
Pagi yang cerah, Diksi yang masih tertidur di sofa sedikit mengernyitkan matanya akibat cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang dengan bayang-bayang wanita di depannya.
Dia masih setengah sadar dan mencerna segala sesuatu yang terjadi, ingatannya kembali mengingat kejadian semalaman bersama gadis yang ia cintai dan kini resmi menjadi kekasihnya.
"Ah.. sepertinya aku memang tidak sedang bermimpi", Diksi yang tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan hangat membelai wajahnya.
Rasanya seperti sentuhan terakhir ibu yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.
"Hangat", Diksi yang masih memejamkan matanya sembari terus merasakan sentuhan hangat di pipinya.
"Good morning", sapa suara gadis yang sedari tadi duduk di depan Diksi yang tengah tertidur dan membuatnya seketika terbangun.
"Apa itu tadi tanganmu?", tanya Fiksi pada gadis yang masih mengusap lembut rambutnya.
"Tentu aku di sini sedari tadi dan menunggumu bangun, kau tertidur begitu lelap", jawab gadis tersebut yang ternyata itu adalah Bunga.
"Tangan mu sangat hangat meski di pagi yang dingin ini", kata Diksi yang mulai bangkit dari tidurnya dan memindahkan tangan gadis tersebut ke dalam genggamannya.
"Aku jadi ingin tetap di sini dan malas bekerja", Diksi yabg seketika berubah menjadi sosok manja yang ingin di perhatikan.
"Mobil mu masih di tepi jalan, kau harus mengurusnya mungkin polisi sudah mengamankannya", kata Bunga menyadarkan Diksi tentang terakhir kali bagaimana ia bisa datang ke toko dan meninggalkan mobilnya terparkir di jalanan.
"Biarkan..aku tak peduli aku ingin lebih lama bersamamu", jawab Diksi dengan membaringkan kepalanya di pangkuan Bunga.
"Hey aku juga harus pergi kuliah, lagi pula sebentar lagi ayah ku akan datang bagaiman kau menanganinya", Bunga yang kembali lagi menyadarkan Diksi dan membuatnya langsung beranjak dari pangkuan gadis tersebut.
"Ya ampun benar sekali, apalagi dengan aku yang memakai bajumu akan sangat aneh jika ayah mertua melihatku seperti ini hihihihi", Diksi yang baru sadar dengan pakaian milik Bunga yang masih melekat di badannya.
"Baiklah, bersiap dan aku aka mengantarmu ke rumah mu", Diksi yang kemudian bersiap dan meminjam jaket milik Bunga karena udara dingin di pagi hari pasca hujan.
__ADS_1
Bunga yang kemudian mengantarkan kekasihnya dengan motor lama yang biasa ia kendarai.
"Apa aku boleh membelikan mu motor baru?", tanya Diski pada bunga yang mulai terpikir untuk membelikan motor baru untuk kekasihnya.
"Tak perlu ini masih sangat nyaman denganku, banyak kenangan tentang kakek di motor ini", jawab Bunga memberikan alasan kenapa ia tak ingin mengganti motor lamanya.
"Ah..baiklah aku tak akan memaksa", Diksi yang kemudian menurut dan mulai duduk di belakang karena Diksi tak bisa mengendarai motor.
"Sekak kapan dirimu belajar motor?", tanya Diksi lagi penasaran.
"sejak aku lulus SMA ayah baru mengajarkanku mengendarai motor karena jarak kampus lumayan jauh dari rumah", jawab Bunga yang masih fokus menatap jalan.
"Hati-hati jalanan licin", Diksi yang ketakutan karena ini adalah pertama kalinya dia menaiki motor.
"Apa anda tidak pernah naik motor sebelumnya?", tanya Bunga setelah merasakan pelukan Diksi yang erat dari kursi belakang.
"Aku tidak pernah naik motor, jadi ini sedikit mengerikan bagiku", Diksi yang terus memeluk erat Bunga karena takut.
"Diksi kita sudah sampai!", kata Bunga sembari menepuk tangan Diksi yang masih melingkar di pinggangnya.
