Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 26 [Lagi]


__ADS_3

*fokus


Diksi yang datang dengan membawa sarapan untuk kekasihnya namun akhirnya ia makan sendiri.


"Aku sangat ingin makan, tapi kami baru saja selesai sarapan", kata Bunga yang merasa bersalah karena tidak memberitahukan pada Diksi jika ia sudah sarapan terlebih dahulu.


"kalian sarapan bersama?",tanya Diksi pada Bunga dan Lucky yang masih fokus menggunting beberapa pita untuk hiasan bucket bunga pesanan customer.


"Iya, hari ini ayah tak bisa datang ke toko karena ada urusan tapi syukurlah kak Lucky sedang libur jadi dia datang membantuku dan sekaligus membawakan sarapan", jawab Bunga sebisa mungkin agar kekasihnya tak cemburu.


Diksi yang sudah mengetahui tentang Lucky yang pernah menyatakan cinta pada Bunga membuatnya sedikit tak tenang dan terus melihat ke arah Lucky yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Sepertinya kalian berdua sangat akrab ya, Bunga jarang sekali mempunyai teman selain aku dan adikku Dini", kata Lucky yang mencoba bergabung dalam pembicaraan mereka berdua.


"Ah..hahahh iya", jawab Bunga dengan tawanya yang di buat-buat.


"Bunga banyak membantuku, jadi kami lebih dekat karena urusan pekerjaan", jawab Diksi dengan cepat.


"Ah..begitu ya, entahlah agak sedikit aneh karena Bunga adalah anak yang tertutup tapi bisa mempunyai teman Dosen seperti mu", Lucky yang terus merasa aneh tentang Bunga yang tiba-tiba memiliki teman laki-laki sekelas Dosen seperti Diksi.


"Kami memiliki banyak kesamaan jadi kita menjalin pertemanan setelah merasakan kenyamanan satu sama lain", jawab Diski dengan tegas.


"Aku juga orang yang sangat selektif dalam berteman dan berbicara akrap dengan orang lain, tapi Bunga dia adalah gadis yang sangat baik dan tulus dalam berteman jadi aku sangat nyaman ketika mengobrol dengannya", jawab Diksi menambahi cerita tentang alasan ia bisa sedekat itu dengan Bunga.


Lucky yang sudah tau jika hubungan mereka berdua bukan sekedar dari teman biasa yang namun ada hal lain yang mereka sembunyikan dari Lucky.


Lucky bahkan melihat saat mereka saling menggenggam tangan satu sama lain.


Entah mengapa hatinya sangat sakit melebihi cintanya yang di tolak.


"Sepertinya aku memang sangat terikat denganmu", kata Lucky bergeming dalam hati.


"Oh..jadi begitu, ya ku harap kalian terus menjalin pertemanan yang baik", kata Lucky yang sebenarnya hatinya begitu sakit ketika mengetahui kenyataan.


Gadis kecil yang selama ini selalu mengandalkannya dalam segala hal kini perlahan melepaskan diri darinya.


Diksi yang masih sibuk menghabiskan sarapannya dan langsung membantu Bunga untuk menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"masing kurang berapa?", tanya Diksi pada Bunga yang masih fokus dengan tangkai-tangkai bunga yang ia susun dengan rapih.


"masih kurang 5 bucket lagi", jawan Bunga dengan senyumnya yang manis.


"Berhenti tersenyum seperti itu, aku tak bisa menahannya kkk", kata Diksi berbisik di telinga Bunga karena takut Lucky mendengar percakapan mereka berdua.


"Kenapa harus bisik-bisik apa kalian membicarakan ku?", tanya Lucky yang melihat gerak-gerik aneh Diksi.


"Ah..tidak, hanya saja ini tentang pekerjaan ku jadi sedikit rahasia", jawab Diksi mengelak pertanyaan yang di berikan Lucky.


Setelah itu tak ada percakapan di antar mereka Diksi yang terus belajar melihat saat Bunga merangkai setiap bucket dan langsung mempraktekannya.


sampai setengah jam berlalu dan mereka bertiga sudah menyelesaikan semua pesanan bucket untuk hari ini.


"Ah..ternyata meski terlihat mudah, tapi lumayan menguras tenaga", kata Diksi yang merasakan punggungnya pegal karena terus duduk tegap.


"hahahah...ya begitulah kadang yang terlihat sepele dan remeh belum tentu kita dapat mengerjakannya", jawab Bunga yang kemudian menata semua pesanan di sudut ruangan dengan rapih.


"Ah.. sepertinya aku harus pulang Dini tiba-tiba mengirim pesan dan menyuruh ku mengantarkannya belanja, seperti ada tugas kampus yang harus ia selesai", kata Lucky yang kemudian beranjak dari tempatnya duduk sedari tadi.


