
"Kring.....", Bunga itu jam mu sudah berbunyi ayo cepat bangun nanti kau terlambat", kata ibu yang sudah beberapa kali mengingatkan pada Bunga untuk segera beranjak dari tempatnya tidur.
"Baik Bu, ini bunga udah bangun !", jawab bunga yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya untuk segera bangun dan bergegas pergi ke kampus.
Hari ini tak terasa sudah 2 Minggu semenjak ia mengenal Pak Dosen dan juga katak arogan.
Rasanya aneh jika bertemu lagi di kampus dan tak saling menyapa.
Bunga sangat sadar Dosen arogannya tak akan menyapanya, namun setidaknya hati ini ia bisa melihat Katak arogannya lagi.
Sastra Inggris pelajaran yang Bunga sangat sukai.
Meski kesan pertama sangat menakutkan kini ia tak begitu takut ketika bertemu dengan Pak Diksi.
"Ya ampun mana buku ku ya?", kata Nina yang sudah siap dengan tas yang sudah ia gantung di badanya, namun ada buku yang lupa ia taruh.
"Ah sudahlah nanti aku telat", kata bunga yang kemudian mengurungkan niatnya untuk mencari buku untuk mata kuliah Harri ini.
Pagi ini langit sangat cerah dengan awan putihnya yang terlihat begitu menawan.
Sesekali Bunga menoleh ke kanan dan kiri jalan dan melihat beberapa bunga jalanan yang hidup dengan subur meski tak memilik pemilik yang mengurusnya.
Namun bunga jalanan tumbuh dengan sangat baik.
Tuhan sangat adil untuk setiap hal yang Tuhan ciptakan.
Meski tanaman tidak bisa bergerak seperti manusia untuk mencari nafkah, tapi ia tumbuh dengan kasih Tuhan.
Tidak terkecuali dengan hewan-hewan di hutan yang hidup secara bebas untuk mencari makanannya sendiri.
Burung-burung yang berterbangan dengan bebas, aku sangat penasaran mengapa ia sangat pandai mencari makan.
Tentu saja karena kasih Tuhan tak pernah melihat seberapa buruk ciptaan-Nya, karena Tuhan selalu adil dalam hal kasih sayang.
"Andai aku bisa terbang pasti sangat menakjubkan, aku bahkan bisa melihat semua keindahan tuhan tanpa batas", Kata bunga yang masih mengendarai motornya menuju kampus.
Hari ini ia tak menjemput Dini, karena anak itu sudah pasti berangkat lebih awal.
__ADS_1
Dia anak yang rajin dalam hal pelajaran nilainya bahkan selalu di atas bunga. Layaknya seorang adik Dini tak jauh berbeda dengan kakaknya yang pintar.
Dulu ia sangat malas dalam hal belajar, namun anehnya Dini selalu meraih peringkat 1 di dalam kelas.
Gen cerdas memang sudah melekat pada keluarga mereka.
Bukan hanya pintar namun keluarga mereka adalah satu-satunya tetangga yang sangat baik terhadap keluarga bunga.
Mereka bahkan saling mendukung dan tidak pernah berselisih.
Dulu Ayah adalah sahabat dekat Ayah Dini, mereka berdua selalu bersama-sama seperti aku dan Dini saat ini.
Bahkan ayah selalu ingin jika aku menikah dengan kak Lucky.
Seperti itulah ayah yang sangat menyayangi kak Lucky, dari dulu ia selalu memimpikan seorang anak laki-laki.
Saat kak Lucky baru lahir ibu dan ayah sering menjaganya karena kesibukan Ayah dan Ibu kak Lucky yang selalu pergi ke luar kota untuk Dinas pekerjaan.
Maka dari itu ayah selalu menganggap kak Lucky adalah anak laki-lakinya.
***
Bunga yang kemudian berlari di koridor kampus dan terus menatap ketik yang terus berjalan di jam tangannya.
"Bruak....", suara Bunga yang tiba-tiba secara tidak sengaja menabrak seseorang di depannya dan terjatuh dengan barang bawaannya.
"Apa kau tidak punya mata?", kata laki-laki yang baru saja Bunga tabrak hingga jatuh tersungkur.
"Maaf aku tidak sengaja, apa kau terluka?", tanya Bunga pada laki-laki yang baru saja memarahinya karena bunga tabrak tanpa sengaja.
"Kau lihat bajuku kotor terkena dubu yang kau bawa dari motor butut mu itu", jawab laki-laki arogan yang masih protes dengan Bunga yang tak sengaja menabraknya.
"Hey aku kan sudah minta maaf dengan baik, kenapa anda masih marah-marah !", kata Bunga yang ikut kesal ketika permintaan maaf.an tulus nya di balas dengan penghinaan.
