
Malam ini Bunga terlihat sangat bahagia, terlihat dari senyumnya yang terus mengembang sembari merangkai beberapa Bunga pesanan dari pelanggan.
Ayah yang menyadari sikap aneh anaknya yang tersenyum tanpa henti sesekali memperhatikan gerak-gerik Bunga.
"Ehem.. seperti ada kabar baik", sindir ayah sembari menyenggol baru Bunga dengan perlahan saat Bunga masih fokus dengan pekerjaannya.
"Bukankah ayah sudah mengizinkan aku untuk keluar?", bunga yang kembali bertanya pada ayahnya yang seharusnya sudah mengetahui alasan anaknya terus tersenyum tanpa henti.
Ayah yang kemudian menatap Bunga dengan hangat dan mengusap kepala gadis di depannya denga lembut.
"Anakku sekarang sudah besar", kata ayah sembari terus mengusap-usap kepala Bunga.
Ayah yang masih tak percaya dengan apa yang ada di depannya sekarang terasa sangat tak nyata.
"Seperti baru kemarin ayah menggendong mu kesana kemari dan sekarang kamu sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang anak yang selalu Ayah banggakan", Kata ayah dengan terus menatap hangat gadis cantik di depannya.
Ayah yang masih belum percaya jika anak perempuannya kini suda dewasa dan bahkan sudah berani untuk berkencan dengan seorang laki-laki.
"Hah..rasanya ayah menjadi cemburu", kata ayah lagi menimpali dan terasa sesak ketika melihat anaknya sudah tak lagi mengandalkannya.
"Apa yang ayah bicarakan, aku tetaplah anakmu", jawab Bunga menegaskan.
"Meskipun suatu hari aku akan menikah dan menemukan seseorang laki-laki yang akan menjagaku, tapi ayah tetap yang no 1 di hati ku..ayah tetaplah Pangeran untuk ku", kata Bunga sambil memegang erat tangan ayahnya yang terasa hangat.
"Entahlah..ayah hanya merasa belum siap jika harus merelakan mu pergi bersama laki-laki lain", jawab ayah lagi dengan ekpresi sendunya.
"Ayah.. apa-apa ini kenapa aya menjadi cengeng, ayah masih memiliki anak laki-laki kesayangan yang selalu ayah banggakan hahahh", Kata Bunga mengejek ayahnya yang selalu membangga-banggakan Lucky sebagai anak laki-lakinya.
"Iya ayah masih berharap kau bisa bersatu dengan Lucky dia satu-satunya laki-laki yang ayah percaya untuk menggantikan ayah menjagamu", Ayah yang masih berharap jika anak perempuannya memilih pilihan yang sama dengannya.
__ADS_1
"Penjualan masih panjang ayah, dan sekarang adalah permulaan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di kemudian hari karena hati manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu", Bunga yang menjelaskan ini adalah awal permulaan hidup baru dalam kisah percintaannya di mulai ia juga tidak yakin jika Diksi adalah Pangeran yang nantinya akan menggantikan tahta Ayahnya untuk menjaga Bunga selanjutnya.
"Kau benar anakku, meski sekarang kau hanya berkencan dan belum menuju tahap serius tapi ayah sudah seserius ini untuk hal yang menyangkut kebahagiaanmu", Ayah yang kemudian sedikit luluh dan tenang ketika mendengar jawaban dari Bunga.
***
"Oh Lusi kau datang dengan Diksi?" tanya pria paruh baya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Ah om masih mengingatku?", tanya Diksi yang terus berjalan mendekat ke arah suara parau laki-laki separuh baya yang tengah menyapanya.
"Tentu saja, meski kamu sudah jarang berkunjung tapi om sangat hafal dengan suaramu", jawab ayah Lusi yang masih mengingat Diksi meski mereka jarang bertemu.
"Bagaiman Bisnis keluarga mu?", tanya ayah Lusi lagi pada Diksi yang kemudian duduk di sebelah ranjang tempat ayah Lusi di rawat.
