Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 17 [Mengatakan]


__ADS_3

Pagi ini langit agak mendung, bahkan matahari tak terlihat karena tertutup kerumunan awan hitam yang akan segera mengeluarkan isi perutnya.


Diksi yang sudah bersiap-siap untuk mengajar sembari menata barang-barang yang akan dia bawa.


Sesekali menatap keluar jendela, dan mengembangkan senyumnya.


"Ah..entahlah kenapa tiba-tiba aku tersenyum bahagia", kata Diksi dengan masih menetap air hujan yang mulai menetes sedikit-demi sedikit.


Diksi hanya merasa lucu untuk dirinya sendiri.


"Harusnya aku akan takut ketika aku menyentuhmu, tapi entahlah sekarang aku sangat ingin berubah menjadi katak", katanya yang tiba-tiba menginginkan wujudnya sebagai katak.


Mengingat Diksi yang sudah mengetahui obat penawarnya. Dia sangat senang jika harus melakukannya kembali.


"Aku pasti gila, bahkan membayangkannya saja membuatku sangat bahagia", kata Diksi yang dengan cepat mengambil barang-barang yang sudah ia siapkan dan bergegas menuju mobil di bagasi rumahnya.


"Hallo pa selamat pagi..", sapa Diksi pada ayahnya yang tengah menyeruput teh di temani koran pagi yang biasa ia baca.


"Pagi.. akhir-akhir ini aku selalu tersenyum, ayah bahagia melihatnya", kata ayah yang masih fokus dengan korannya.


"Tentu saja, anak laki-laki mu ini sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya", jawab Diksi dengan bangga.


"Benarkah..", kata ayah sedikit kaget sembari menaruh koran yang ia baca.


"Siapa itu katakan pada ayah?", ayah yang penasaran mulai bertanya tentang siapa orang yang bisa mengubah anaknya menjadi lebih baik.


"Dia hanya wanita sederhana ayah", kata Diksi menjelaskan.


"Jalok begitu lekas bawa ke rumah dan kenalkan pada ayah dan keluarga kita", jawab ayah denga penuh semangat.


"Apa ayah tidak kebenaran?", tanya Diksi lagi meyakinkan ayahnya.


"Tentu saja tidak, dia pasti anak yang sangat baik sampai bisa mengubah mu seperti ini", jawab ayah yang sangat bahagia untuk perubahan yang terjadi pada anak laki-lakinya.


"Baiklah, doakan aku untuk bisa lebih dekat dengannya heheheh", kata Diksi meminta restu dari ayahnya.


"Ya itu pasti, apapun ayah lakukan untukmu", kata ayah sembari menepuk pundak Diksi dengan lembut dan memberikan keberanian pada anaknya untuk berani bergerak untuk orang yang ia cintai.


***


*Ayah

__ADS_1


Dulu ayah Diksi hanya seorang remaja muda yang tinggal dengan keluarga sederhananya.


Ayah yang di besarkan dari keluarga yang sederhana membuatnya tumbuh menjadi anak yang baik dan selalu menurut dengan orangtuanya.


Hingga suatu saat ayah melihat Ibu bermain sendiri di taman tanpa seorang teman.


Ayah bahkan langsung mencintai ibu pada pandangan pertama.


"Hey siapa namamu?", tanya ayah pada gadis yang masih asik bermain ayunan.


"Namaku Lina, bagaimana denganmu", jawab perempuan itu dengan sedikit kaku.


Terlihat sepertinya gadis ini bukan berasal dari desanya. Karena ini adalah pertama kalinya ayah Diksi melihat gadis ini.


"Salam kenal Lina", kata ayah sembari mengulurkan tangannya.


Terlihat keraguan pada gadis itu untuk menyambut tangan hangat ayah.


namun perlahan ia mulai mengangkat tangannya dan mereka saling berkenalan.


Awal pertemuan yang cukup manis antara Ayah dan Ibu Diksi.


Hingga akhirnya mereka semakin dekat karena ibu yang selalu datang ke taman dan bermain bersama ayah.


Lina yang saat itu masih berumur 15 tahun, tapi harus mengalami hal yang sangat membuatnya terpukul.


