
Luke terlihat benar-benar serius atas ucapannya kali ini, dan Elora pun hampir tak bisa berkata apapun. Sebenarnya, ini bukanlah hal yang terlalu mengejutkan, mengingat selama ini, Luke sudah memancarkan sinyal-sinyal cinta diantara mereka berdua.
”Jika nona Elora masih belum bisa memberikan jawaban saat ini, tidak masalah, nona. Aku akan menunggu.” Ucap Luke, lalu melanjutkan santapnya.
Elora merasa tidak enak hati pada Luke. Namun, ini masalah perasaan bukan perihal balas budi. Elora juga harus pintar dalam memilih sebuah keputusan. Hanya karena Luke begitu baik pada Elora, bukan berarti Elora tidak dapat memberikan penolakan pada Luke.
Namun, sejauh ini, Elora sepertinya juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja Elora tidak ingin terburu-buru dan terkesan gegabah.
Kebersamaan mereka sore menjelang malam itu pun berlalu begitu saja, sementara itu Elora masih belum memberikan jawaban pasti.
* * *
Saat Elora baru saja pulang bekerja, rasanya sangat ingin segera untuk beristirahat. Akan tetapi...
”Heh! Pelakor murahan!” Teriak seseorang dari arah belakang langkah Elora, tepat di area parkiran apartemen kediaman Elora.
Elora pun berbalik, ternyata di sana sudah ada Merry.
”Racun apa yang sudah kamu berikan pada Robert? Sampai-sampai Robert bersikap acuh padaku?” Bentak Merry.
”Sungguh maaf, Merry. Selama ini aku tidak pernah saling komunikasi lagi dengan kak Robert, bahkan setelah kalian bersama. Jadi, kalau kamu asal tuduh begini, jangan salahkan aku, kalau aku juga bisa bertindak padamu.” Tegas Elora.
”Oh, jadi kamu sudah mulai memiliki taring sekarang? Seberapa besar sih gaji kamu sekarang? Paling-paling, cuma upah minimum regional/ UMR!” Ejek Elora.
”Lalu, apa urusannya dengan kamu? Kalaupun gajiku cuma UMR, apakah mengurangi porsi beras di rumah kalian?“ balas Elora, tak kalah ketus.
”Kamu!” Merry pun kehabisan kata-kata.
”Merry, kalau sikapmu asal tuduh begini terus, jangan salahkan aku, kalau aku kabulkan keinginan kamu!” Tegas Elora.
”Dasar pelakor rendahan, miskin!” Ejek Merry, lalu berlalu dari hadapan Elora. Mendengar penghinaan dari Merry, Elora hanya bisa mengelus dada.
Bagaimana bisa, Elora dikatakan sebagai seorang pelakor, padahal jelas-jelas Merrylah yang sebenarnya layak di sebut seperti itu. Karena kehadiran Merrylah yang membuat hubungan Robert dan Elora menjadi hancur.
* * *
Malam ini, lagi-lagi Robert pergi ke kediaman Jason, hanya untuk berkeluh-kesah. Diwaktu yang sama, Alice pun juga berada di sana.
__ADS_1
Alice terlihat begitu antusias, ketika Robert berada di sana.
”Hallo, Jason ada?” tanya Robert, yang kala itu kebetulan hanya ada Alice seorang.
”Kak Jason sedang ada urusan, tapi tidak lama lagi pulang. Silakan duduk, kak Robert.” Ucap Alice, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan secangkir teh panas beserta beberapa potong kecil brownies.
•••
”Tidak perlu repot-repot begini, Alice.” Ucap Robert.
”Tidak apa-apa, kak. Silakan kak,” ucap Alice. Kemudian, keduanya mulai berbincang-bincang santai hingga ke arah yang jauh lebih dalam lagi. Di sini, Alice tidak pernah mau membahas perihal urusan rumah tangga. Karena bagi Alice, Robert hanyalah pria kesepian yang seolah tak memiliki pasangan hidup.
”Maaf Alice, arah pembicaraan kita jadi melenceng jauh, aku tidak bermaksud untuk curhat.”
”Kenapa harus minta maaf kak, kan aku dengan senang hati mendengar keluh kesah kakak.” Ucap Alice, dan diam-diam Alice meminta agar Jason pulang lebih lama. Sepertinya, Alice memiliki niat lain dengan kebersamaan ini.
”Sepertinya, kamu sudah banyak tahu tentangku dari Jason, kan?”
