Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 9 [Rasa]


__ADS_3

"Waktu berlalu begitu cepat", kata Lucky membuka pembicaraan saat mereka berdua di dalam perjalanan pulang.


"Yah, begitu cepat rasanya dulu aku masih manja dan selalu menempel padamu", jawab Bunga yang malu jika harus mengingat lagi tentang masa kecilnya yang sangat ingin memiliki kakak laki-laki.


Dan saat ia tau jika sahabatnya memiliki kakak laki-laki yaitu Lucky dia bertingkah aneh dan mencari perhatian.


Tak jarang ayahnya mengajak pulang dan bunga menolaknya dengan beralasan ingin menginap dan bermain bersama Dini.


Bisa di bilang Lucky adalah cinta pertamanya saat itu, tepatnya cinta monyet anak kecil pada remaja yang umurnya lebih tua 10 tahun darinya.


Saat itu bunga masih berumur 7 tahun dan Lucky berumur 17 tahun.


Namun tak berbeda hal nya dengan Lucky ia bahkan lebih menyukai bunga ketimbang adik kandungnya.


Dini bahkan sering menangis karena kakaknya yang terlalu memperhatikan bunga di bandingkan dengannya.


Saat pulang dari sekolah bahkan Lucky akan menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga dan memberikan es cream coklat untuk adik keduanya.


Maka dari itu Dini sering sekali marah dengan kakaknya karena perhatian kakaknya yang terlalu berlebihan pada Bunga.


Bunga kecil saat itu mempunyai mata bulat dengan warnanya yang coklat.


Lucky sangat menyayangi Bunga Karna dia yang lucu dan imut. Lucky bahkan selalu diam - diam mengajak bunga ke taman bermain tanpa Dini.


Rupanya jauh saat bunga masih kecil Lucky sudah sangat menyukainya. Maka dari itu meski bunga selalu bersikap manja dengannya ia tak pernah marah atau bahkan marah padanya.


Menurut Lucky bunga adalah Adik lucu yang harus selalu ia jaga.


Kenangan yang cukup memalukan jika bunga mengingatnya lagi. Maka dari itu hubungannya cukup canggung dengan Lucky karena dulu ia sangat manja dengannya.


Sebelum akhirnya Lucky pergi untuk meneruskan studinya di Australia.


Bahkan saat Lucky baru saja di Australia ia merindukan adik kecilnya.


Tak ada yang mengganggu Lucky seperti saat ia masih berada di kotanya.

__ADS_1


Namun ia harus tetap pergi untuk mimpinya menjadi Dokter.


***


"Apa mimpimu kak?", tanya Bunga kecil pada Lucky saat mereka sedang menikmati es cream bersama.


"Entahlah aku tak mempunyai mimpi", jawab Lucky yang bingung akan mimpi tentang kehidupan kedepannya.


"Bagaimana jika kakak menikahi ku saja", kata bunga yang spontan mengatakannya karena ia begitu menyukai Lucky saat itu.


"Tapi aku ingin kakak menjadi dokter dulu", jawab Bunga dengan wajah lesu.


"Kenapa kau ingin aku menjadi Dokter batu bisa menikahi mu?", tanya Lucky menggoda adik kecilnya.


"Entahlah, hanya saja pekerjaan dokter bagi ku sangat keren", jawab Bunga dengan spontan dengan bercanda.


"Ya ampun kau ini, ada - ada saja hahahah", jawab Lucy sembari tertawa melihat tingkah lucu Bunga saat itu.


***


"Kenapa kakak selalu mengungkitnya? itu hanya pernyataan random ku saat kecil", jawab Bunga dengan cepat.


"Yah mungkin bagimu itu adalah pernyataan random, tapi itu adalah salah satu alasanku menjadi Dokter", kata Lucky yang kemudian menepikan mobilnya.


"Lihat aku", kata lagi lagi yang menyuruh bunga untuk menatap wajah laki - laki gagah di depannya.


"Aku yang seperti ini, berkat pernyataan random mu dan aku ingin menjadi kakak yang keren untuk mu dan sekarang itu terwujud", kata Lucky sembari menatap wajah Bunga denga lekat-lekat.


