Bukan kekasih SIMPANAN

Bukan kekasih SIMPANAN
Pengagummu


__ADS_3

"Apa maksudmu Max?" ujar Robert dengan raut wajah yang cukup kesal.


"Kenapa Robert Lee, apakah apa yang aku katakan tadi benar?" ujar Max dengan tetap santuy.


"Kamu jangan sembarang bicara Maxwell!" tukas Robert yang terlihat semakin marah.


Hahaa... "sudahlah Robert, aku hanya bercanda!" ujar Max dengan terkekeh.


"Apa maksud candaan mu begitu?" sejenak Robert merasa lega, karena ia tak ingin Max mengetahui hubungannya bersama Ell.


"Kamu sudah ingin pulang Max??" ujar Merry yang baru saja tiba.


"iya Merry, aku pulang dulu. Bye Merry, bro Robert..."


"Elora kemana, coba aku telpon dulu."


Aishh..."kenapa tidak diangkat sama sekali.." gumam Max dengan penuh kekuatiran.


"Apa aku langsung ke apartemennya saja..." Max mulai berpikir untuk langsung menemui Ell di kediamannya. Tanpa berpikir lama, Max akhirnya pergi menemui Ell yang sudah pulang terlebih dahulu.


"Apartemen kediaman Elora Shin"


Drrttt... pak boss Maxwell memanggil...


Elora: ”Hallo pak,”


Maxwell: "Kamu dimana Elora? aku sudah di loby utama gedung apartemenmu.”


Ell pun bergegas menuju loby apartemennya, dan terlihat Max sedang duduk di kursi tunggu loby apartemen tersebut.


"Pak Maxwell," ucap Ell mengapa Max yang sedang duduk menunggu dirinya tiba.


"Ell, kamu belum tidur?" tanya Max dengan sedikit canggung.


"Belum pak, buktinya saya masih sempat turun menemui bapak." Jawab Ell dengan raut wajah yang sudah sendu karena mulai mengantuk.


"Maaf, kalau aku menganggu istirahatmu. Ini Ell, aku hanya ingin mengantarkan ini saja." Max menyodorkan sekantong yang berisikan kotak burger dan minuman coklat hangat.


"Kenapa pak? saya tidak memesan ini," ucap Ell keheranan.


"Iya itu aku yang pesan, karena cuaca kurang bersahabat. Kamu harus tetap sehat, supaya pekerjaanmu tak terbengkalai."


"Ohh jadi karena hal itu! baik, terimakasih pak Max sudah repot-repot memperhatikan kesehatan karyawan."


"Sama-sama Ell, lain kali aku ingin bicara denganmu!!" Max pun segera meninggalkan gedung apartemen kediaman Ell.


Hmmp... "aku memang cukup lapar karena masih harus melanjutkan naskah novelku.." Gumam Ell yang duduk sambil mengerjakan naskah novelnya dan mulai menyantap makanan pemberian Max.


Semenjak perbincangan beberapa hari saat di pesta makan malam itu, Ell menjadi lebih menyadari posisinya yang hanya seorang sekretaris biasa dan tak ingin menganggap sebgai sesuatu yang serius semua bentuk perhatian Max.


Sesekali Max mencuri-curi waktu untuk melihat keadaan Ell saat bekerja, karena ia tahu jika Ell sudah bersikap dingin padanya semenjak makan malam beberapa hari telah lalu.


"Ehh, tunggu!!" ujar Max yang mencoba menghentikan seorang office boy.


"Iya pak bos?" ujar salah seorang office boy.


"Tolong berikan ini untuk Elora Shin , yang disana!" ujar Max menunjukkan posisi ruangan tempat Ell bekerja, sembari memberikan segelas coklat hangat beserta burger.


"Oke baik pak, ada lagi?" ujar office boy tersebut.

__ADS_1


"Sudah cukup ini saja, thank you yah!!" ujar Max dengan raut wajah tersenyum dan berharap mendapat respon terbaik dari Elora.


...


"Permisi nona Elora Shin!" ujar sang office boy sembari membawakan titipan dari Max.


"Iya mas, ada apa?" jawab Ell sembari memutarkan kursi kerjanya.


"Ini ada titipan makanan untuk nona!" ujar office boy tersebut sembari menyodorkan makanan tersebut.


"Tapi saya tidak pesan mas?" ujar Ell dengan heran.


"Iya, ini memang spesial untuk nona dari big boss!" tukas sang office boy dengan tersenyum.


"Oke, terimakasih mas." Ell pun menerima makanan tersebut, lalu meletakkannya disamping layar komputernya.


Drrttt.. dua pesan baru belum dibaca...


"Ell, silakan dinikmati sebelum selagi hangat, jaga kesehatan. Pak bos Maxwell." Isi pesan dari Max padanya, seketika juga membuat Ell menjadi tidak terlalu senang dengan perlakuan bos tersebut karena mengingat apa yang Max ucapkan saat di pesta makan malam itu.


"Kenapa harus seperti ini? apa maksud pak Max sebenarnya?" gumam Ell dengan raut wajah penasaran dan penuh penasarannya.


Semakin hari Max semakin memberikan perhatiannya pada Ell, dan Ell pun sudah mulai terbiasa dengan hal tersebut namun terkadang Ell pun harus tetap menjaga hatinya agar tidak mudah goyah.


"Elora, malam ini kita makan malam bersama setelah menyelesaikan rapat dengan pimpinan saham M."


Oke pak Max.


***


"Restoran X"


"Pak, saya akan pesankan makanan terlebih dahulu." Ujar Ell sembari melangkah menuju bagian kasir.


