Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 14 [Terima]


__ADS_3

"Pak Diksi terima kasih atas tumpangannya", kata Dini berterima kasih atas tumpangan yang Diksi berikan pada mereka.


"Iya sama-sama lain kali jangan sungkan jika kalian membutuhkan bantuan", jawab Diksi menawarkan lagi jika ia sangat suka membantu mereka berdua.


Bunga yang masih malu dengan godaan Diksi hanya mengangguk untuk mengucapkan terima kasih dan tak berani menatap Dosennya.


"Ehemm..jadi Pak Diksi penyebab kau menolak cinta kakakku", kata Dini lagi menggoda temanya yang tengah tersipu malu.


"Bukan..Dini jangan bergosip ayo segera berikan berkas ini pada kak Lucky", jawab Bunga yang menghindar dari pembicaraan mengenai perasaannya.


"Eh tapi aku baru sadar Beliau banyak berubah ya", kata Dini sembari terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang kakaknya bekerja.


"Maksudmu siapa? Pak Diksi?", tanya Bunga memastikan perkataan dari temannya.


"Iya siapa lagi, sepertinya Beliau sebelumnya sangat Dingin dan menyeramkan apakah Gunung es di hatinya sudah mencair, Pak Diksi jauh lebih tampan ketika tersenyum", kata Dini yang mulai mengagumi senyum Dosen Dinginnya yang menawan.


"Kau suka?", tanya Bunga penasaran dengan gelagat sahabatnya yang tiba-tiba membahas perubahan sikap Dosennya.


"Entahlah aku hanya kagum, ternyata di balik dinginnya dia masih bisa tersenyum dengan ramah", jawab Dini dengan tegas.


Melihat ekspresi temannya memuji Diksi ada sedikit kecemburuan di hati Bunga. Seperti ada hal yang mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang ketika wanita lain melayangkan pujian untuk Diksi.


Padahal sebelumnya Diksi sudah memiliki banyak penggemar dan mempunyai julukan pangeran dengan group para wanita yang sangat mengidolakannya meski sikapnya sedingin es.


"Apa kau belum bergabung di group Pangeran?", tanya Dini pada bunga sahabatnya yang tiba-tiba bertanya pada bunga apakah temannya tidak tergabung dalam group penggemar Diksi.


"Tidak...aku tidak tertarik denga itu", jawab bunga pada Dini sahabatnya dan menjelaskan bahwa ia tak tertarik dengan hal semacam itu dengan kesibukannya yang padat.


"Kemarin saat hujan di group Pangeran sangat ramai membicarakan perempuan yang berjalan bersama Pak Diksi di kampus tengah malam, anak-anak ramai membahasnya", kata Dini yang mulai mengajak temannya bergosip tentang group yang baru saja ia bicarakan.

__ADS_1


"Bukankah itu privasi, kenapa group mereka sangat menakutkan", kata Bunga sebelum ia sadar dengan apa yang Dini maksud.


"Ini kau bisa melihatnya, sebentar apa ini dirimu?", tanya Dini yang kemudian sedikit hafal dengan cara temannya berjalan dan style pakaian yang di kenakan wanita di dalam video yang berjalan di koridor kampus bersama Diksi.


"Ya ampun itu aku!", bunga yang bergeming dalam hati dan baru menyadari sosok wanita yang sahabatnya bicarakan adalah dirinya yang kemarin malam menemani Diksi akibat inside yang tak terduga.


"Ah..jadi aku da Pak Diksi sudah lumayan dekat sebelum kejadian ini terjadi, beliau memanggil ku karena membutuhkan pertolongan, jadi aku datang ke kampus dan menemuinya dan yah benar saja aku melihat Pak Diksi sudah di lantai dengan badannya yang bergetar akibat serangan panik", kata bunga menjelaskan perlahan tentang kejadian malam itu.


"Ya ampun benarkah, wah ternyata orang sesempurna Pak Diksi mempunyai sisi lemah semacam itu", kata Dini yang dengan seksama mendengarkan cerita dari sahabatnya.


"Eh ini bukan ruangan kak Lucky?", tanya bunga pada Dini yang masih akan melanjutkan pembicaraan mereka tentang Diksi.


"Iya, sebentar biar ku ketuk", kata Dini yang kemudian dengan perlahan mengetuk pintu ruang kerja Kakaknya.