"Coba kau pegang", Lucky yang kemudian meraih tangan Bunga dan menaruhnya di dadanya karena ia ingin menunjukan jika saat ini jantungnya berdetak kencang seperti berlari maraton seperti mengelilingi lapangan bola.


"Kak..",jawab Bunga yang kemudian terhenti akibat jari telunjuk Lucky yang mendarat di bibir mungilnya.


"kau tak perlu mengatakannya, aku tau tak mungkin orang setua diriku mendapatkan balasan cinta dari anak yang lebih muda 10 tahun dariku, aku mengatakan ini hanya agar kau tau perasanku yang sekarang dengan sejujur-jujurnya", jawab Lucky menjelaskan tentang perasaan sebenarnya pada Bunga dan sudah menyerah dengan balasan cintanya.


"Kak maaf, maaf karena aku membuatmu menahannya..", kata Bunga yang kemudian menangis ketika mendengar pengakuan kakaknya tentang perasaan yang selama ini ia pendam untuknya.

__ADS_1


Saat ini hati Bunga bercampur aduk dan bingung bagaimana cara mengekspresikan dirinya.


Sulit untuknya mengeluarkan kata - kata sekarang karena mendengar ketulusan hati Lucky padanya.


Tapi hatinya kita telah berubah dan tak lagi seperti bunga kecil yang Lucky rawat.


Bunga yang kini sudah tumbuh lebih cantik sudah terlanjur tertarik pada kumbang lain yang menghinggap padanya.


Namun di satu sisi hatinya sangat sakit ketika mendengar ketulusan Lucky padanya.


"Aku tak akan berbuat lebih jauh dari ini bunga, hanya saja aku sudah begitu lega ketika mengatakan ini padamu", jawab Lucky yang sangat lega setelah menyatakan perasaannya yang sudah Lucky bisa tebak sebelumnya bahwa Bunga yang sekarang bukanlah miliknya lagi.


Setelah sejenak memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Lucky yang sudah bisa menebak jawaban bunga dari tatapan dan raut wajahnya yang sudah sangat menjawab tanpa harus mendengarkan langsung bunga berbicara.


Lucky pun mulai melajukan mobil dengan perasaannya yang lega, karena apa yang selama ini ia pendam bisa dia utarakan dengan bunga perempuan yang telah lama ada di hatinya.


***


"Terima kasih untuk hari ini", kata Bunga yang baru saja turun dari mobil Lucky yang sudah terparkir di depan toko bunga.


"Ya ampun siapa ini, lama sekali kau tak main ke rumah dan berbincang dengan om", kata ayah yang tiba-tiba datang menghampiri saat tengah menyiram tanamannya dan melihat mobil Lucky terparkir di halaman toko.


"Iya om, jarang untukku mendapatkan cuti kerja jadi aku tidak mempunyai waktu senggang untuk sekedar mampir dan berkunjung ke rumah om", Jawab Lucky pada ayah bunga yang sudah ia anggap sebagai ayahnya.


"ayo masuk dulu, banyak yang om ingin dengar darimu", kata ayah Bunga sembari menarik Lucky masuk tanpa memperdulikan bunga anaknya yang masih berdiri mematung di antara mereka berdua.


"Yah..ayah masih tetap saja meng anak tirukan ku jika melihat kak Lucky", kata Bunga yang kesal dan bergegas masuk menyusul dua orang yang sudah berjalan lebih dulu dan tak memperdulikannya.


"Ya ampun anak ini tidak berubah bahkan meski sekarang umurmu tak lagi remaja, wajahnya selalu tampan nak", kata ayah bunga sembari memegang pundak Lucky yang duduk di sebelahnya.


"Bunga..cepat ambilkan air untuk kakakmu", kata ayah yang tiba-tiba mengajak anak perempuannya bicara setelah sedari tadi mengabaikan keberadaan nya.


"Ya ampun menyebalkan sekali ini mungkin karmaku, karena dulu aku merebut kak Lucky dari Dini sahabatku, jadi sekarang Ayahku lebih menyayangi kak Lucky di bandingkan anaknya sendiri", kata Bunga bergeming sembari berlari ke dapur dan tetap melaksanakan perintah ayahnya meski ia sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2