus kesalahanku.. mulai detik ini aku tidak akan segan untuk mengakui perasaanku pada di tengah orang lain.”


”Pak Maxwell, tolong jangan bersikap gila dan bercanda bapak sudah sangat keterlaluan!”


”Kedua orangtuaku sudah tahu, kalau kamu adalah perempuan pilihanku, dan aku yakin memilih kamu.”

__ADS_1


”Bagaimana bisa bapak seyakin itu? Bapak sendiri tidak mengenal aku kan?”


”Aku sudah cukup mengenal kamu Elora. Elora, aku tahu perasaanmu pada Robert hanyalah dilema. Bagaimana mungkin, perempuan cerdas seperti kamu mau diberi harapan palsu terus menerus. Kamu hanya ingin menjadmga suasana tetap baik kan?”


Elora terdiam, dan mulai sadar bahwa selama ini Robert hanyalah pria pecundang dan terus membayanginya. Karena Robert yang terus bersikap plin-plan, itulah yang membuat Elora terus bingung.


”Elora, aku benar-benar jatuh cinta padamu... Aku bersungguh-sungguh.” Tegas Maxwell, dan rasa ingin menggenggam kedua tangan Ell. Hanya saja, mereka sedang di tempat umum nan ramai. Maxwell juga masih memiliki rasa malu, pikirnya.


”Pak Maxwell, jujur selama bersama bapak, saya merasa sangat nyaman. Namun, saya tidak ingin kita memulai suatu hubungan, sedangkan diantara kita masih belum selesai dengan masa lalu. Bapak mengerti kan maksud saya?”


”Malam ini kita akan bertemu Robert, dan kamu tegaskan apa yang menjadi keputusanmu. Tidak peduli akan seperti respon Robert.”


Elora merogoh isi tasnya dan menelepon Robert untuk bertemu sebentar di area loby.


”Hallo kak Robert, aku mau bertemu kakak sekarang, di loby Timur..--”


Beberapa menit kemudian...


Tanpa butuh waktu lama, Robert pun tiba di loby Timur, dikarenakan Robert kala itu sedang memgadakan pertemuan penting di mall yang sama dengan Elora.


•••


Mereka bertiga pun bertemu dan duduk di Startb**k.


Robert sudah telanjur bahagia, hanya saja melihat kehadiran Maxwell membuat Robert kesal, dan merasa cemburu tentunya.


”Kak Robert, aku tidak ingin bertele-tele lagi, kita langsung ke inti permasalahan kita saat ini..”


Robert menenggak segelas kopi panas miliknya, dengan perasaan yang campur aduk.


”Mulai detik ini, kuharap kakak berhenti untuk mengusik hidupku. Diantara kita sudah lama berakhir, dan aku pun sudah tidak menginginkan kakak untuk bersamaku sejak saat aku tahu kita tidak mungkin dapat bersama. Kuharap, kakak dapat mengerti. Karena aku juga ingin menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang.” Terang Elora.


”Lalu, kamu pikir dengan bicara seperti ini, bisa membuat kakak menuruti semua ucapan kamu?” balas Robert yang seolah tak menganggap serius ucapan dari Elora.


”Kak Robert, biar kutegaskan! Aku sudah menutup hati untuk kakak, dan aku tidak ingin lagi berurusan dengan pihak keluarga dari kakak.” Tegas Elora yang sudah tersulut emosi.

__ADS_1


”Elora, kakak sudah berkali-kali mengajakmu pergi ke luar negeri dan menetap di sana. Tapi kamu tidak pernah bersedia. Lalu, sekarang kamu anggap kakak yang salah?” Robert terlihat sangat marah juga kecewa dengan pernyataan dari Elora.


Sementara itu, Maxwell tidak senang akan sikap Robert. Walaupun kala itu, Maxwell berada di meja berbeda dan membiarkan Robert bersama Elora bicara berdua.


”Ingat kak, keluarga kakak adalah terpenting. Bersamaku, hanya akan membuat keluarga kakak menjadi kacau. Bukan hal itu yang aku inginkan...”


”Kakak akan meninggalkan Merry dan menikahimu. Kita pergi dari Indonesia, dan hidup bahagia di luar negeri.”


”Tidak kak... Itu tidaklah mudah, kakak akan mengorbankan dua belah keluarga. Keluarga Merry, juga keluarga kakak sendiri...” lirih Elora yang sudah mulai tak tahu harus berbuat apa lagi.


”Apa yang telah keluargaku juga Merry lakukan padamu, Elora? Sehingga, kamu terlihat kalah seperti ini?”


Elora tetap tidak ingin bicara sepatah kata pun, mengenai perlakuan kejam dari Merry juga keluarga Robert.


”Kita akhiri semua ini, dan saling melupakan satu sama lain...” ucap Elora penuh lirih.


”Lalu kamu pikir aku akan bahagia, hmmp? Sekalipun aku akhirnya menikahi Merry, maka hal itu hanya akan membuatku menjadi pria pecundang, dan akan membuat dua wanita menderita.” Tegas Robert dengan menatap tajam ke arah Elora.


”Cintai Merry, seiring berjalannya waktu kakak akan mencintainya..”


”Elora, kamu benar-benar sudah sangat keterlaluan kali ini! Kamu terlalu cepat menyerah dengan keadaan! Ingat baik, kalau aku menikahi Merry, maka kupastikan kamu juga tidak akan bisa menikah drngan pria manapun!” Peringat Robert, seakan Elora hanya akan menjadi miliknya.


”Kak Robert, berhenti memprovokasiku.. Aku sudah muak dengan semua sikap kakak!”


”Aku begini karena kamu Elora, kami yang terlalu takut untuk mengambil keputusan!”


”Aku, takut?” Elora semakin emosi dibuatnya, hingga hampir mengebrak meja.


”Aku akan segera menikahi Merry, tapi kupastikan kamu tidak akan bisa lari dariku!” Peringat Robert, dan membuat bulu di sekujur tubuh Elora bergidik ngeri. Ucapan Robert tak sekadar ancaman semata, dan terlihat sangat serius.


Robert pun bangkit dan melangkah pergi dengan penuh kecewa. Sementara Elora hanya terdiam, dalam rasa yang tidak menentu. Keadaan mereka kali ini, tentu bukanlah keinginan mereka.


Akankah kisah mereka tetap berlanjut, atau justru Elora memilih untuk pergi jauh dari hidup Robert?


***

__ADS_1


__ADS_2