"Tok..Tok..Tok..", ketuk Dini dari luar ruangan yang kemudian terdengar suara seseorang dari dalam ruangan yang memperbolehkan mereka masuk.


"Hallo kakakku yang tampan ini ku bawakan berkas mu, lain waktu bisa tidak tidak merepotkan adikmu yang cantik ini", kata Dini mengomel dengan nada manjanya.


"Oh Bunga juga ikut..", tanya Lucky yang hanya fokus pada wanita di belakang adiknya tanpa menjawab percakapan Dini dan hanya melihat Bunga.


"Iya gitu..Bunga aja terus yang di ajak ngobrol, kalok bucin liat tempat dong kan ada aku di sini", kata Dini yang kesal karena kakaknya tak menyapanya.


"Iya..sorry sorry next time kakak gak bakal ngerepotin adik kakak yang cantik ini", kata Lucky yang langsung meluluhkan adiknya yang sedang merajuk.


"Oh iya kalian udah makan malam?", tanya Lucky yang sebenarnya hanya ingin agar Bunga lebih lama dengannya.


"Belum..!!!", jawab Dini dengan tegas.


"Ye..kalok kamu kan emang selalu lapar Din kkkk", jawab Lucky pada adiknya yang selalu cepat tanggap terhadap tawaran makan.

__ADS_1


"kami tadi berencana akan makan malam berdua di luar apa kakak mau bergabung", ajak Bunga pada Lucky yang langsung berbinar-binar ketika mendengar ajakan Bunga untuk ikut bergabung amalan malam dengannya.


"Baiklah, aku masih punya dua jam waktu istirahat sepertinya cukup untuk makan malam bersama kalian", jawab Lucky yang melihat jam dan masih tersisa dua jam waktu istirahatnya sebelum akhirnya harus kembali bekerja.


"Tapi kakak yang traktir ya, soalnya kami tadi rencananya amu girls time tapi karena kakak ikut dan mengacaukan waktu bersama kami jadi kakak yang harus traktir oke !", Dini Yang tak mau rugi dan meminta kakaknya untuk mentraktir mereka makan.


"Baiklah..baiklah apapun itu aku setuju", jawab Lucky yang selalu menurut meski adiknya mempunyai banyak permintaan.


"Yey makan gratis untuk malam ini !", teriak lirih Dini kegirangan karena akan mendapatkan traktiran makan malam.


Mereka yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Lucky dan menuju parkiran tempat di mana Lucky memarkirkan mobilnya.


"Gimana tadi kuliahnya?", tanya Lucky pada Bunga yang berjalan di sampingnya.


"Cukup melelahkan tapi masih bisa ku tahan", jawab Bunga yang sudah merasakan banyak tekanan meski masih semester baru.


"Aku dulu juga sangat tertekan ketika pertama kali masuk kuliah, apalagi aku harus bertahan hidup sendiri di negri orang yang sama sekali belum pernah ku tau. Tapi itu wajah semua akan terbiasa ketika kau sudah menjalaninya cukup lama", Lucky yang mencoba memberikan sedikit pengalamannya saat kuliah dengan segala beban yang ada.


"Apa kak Lucky punya banyak teman?", tanya Dini penasaran dan nimbrung tentang cerita masa kuliah kakaknya.


"Aku sulit memiliki teman kau tau bagaimana diriku dalam kehidupan sosial, tapi syukurlah setelah beberapa semester aku mulai membiasakan diriku untuk bersosialisasi dengan baik karena aku adalah calon Dokter", kata Lucky menjelaskan pada ke dua adiknya.


"Pasti sangat berat di semester awal, tapi aku salut kak Lucky sekarang lebih ramah dengan banyak orang setelah lulus kuliah kedokteran", kata Bunga yang bangga dengan perubahan besar yang Lucky lakukan di hidupnya.


Banyak hal yang membuat Lucky bertahan untuk studinya dan tentu saja salah satunya adalah Bunga.


Bagaimana ia yang tadinya tak memiliki mimpi di masa depan dan mulai merakit mimpinya menjadi seorang Dokter.


Permintaan masa kecil yang menurut Bunga adalah hal yang random dan asal bicara. Tapi itu begitu bermakna bagi Lucky untuk terbentuknya dirinya yang sekarang.

__ADS_1


__ADS_2