Bahkan saudara - saudara dari dari ayah dan ibunya selalu mengatakan jika Lina adalah anak pembawa sial.


Lina yang jarang mendapatkan perhatian dari ayah ibunya karena mereka lebih menyayangi anak laki-laki mereka.


Sampai kejadian naas itu terjadi, keluara Lina mengadakan libur bersama namun ayah dan ibu hanya tidak mengajak Lina karena menganggap Lina adalah anak yang merepotkan.


Meski Lina seharian menghabiskan waktu di rumah tanpa mendengar kabar dari ayah ibu dan kakaknya yang sedang liburan, tiba-tiba berita di televisi menyiarkan terjadinya kecelakaan maut yang ternyata itu adalah keluarga Lina.


Seketika Lina langsung menangis dan shok karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Meski keluarganya selalu membenci Lina tapi ia tak pernah sedikitpun menaruh benci pada keluarganya.


"Non yang sabar ya", kata pelayan menenangkan Nina yang manis menangis di rumah sakit dan menyaksikan sendiri kondisi keluarganya yang akan segera di kremasi.


Satu Minggu Lina lewati dengan terus duduk termenung di jendela kamarnya. Otaknya serasa berhenti saat itu juga.

__ADS_1


Lina yang terus menangis membuat matanya menjadi sembab dan badanya yang semakin kurus karena nafsu makannya berkurang.


sampai akhirnya Lina pindah ke desa di mana neneknya pernah tinggal dan meninggalkan rumah mewahnya di kota untuk menenangkan pikirannya.


Di situlah pertemuan awal Ayah dan ibu yang cukup manis terjadi.


Hingga akhirnya Lina memutuskan untuk bangkit dan mulai bertekad untuk kembali hidup dengan bahagia.


sampai akhirnya semua berjalan normal dan baik - baik saja hingga Ayah dan Ibu menikah sampai mereka Memiliki Diksi.


Namun saat Lina mengandung anak ke 2 nya, hal buruk mula terjadi.


Lina yang selalu bekerja keras membuat kesehatannya kian melemah, Lina bahkan merasa strees untuk segala hal.


Sampai akhirnya ia kehilangan bayinya, oleh karena itu kesehatan mentalnya semakin memburuk dan membuatnya sering termenung.


Meski ayah selalu ada untuknya tapi ibu selalu menangisi kepergian bayinya dan tak berhenti menyalahkan diri atas apa yang terjadi.


Hingga kesehatannya semakin memburuk dan sulit untuk mengajak ibu berbicara.


Ibu bahkan banyak menghabiskan waktunya termenung sembari duduk di dekat jendela kamarnya.


menatap langit cerah dari jendela kamarnya sembari trus merenung tentang takdir yang tak bisa ia terima.


Bayi perempuan yang ia tunggu-tunggu, tapi takdir Tuhan berkata lain dan mengambil bayi itu sebelumnya Lina mendengan tangisannya.


Banyak hal yang ia salahkan hingga akhirnya secara tak sadar Lina mengakhiri hidupnya sendiri karena tak ingin menanggung lagi menanggung beban yang membuatnya semakin terpuruk.


***


Diksi yang baru saja sampai di kampus dan segera turun dari mobil yang ia kendarai.


Sampai akhirnya ia sampai di depan ruangannya dan melihat banyak hadiah dari para gadis yang mengidolakannya.


"Ah..ya ampun gadis-gadis ini mereka benar-benar tak pernah menyerah meski aku sering membuang kado-kado dari mereka.


Namun Diksi yang sekarang lebih menghargai kado-kado yang gadis-gadis itu berikan padanya.


Diksi mengumpulkan semua kado dan mengirimkannya untuk sumbangan.


karena tak mungkin bagi Diksi menyimpan dan menumpuk semua kado yang ia dapatkan.

__ADS_1


"Terimakasih untuk kadonya, tapi maaf aku akan menyerahkan semuanya untuk sumbangan agar hadiah dari kalian tak terbuang sia-sia", Tulis Diksi pada kertas yang ia sudah tempelkan di pintu ruangannya.


Jika gadis-gadis itu setuju mereka akan tetap menaruhnya di ruangan Diksi.


__ADS_2