Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 7 [OBAT]


__ADS_3

*Diksi


Hari ini akhirnya kehidupan ku kembali normal layaknya manusia biasa.


namun ada hal yang harus ku hindari sampai kutukan ini benar-benar hilang.


Hujan, yah hujan aku harus menghindari air hujan jika tak ingin kembali lagi berubah menjadi katak.


Harusnya aku bahagia tapi entahlah aku seperti bangun dari mimpi yang indah dan nyaman ketika menjadi katak.


Saat aku kembali menjadi manusia aku yang sudah satu Minggu menghabiskan waktu bersama bunga mungkin membuatku sedikit kosong setelah ini.


Sudah sangat lama aku tak pernah sedekat ini dengan sesama manusia. Dan baru kali ini aku merasakan kenyamanan ketika berada di dekatnya.


Cukup bahagia karena akhirnya aku bisa berubah menjadi manusia seutuhnya meski ada pantangan di baliknya yang harus ku hindari.


Dan hal yang paling membuat ku terkejut, adalah ketika ciuman pertamaku yang ternyata bunga yang ibu sebut obat untukku adalah bunga seorang manusia sederhana yang selama ini membuatku.


Sangat aneh jika aku mengatakan aku kembali menjadi manusia karena sebuah ciuman darinya.


Sangat canggung untukku mengakui jika untuk sesaat aku berdebar ketika bibirku menyentuh miliknya.


Rasanya sangat aneh karena itu yang pertama, Namun untuk kejuaraan aku sedikit menyukainya.


***



"Hari ini mungkin aku akan langsung pulang saat matahari tiba", kataku pada bunga yang masih duduk di meja tempat ia tertidur semalaman.


"Aku ikut bahagia bapak bisa kembali berubah menjadi manusia, lega rasanya", jawab Nina dengan ekspresi bahagia yang murni tanpa ia buat-buat.


"Terima kasih sudah merawat ku satu Minggu ini, aku sangat menghargai kebaikanmu", kata Diksi mengucapkan rasa terima kasih yang teraman pada bunga yang telah banyak membantunya.

__ADS_1


"Aku melakukannya dengan senang hati jadi anda tidak perlu sungkan dan merasa membebani ku", jawab bunga yang lagi-lagi dengan kemurahan hatinya.


"Jujur saat melihatmu pertama kali di Aula saat bapak berpidato, aku melihat banyak hal gelap yang warnanya tak beraturan terpancar dari tubuhmu", kata bunga menjelaskan tentang pandangan pertama saat ia melihat banyak kuasa gelap yang mengelilingi Dosennya.


"Yah, meskipun buruk namun itulah yang terjadi padaku saat itu. Sifatku yang buruk dengan kebencian yang ku pendam membentukku menjadi sosok yang sangat buruk", jawab Diksi yang sadar akan dirinya dan hidupnya yang dipenuhi kegelapan.


"Namun sekarang warna gelap itu kian memudar, hatimu mulai menunjukan sisi kasih sayang", kata Bunga menjelaskan tentang apa yang ia lihat di dalam diri Diksi saat ini.


"Benarkah, itu semua berkatmu dan aku sangat bersyukur akan hal itu", kata diksi yang sangat bersyukur di pertemukan dengan gadis baik yang mengubah pandangannya terhadap kehidupan.


"Tak semua manusia yang berbuat baik padamu memiliki niat jahat, waspada mungkin perlu namun kita juga tidak boleh mengabaikan kebaikan yang datang dari orang yang benar-benar tulus", kata bunga lagi yang membuat Taki mengembangkan senyum yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun.


"Apa kau melihatnya?",tanya Diksi pada bunga dengan senyuman kebanggaannya.


"Yah..aku melihatnya, itu sangat manis seperti aroma bunga mawar", kata bunga yang berhasil membuat Diksi semakin mengembangkan senyumannya dan tersipu malu ketika mendengan sebuah pujian untuknya.


Satu jam berlalu saat mereka menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang sebelum akhirnya Diksi berpamitan pada Bunga.