"Ah..tadi Lusi juga membantuku, jadi pekerjaan ku selesai dengan cepat", jawab Diksi yang merasa berterima kasih atas bantuan Lusi padanya.
"Ya ampun aku bahkan tidak di berikan kesempatan untuk bicara..", Lusi yang mulai protes karena ayahnya yang hanya mengajak Diksi berbicara.
"Jadi apakah kalian benar berpacaran sekarang?", tanya ayah Lusi pada mereka berdua.
Diksi yang baru saja akan menjawab langsung di sela oleh Lusi yang dengan cepat menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Ha..ha..tentu saja kami sudah resmi menjalin hubungan", jawab Lusi dengan cepat.
"Sejak kapan kalian pacaran?", tanya ayah lagi penasaran tentang hubungan anaknya.
"Ah..kami baru satu Minggu resmi berpacaran ayah..", Lusi yang terus berbohong pada ayahnya dengan mengatakan hal yang hanya dia karang saat itu juga.
"Lusi aku bertanya tentang hubungan kalian berdua, tapi kenapa tak memberikan kesempatan untuk Diksi menjawab", kata ayah yang cukup heran dengan tingkah anaknya yang mencurigakan.
__ADS_1
"Ayah..kau tau kan Diksi tak mungkin berbicara hal semacam itu, anak ini pemalu jelas aku yang akan mewakilinya berbicara", jawab Lusi yang lagi-lagi mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan ayahnya.
"Baiklah..ayah percaya hanya saja aneh rasanya jika kalian tiba-tiba menjalin hubungan setelah sekian lama ta bertemu", Ayah Lusi yang akhirnya menepis rasa curiganya pada anak semata wayangnya.
"Diksi om titip Lusi, dia sangat sulit untuk di atur om harap kamu bersabar untuknya", Ayah Lusi yang kemudian berpesan pada Diksi yang hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
***
*Bunga
"Di mana Diksi? apakah dia lupa jika dia memiliki janji denganku?", Bunga yang kebingungan karena sudah lebih dari 20 menit dia tetap berada di taman menunggu Diksi datang.
Bunga yang sudah lelah menunggu Diksi dengan cepat dia mengambil smartphone di tas kecil yang ia bawa.
"Diksi kau di mana?", tanya Bunga pada chat message yang ia kirim kirim pada Diksi kekasihnya.
Bunga yang terus menunggu Diksi sembari menoleh ke sana dan kemari mengamati jalan sembari menunggu seseorang yang sudah sedari tadi membuatnya cemas.
Namun sampai setengah jam Bunga menunggu, Diksi masih belum terlihat juga dan mulai membuat Bunga perlahan menyerah menunggu dan mulai berjalan pulang dengan sedikit kecewa.
"Dia bahkan tak melihat pesan dariku", Bunga yang terus bergeming sembari berjalan pulan dengan hatinya yang sedikit kecewa.
"Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya", Bunga yang terus khawatir tentang Diski yang belum mengirim pesan sejak ia mengajaknya tentang rencana kencan mereka berdua.
Setelah ia berjalan sendiri dengan rasa khawatirnya akhirnya Bunga sampai di depan Toko bunga milik keluarganya dan masuk ke dalam dan segera berbaring di kasurnya.
"Ah..aku malas pulang, jika aku pulang pasti ayah akan bertanya kenapa aku sudah pulang", Bunga yang memutuskan untuk menginap di toko bunga milik keluarganya karena tak ingin pulang dalam keadaan moodnya yang sedang buruk.
"Dia bahkan belum melihat pesanku sama sekali, apa dia sesibuk itu?", Bunga yang terus bertanya-tanya dan menunggu kabar dari Diksi di layar smartphone dan menunggu kekasihnya mengirim kabar padanya.
__ADS_1
Bunga yang sangat lelah akhirnya terlelap dalam tidurnya setelah menunggu Diksi yang tak kunjung berkirim kabar dengannya.