"Ah.. benarkah? baiklah kalok begitu terima kasih untuk hari ini kak", kata Bunga sembari sedikit menundukkan kepalanya untuk berterima kasih atas bantuan yang Lucky lakukan untuknya.


Diksi yang sedari tadi menahan untuk bersikap layaknya seorang teman kepada Bunga merasa senang karena tak perlu lagi berpura-pura setelah Lucky pergi meninggalkan mereka berdua.


Bunga dan Diksi pun mulai merenggangkan badannya karena sedari tadi duduk.


"Ahh...lebih sulit dari yang ku bayangkan", kata Diski sembari meregangkan otot-ototnya dan duduk di sofa.


"Apa kau mau jus?", tanya Bunga pada Diksi yang terlihat sangat kehausan.


"Haruskan.. sepertinya akan begitu menyegarkan menikmatinya setelah lelah bekerja", jawab Diksi setuju.


"Baiklah tunggu sebentar..", Bunga yang kemudian berjalan ke dapur dan mulai membuat jus jeruk dengan sedikit es.


Diksi yang tak ingin melewatkan kesempatan berdua dengan kekasihnya langsung mengikuti Bunga ke dapur dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa kau sangat manja?", tanya Bunga' yang sadar bahwa kekasihnya sedang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"aku sangat merindukanmu", jawab Diksi dengan terus memeluk Bunga dan sesekali mengecup pipi lembut milik Bunga.


"Ya ampun aku tidak tau kau bisa bertingkah selucu ini di balik sikapmu yang tegas", kata Bunga yang tidak menyangka di balik tegasnya dan dinginnya sikap Diksi ia benar-benar memilik hati yang lembut seperti anak kecil yang selalu ingin di manja.


"Sejak kecil aku sangat manja, namun setelah ibu pergi aku mulai menjadi anak yang berpura-pura tegar", kata Diksi dengan muka melas nya.


"Baiklah..kau bisa manja denganku sepuasnya", jawab Bunga yang kemudian membalikan badan dan berbalik memeluk Diksi dengan erat.


"Ya ampun tubuh kekasih ku sangat mungil, aku selalu ingin mendekapnya seperti ini terus", kata Diksi yang kemudian sedikit menundukkan wajahnya dan mencium kening kekasihnya.


"Sudah ayo kita ke depan ini jusnya sudah siap", Bunga yang kemudian melonggarkan pelukannya dan mengajak Diksi untuk duduk di ruang tengah sembari menikmati jus yang telah ia buat.


"Jadi..apakah kemarin pekerjaan mu sangat banyak?", tanya Bunga pada Diksi yang sedang menikmati jus buatannya.


"Iya sangat banyak..", jawab Diksi singkat.


"Kenapa tidak mengabari ku, aku bisa membantumu", tanya Bunga tentang kekasihnya yang tak mau meminta bantuannya.


"Aku takut kau juga akan kelelahan jadi aku tidak mengabari mu..maaf ya",Diksi yang kemudian memegang tangan kekasihnya dan merasa bersalah akibat kencan pertama yang mereka rencanakan gagal.


"Seperti hari ini, kau banyak membantuku jadi lain kali tak perlu takut untuk bertanya jika butuh bantuanku", kata Bunga yang juga ingin di andalkan seperti ia yang mengandalkan Diksi.


"Baiklah lain kali aku akan meminta bantuan mu", jawab Diksi dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Diksi yang masih tidak berani menceritakan kejadian detai tentang bagaimana ia akhirnya menyelesaikan pekerjaannya.


Rasa takut jika kekasihnya akan marah jika mengetahui bahwa Luna lah yang membantunya menyelesaikan pekerjaannya akan merusak momen bahagia mereka sekarang.


"Permisi...", suara dari luar toko yang ternyata adalah customer yang akan mengambil pesanan bucket bunga miliknya.


"Ah..ini kak pesanannya", kata Bunga yang langsung mengambilkan bucket bunga sesuai dengan nama pemesan.


"Terimakasih", jawab pelanggan yang langsung menerima pesanannya dan membawanya pergi.


Diksi yang masih duduk di sofa dengan cepat menghabiskan jus jeruknya dan beranjak membantu kekasihnya.


"Apa perlu bantuan?", tanya Diski pada Bunga yang masih menata sebagian bucket yang belum di oleh pemesannya.

__ADS_1


"Tak perlu aku duduklah pasti sangat lelah", jawab Bunga yang tak ingin di bantu karena hanya sedikit merapikan beberapa bucket bunga.


__ADS_2