***


Satu Minggu yang ia habiskan terasa hangat dan begitu nyaman.


Diksi yang masih fokus menyetir dan berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi Diksi yang dulu ibunya kenal.


***


"Masih ingat rumah kamu?", kata ayah yang kemudian menatap Diksi yang baru saja memasuki rumah setelah satu Minggu menghilang tanpa memberi kabar.


"Apa hanya teman kerja mu yang penting sampai ayah tak kau kabari", kata ayahnya lagi protes tentang tingkah laku anaknya yang keterlaluan.


"Ayah tak pernah memarahiku ayah juga tak pernah membencimu bagaimanapun sikap mu kau tetaplah Darah dagingku Diksi", kata ayah lagi dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Maafkan aku ayah, aku sudah keterlaluan selama ini", jawab Diksi yang sudah mulai mengikhlaskan masa lalu kelamnya dan mencoba kehidupan baru yang lebih baik dengan memperbaiki sikap dan perilakunya.

__ADS_1


"Apa ayah tak salah dengan", kata ayah yang kaget melihat perubahan yang cukup signifikan pada anak laki-lakinya.


"Iya ayah tak salah dengan, mulai hari ini aku akan mencoba menjadi lebih baik dan berhenti menyalahkan orang lain atas kepergian ibu", jawab Diksi yang kemudian memeluk ayahnya.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama akhirnya Diksi menurunkan egonya.


Bunga benar-benar mengubah hidupnya.


"Apa yang terjadi padamu satu Minggu ini, apakah kau habis bertemu ibumu. Mengapa perkataanmu bisa berubah selembut ini dengan cepat", tanya ayah yang masih penasaran dengan sikap anaknya yang tiba-tiba saja berubah.


"Ada sesuatu yang mengubahku, namun itu tak perlu ayah tau. Dan kabar bahagianya aku akan menjadi lebih baik ayah", kata Diksi berjanji untuk menjadi seseorang yang lebih baik setelah ini.


"Terima kasih Tuhan, kau telah mengembalikan Putra ku Diksi yang dulu", kata ayah bersyukur atas apa yang baru saja ia lihat.


"Baiklah cepat istirahat kau pasti lelah..", kata ayah menyuruh Diksi untuk pergi ke kamarnya dan istirahat.


Diksi yang selama ini menjadi katak dan tidur di dalam akuarium dingin kini kembali merasakan kasurnya yang empuk dan tempat mandi yang selalu ia rindukan ketika jauh dari rumah.


"Permisi pak, untuk bajunya akan saya buang", kata pelayan yang sudah hafal dengan majikannya yang tidak akan memakai baju lebih dari 1 kali.


"Tidak, jangan lakukan kau cukup mencucinya saja dan taruh lagi di lemariku", Kata Diksi yang mampu membuat para pelayan tercengang kaget melihat atasnya mengatakan bahwa bajunya harus di cuci kembali.


"Baik pak", jawab pelayanan yang sebenarnya masih terheran-heran akan kelakuan majikannya yang berubah dalam 1 Minggu.


Diksi yang kemudian menutup pintu kamarnya dan mulai berendam di kamar mandi menggunakan air hangat kesukaannya.


"Ahh...air hangat memang sangat manjur untuk menghilangkan lelah", kata diksi bergeming sambil menggosok badannya perlahan.


"Apa setelah ini aku masih bisa dekat dengannya lagi seperti kemarin", kata diksi bergeming bertanya-tanya tentang hubungannya dan bunga.


"Ya ampun jika di pikir aneh rasanya, karena itu adalah pengalaman pertamaku", katanya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya sembari jari-jari lentiknya yang menyentuh perlahan bibirnya baru saja ia ingat tentang ciuman pertamanya dengan gadis yang baru ia kenal satu Minggu.


"Apa aku perlu memastikannya lagi, dan yakin jika bunga adalah obat yang bisa menyembuhkan ku dari kutukan", kata Diksi yang masih terus penasaran.

__ADS_1


__ADS_2