”Kak Robert, jika kakak butuh seseorang untuk sekadar mendengarkan keluh kesah kakak, aku siap untuk menjadi seseorang tersebut. Kakak juga jangan berburuk sangka, aku hanya tidak suka melihat laki-laki tulus seperti kakak dipermainkan..” Ucap Alice yang mulai melancarkan jurus-jurus pelakornya.
Alice perlahan duduk mendekati Robert, dan mendengarkan Robert bicara dengan sangat fokusnya serius. Mungkin karena pengaruh suasana sepi dan juga suasana hati Robert sedang kacau. Akhirnya, Robert pun terjatuh pada Alice.
Alice dengan inisiatif mendekati wajah Robert, memeluk Robert seakan memberikan rasa ketenangan.
”Malang sekali nasib pria baik ini, harus hidup dalam tekanan. Ah, aku tidak masalah kalau harus jadi yang ke sekian kalinya, lagian pria ganteng mapan begini siapa yang tahan untuk menolak..” batin Alice.
”Kak Robert, kakak boleh melampiaskan rasa gundah kakak padaku..” ucap Alice yang sudah dipenuhi kabut nafsu.
Alice pun dengan agresif mencium bibir Robert, dan keduanya pun melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan single bersama seorang pria yang sudah berstatus suami orang. Robert yang sudah kepalang pun akhirnya menyerang dengan lebih ganas lagi. Keduanya mulai melakukan hal-hal berlebihan, dan tak senonoh. Hampir saja Alice menyerahkan kehormatannya pada Robert, namun Robert pun dapat menghentikan tindakannya pada Alice.
”Alice, masa depanmu masih sangat cerah. Aku tidak ingin merusak perempuan seperti kamu.” Ucap Robert, ketika mendapati Alice yang masih perawan itu. Sungguh beruntung nasib Robert, kini seorang gadislah yang menyerahkan diri padanya.
”Kak Robert, jangan benci aku, oke..” rengek Alice yang berusaha untuk merayu Robert. Alice pun takut, jika karena kejadian malam ini, hubungan diantara mereka menjadi canggung.
”Alice, maafkan aku.. aku tidak bermaksud..” sesal Robert.
”Kak, aku tidak masalah.. dan aku juga tidak menuntut kakak untuk memiliki hubungan denganku. Pastinya, aku akan selalu siap ada untuk kakak, kapan pun kakak ingin..” ucap Alice.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian...
Jason pun tiba di kediaman itu, dan seolah tak tahu apa-apa.
”Robert, sorry banget, aku baru selesai pertemuan dengan klienku.” Ucap Jason, lalu duduk. Tanpa sengaja melihat area leher milik Robert terdapat tanda cinta.
”Sepertinya Alice sudah mulai melangkah lebih maju..” batin Jason, dan mengabaikan hal itu.
Jason
”Kak Jason, kak Robert, aku istirahat dulu, kalian silakan mengobrol.” Ucap Alice dengan ekspresi wajah yang sumringah.
”Oke, thank you Alice!” Balas Robert dengan wajah tersenyum. Di sini, Jason hanya berpura-pura untuk tidak tahu menahu dan juga tidak berniat untuk turut campur urusan Robert juga Alice.
”Aku baru mendengar berita di koran, kalau perusahaan milik keluarga Merry sedang naik daun ya?” tanya Jason.
”Itulah letak permasalahannya,” ucap Robert.
”Ada apa? Apakah mereka memberikan penekanan pada perusahaan Lee?”
”Yah, saat ini omset perusahaan Lee sedang menurun drastis, beberapa investor juga mulai mengurangi pasokan barang. Tentu saja, papa dan mama akan membunuhku dengan cara mereka menekanku, jika aku berani membuat Merry marah.” Ucap Robert.
”Ternyata, kisah kalian tidak hanya ada di dunia dongeng saja, dimana yang kaya akan mengalahkan yang dibawahnya walau harus dengan merendahkan harga diri sendiri.” Ucap Jason.
”Saat ini, hubunganku dengan Merry pun tidak baik-baik saja. Setiap hari, hanyalah pertengkaran yang tidak berarti..” ucap Robert dengan wajah lesunya.
Diam-diam, Alice ternyata sedang menguping dan berniat untuk berbuat sesuatu pada apa yang sedang perusahaan Robert alami.
Apakah Alice juga merupakan seorang wanita yang memiliki garis keturunan konglomerat? Sehingga Alice berpikir untuk membantu Robert...
***
__ADS_1