"Kenapa kau tak terima, aku tadi melihatmu di jalan dengan motor butut mu dan sialnya aku melihatmu lagi huh", kata laki-laki tersebut yang ternyata sebelumnya ber pas-pasan dengan Bunga di jalan.
Laki-laki itupun pergi dengan perasaan kesalnya dan meninggalkan Bunga yang masih menyentuh lututnya yang terluka.
__ADS_1
"Meski aku yang menabraknya, tapi dia bahkan tak mengalami lecet sama sekali malah sekarang lutut ku yang terluka, ah..", kata Bunga menahan rasa sakitnya dan mencoba untuk bangkit dengan sendirinya.
"Sini biar ku bantu..",kata seorang laki-laki berbadan tegap dengan setelan jas nya yang senada dengan dadi yang ia kenakan.
"Pak Diksi?, bukannya Andi sudah di kelas untuk mengajar?", tanya Bunga yang heran melihat Dosennya yang tiba-tiba berada di dekatnya.
"Aku menghentikan kelas setelah mendengar suara dari luar, dan ternyata itu dirimu cepat kemari pegang tanganku", kata Pak Diksi sembari mengulurkan tangannya pada gadis mungil yang sebelumnya sudah banyak membantunya.
"Ah..terima kasih pak,aw..", rintih Bunga kesakitan dan tak sanggup untuk berdiri.
"Lain kali jika kau terlambat di kelasku tak apa untuk berjalan perlahan aku akan memakluminya, karena kau sudah banyak membantuku sebelumnya", Kata Pak Diksi yang kemudian merundukkan badannya dan duduk Condong ke depan berniat untuk menggendong Bunga.
"Pak itu tak perlu aku akan berusaha untuk berdiri", kata Bunga menolak tawaran Dosennya yang berniat untuk membopongnya ke Ruang UKS.
"Sudah menurut !", tegas Pak Diksi yang kemudian membalikan badannya dan menggendong Bunga di Bagian depan seperti membopong seorang Putri.
"Pak..turunkan saya, bagaiman jika mahasiswa atau Dosen lain melihat", Tolak Bunga yang meminta Pak Diksi untuk segera menurunkannya dari gendongan Dosennya.
"Sudah menurut aku tak suka di bantah, lagi pula aku tak peduli jika ada orang lain yang melihat. Siapa di sini yang berani menentang ku!" kata Pak Diksi yang terus berjalan menyusuri koridor kampus dan membawa bunga ke ruang UKS.
"Tapi Pak, bagaiman dengan kelas yang bapak ajar..",kata bunga yang masih protes tentang Dosennya yang terus membopongnya.
"Sudah diam, atau aku akan mencium bibirmu yang sangat mungil itu", goda Pak Diksi yang berhasil membuat Bunga Diam setelah mendengarkan Pak Diksi berbicara.
"Kenapa kau telat?", tanya Pak Diksi penasaran kenapa anak seperti Bunga telat untuk masuk ke kampus.
"Iya kemarin aku kelelahan setelah keluar dengan temanku, jadi aku sulit untuk bangun pagi", jawab Bunga dengan masih menahan sakit di lututnya.
"Aw...Pak ku mohon lebih lembut, ini sangat perih", kata Bunga yang protes ketika Pak Diksi mengoleskan Obat di luka yang barusan ia dapat.
"Siapa temanmu? Apa dia laki-laki?", tanya Diksi dengan terus mengintrogasi Bunga seperti saat ia menjadi katak yang terus saja mengomel tanpa henti.
"Iya laki-laki dia kakak dari sahabatku",jawab Bunga dengan wajahnya yang masih menahan sakit.
"Jadi itu alasanmu menolak ajakan makan malam ku?", Tanya Pak Diksi lagi yang terus mengintimidasi Bunga karena sebelumnya ia di tolak ajakan untuk makan malam bersama.
"Eh..tapi itu karena memang Kak Lucky yang terlebih dahulu mengajaku keluar, jadi tentu saja aku memilih untuk keluar bersamanya", jawab Bunga dengan polos.
__ADS_1
"Ini kau urus saja luka mu sendiri, atau kau boleh menelfon teman laki-laki mu itu untuk mengobati mu !", kata Pak Diksi sembari memberikan obat yang sedari tadi ia pegang dan oleskan perlahan pada lutut Bunga yang terluka dan akhirnya pergi meninggalkannya karena ia merasa kesal ketika mendengan alasan bunga menolak ajakan makan malam dengannya.
"Ya ampun apa itu tadi, kenapa dia bertingkah seperti seseorang yang sedang terbakar api cemburu, tidak..itu tidak mungkin orang seperti Pak Diksi mana mungkin menyukaiku!", kata Nina bergeming dalam hati dan melanjutkan mengoleskan obat yang baru saja Diksi tinggalkan bersamanya yang masih terbaring di ruang UKS.