Beberapa saat kemudian...


"Pak Max, sambil makan saya akan bacakan apa yang menjadi evaluasi dari rapat malam ini." Ujar Ell sembari sibuk membuka catatan notulennya dan juga iPad yang sedang menyala di atas meja makan.


"Tidak bisakah kamu singkirkan dulu pekerjaan itu Ell, kita sedang khusus untuk makan!!" tukas Max dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya pak Max, tapikan bapak pernah bilang seusai rapat jika ada ada waktu luang harus dilaporkan pada bapak."


"Iya aku tahu Ell, tapi bukan malam ini! apakah kamu sudah sangat gila bekerja?"


"Maksud bapak?" tanya Ell yang masih saja membuka iPad miliknya.


"Elora!!" Max tiba-tiba merampas iPad tersebut, lalu mematikannya.


"Sekarang sudah bisa makan dan mengobrol dengan tenang." UcapMax sembari menyodorkan coklat moccha float pada Ell.


"Maaf pak, tapi saya rasa ini pun waktu untuk membahas pekerjaan, sambil makan pun masih teTap bisa pak."


"Elora!! kamu tahukan apa yang sudah aku ucapkan? aku tidak suka kalau kamu masih ngotot begini!"


"Sekarang adalah saatnya kita mengobrol dan makan malam dengan tenang?"


"Memangnya bapak ingin membicarakan masalah apa?" ujar Ell dengan ekspresi tetap tenang.


"Elora, apa kamu sudah benar-benar melupakan aku??" tanya Max dengan serius.

__ADS_1


"Maksud bapak?"


"Elora, kesabaran ku hampir habis untuk menunggu respon terbaik darimu. Dari semua perhatianku, tidakkah kamu bisa mengingatku dengan baik."


"Mengingat tentang apa?" tanya Ell lagi dengan ekspresi tetap tenang.


"Elora, dari semua yang aku lakukan apakah kamu tidak menaruh rasa suka padaku?"


Uhukk uhukk...


”Apa maksud candaan bapak kali ini?” balas Ell yang begitu terkejut dengan pertanyaan Max tersebut.


"Elora, aku sudah lama menyukaimu, sejak pertemuan kita di Inggris beberapa tahun yang lalu." Ujar Max sembari menggenggam tangan Ell.


"Maaf pak, bapak membuat saya bingung." Ella menarik kembali tangannya.


"Kenapa Ell? kamu belum move on dari Robert! sadarlah dia sudah akan segera menikah!"


"Robert.." Hmpp...


"Saya sungguh terkesan dengan semua perhatian bapak. Tapi saya tahu diri akan posisi saya pak."


"Begitu?" Max hanya memandangi ekspresi wajah Ell saat mengatakan hal tersebut dan berusaha mencerna maksud dari pernyataan Ell.


"Apa karena kita boss dan sekretaris, lalu membuat kita tidak bisa saling bersama??"


"Tentu saja pak, saya tidak ingin orang-orang akan berpikir, jika saya aji mumpung, mencari kesempatan." Tegas Ell dengan penuh keyakinan akan pernyataannya tersebut.


"Jadi, kamu sekarang memiliki pemikiran sesempit itu Ell, setelah menerima gelar Master Managementmu?" ujar Max dengan nada yang cukup kesal akan pernyataan dari Ell.


"Iya, saya memang berpikir sempit karena saya hanya tahu bekerja!" Tukas Ell dengan raut wajah yang menahan kekesalan akan pernyataan Max namun tetap berusaha tenang.


"Elora, apa bagusnya Robert? sudah jelas-jelas dia akan segera menikah Elora!!"


"Kenapa bapak harus membicarakan seseorang yang sudah menjadi masa lalu saya? saya tidak peduli dengan nama tersebut." Tukas Ell dengan ketus.


"Iya Elora, aku sudah lama menyukaimu!


, dan usahaku untuk bisa menempati posisi seperti sekarang itu tidak mudah. Aku berusaha agar kamu bisa melihatku bukan dari apa yang dimiliki keluargaku."


"Saya tidak terlalu memedulikan alasan bapak masuk ke perusahaan itu, tapi saya sangat tidak suka jika seseorang menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan!" Tegas Ell.


"Elora, apa maksudmu? setelah aku berusaha berani berkata jujur tentang perasaanku. Kenapa justru aku harus menerima perkataan kejammu?"


"Maaf pak Maxwell, jika sudah selesai bercanda saya ingin segera pulang untuk beristirahat."


"Elora, lihat betapa sombongnya dirimu sekarang!"


"Iya saya sombong pak, terimakasih pujiannya." Ujar Ell sembari membereskan barang-barangnya.


"Elora, jika kehadiranku sebagai atasanmu membuatmu tidak nyaman, oke aku akan keluar dari perusahaan, sehingga kamu bisa memandangku sebagai Maxwell Diego yang biasa." Tukas Max dengan wajah serius.


"Tidak perlu pak, karena kesadaran diri saya pun sudah sangat cukup." Elora pun bergegas menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran tagihan makanan.


"Elora, apakah aku sudah membuatmu tidak nyaman dan menyinggung perasaanmu?" ujar Max saat dalam perjalanan


"Tidak pak, tapi saya tidak berminat menjadi selingan dikala waktu bosan bapak." Ujar Ell sembari memandangi keluar kaca mobil.


"Elora, tapi aku sangat serius, aku tidak seperti Robert yang meninggalkan seorang wanita hanya karena status sosial!" tukas Max sembari menggenggam tangan Ell.

__ADS_1


__ADS_2