"Ah.. benarkah, terima kasih sudah mengantarku dan maaf merepotkan mu", Diksi yang kemudian turun dari motor dan mengucapkan rasa terima kasih pada Bunga yang telah mengantarnya selamat sampai rumah.
"Baiklah aku akan pergi", Bunga yang sudah mengantarkan Diksi dengan cepat berpamitan.
"Apa kau akan pergi begitu saja?", tanya Diksi yang tiba-tiba membuat Bunga bertanya-tanya.
"Aku harus segera pergi ke kampus, jadi aku harus cepat", Bunga yang menjelaskan alasan ia tak bisa masuk ke rumah Diksi dan mampir menyapa ayah Diksi.
"Bukan itu..", Diksi yang menjelaskan bukan itu yang dia maksud.
__ADS_1
"Lalu apa?", tanya Bunga yang lagi-lagi tak mengerti dengan apa yang Diksi maksud.
"Baiklah..aku akan lakukan kau sangat lamban", Diksi yang kemudian melangkah mendekat dan mencium kening Bunga dengan hangat.
"Ini yang ku maksud", kata Diksi yang berhasil membuat wajah gadis di depannya berubah menjadi tomat.
"Diksi..kau selalu mengambil kesempatan, ini di tempat umum bagaiman kau melakukannya?", Bunga yang masih shok karena ulah Diksi yang tak bisa tertebak.
"sekarang aku adalah kekasih mu tentu saja itu adalah hal yang wajah di lakukan di pagi hari, dan ini kecupan pertama Di hari kita resmi menjadi kekasih", Diksi yang menjelaskan tentang alasannya mencium kening Bunga.
"Baiklah aku harus pergi samapi nanti", Bunga yang kemudian pergi setelah berpamitan dengan Diski yang masih berdiri Di depan gerbang rumahnya dan masih memilih at Bunga hingga ia keluar dari jangkauan matanya.
***
"Selamat pagi ayah, ibu", Diksi yang sudah rapih dengan setelan jas dan bersiap untuk pergi ke kampus.
"Ayah tadi malam mendapatkan telfon dari kantor polisi, karena mobilmu yang terparkir sembarangan. Apa yang terjadi?", tanya ayah yang khawatir dengan Diksi yang tidak memberikan kabar hingga pagi hari.
"Ah kemarin aku melihat seorang teman jadi aku bergegas mengejarnya, tapi semakin jauh aku mengejarnya aku malah kehujanan dan akhirnya mampir ke rumah kenalanku yang rumahnya berada di sekitar situ", Diksi yang dengan detail menjelaskan kejadian - demi kejadian pada ayah yang terlihat khawatir padanya.
"Baiklah, yang pasti kau sudah di rumah dan tak terjadi sesuatu yang buruk terhadap mu", jawab ayah yang sudah tak mempermasalahkan tentang apa yang sudah terjadi.
"Aku sepertinya telat, jadi aku akan pergi sekarang dan sarapan di kampus saja", Diksi yang kemudian berpamitan pada ayahnya dan berjalan keluar rumah untuk segera pergi ke kampus karena ia sudah terlambat.
sepanjang perjalanan Diksi tak berhenti tersenyum sembari mendengarkan lagu-lagu romantis yang menandakan karena hatinya bahagia.
Sangat jelas tergambar di raut wajahnya, karena ini adalah pertama kalinya dia menyukai seseorang wanita.
Bahkan ia yang semula dingin dan tenang menjadi sedikit manja jika bertemu dengan Bunga, gadis yang sejak pagi ini membuatnya tersenyum tanpa henti.
__ADS_1
"Sepertinya aku benar-benar suda gila", Diksi yang masih tersenyum dan menyadari bahwa dirinya benar-benar berubah menjadi sosok yang berbeda.
"Anak itu, aku tidak tau apa sihir yang ia berikan padaku sampai mengubah singa hutan sepertiku menjadi kucing rumahan yang sangat manja ketika bertemu dengannya", Diksi yang baru sadar ketika dia berada di dekat Bunga dan sangat ingin memeluk gadis mungil itu setiap saat.