
***
"Sepertinya memang hanya aku yang mencintaimu", kata Lucky yang dengan hangat menatap foto masa kecil Bunga bersama dengannya di taman.
"Sepertinya baru kemarin aku mengendong dan kamu ta berhenti memberikan ciuman sayang untukku", kata Lucky lagi yang kemudian perlahan meneteskan air mata.
"Aku yang sala menaruh hati pada anak sekecil dirimu", Lucky yang terus menatap foto Bunga saat bersamaannya.
Kemarin malam, adalah jawaban tegas yang Bunga berikan pada Lucky saat mereka makan malam bertiga dengan Dini.
Dini yang tau jika Sahabatnya membutuhkan waktu berdua bersama Lucky dengan cepat beralasan pergi ke toilet dan denga perlahan meninggalkan kakak dan sahabat nya yang sedang membahas hal serius.
"Kak..maaf..",kata Bunga membuka pembicaraannya dengan kata maaf pada Lucky.
"Untuk apa?", tanya Lucky yang penasaran.
"Lupakan cintamu padaku kak, kau harus menemukan seseorang yang lebih baik dariku", Bunga yang merasa bersalah sembari menundukkan wajahnya.
"Apa perasaan cintaku adalah beban bagi Bu? jika iya aku akan melepaskannya", jawab Lucky dengan tersenyum dan menutupi kesedihan hatinya.
"Bukan itu, aku tak terbebani sama sekali dengan cinta mu. Tapi hati ku sakit ketika harus menolakmu karena rasa sayangku hanya sebatas saudara dan tidak lebih dari itu", Bunga yang menjelaskan pada Lucky tentang apa yang sebenarnya perasaannya pada Lucky.
"Hey..ayolah aku suda bilang bilang padamu sebelumnya, mencintaimu adalah pilihanku jadi kau tak perlu merasa sakit itu itu", Lucky yang menjelaskan tentang apa yang ia pilih sendiri dan akan menanggungnya denga sepenuh hati.
"Tapi sampai kapan kakak akan menutup diri dan perasaan mu pada orang lain?", tanya Bunga pada Lucky yang sesekali menatapnya hangat.
"Aku adalah seorang dokter yang sibuk, jadi aku tak sempat melihat wanita dan aku tak menutup diri untuk itu, hanya saja mungkin masih butuh waktu lagi untuk ku mencintai seseorang yang baru", kata Lucky menjelaskan pada Bunga.
"Tapi sampai kapan?", tanya Bunga lagi yang khawatir dengan Lucky.
"Sampai ada seseorang yang benar-benar menggantikan ku untuk menjagamu, mungkin aku akan pergi dengan tenang", jawab Lucky tegas yang tak ingin membuka hatinya sebelum ia melihat Bunga menemukan sosok pengganti dirinya.
***
Pembicaraan tentang perasaan masing-masing terhenti sampai di situ.
Bunga yang sekarang sudah mengetahui alasan Lucky yang masih menjaga hatinya membuatnya semakin bertekad untuk segera menemukan seseorang agar kakanya juga bahagia.
Lucky yang selalu sibuk tak jarang sangat kuruang memperhatikan diri sendiri.
Bahkan untuk ukuran usianya banyak obat yang ia telan untuk menahan rasa sakit Artika penyakit mah nya datang.
Bunga yang merasa bersalah akan hal itu, hari itu semua sudah ia sampaikan dengan baik pada Lucky untuk membuatnya berhenti mempertahankan perasaannya.
Kerinduan yang selalu Lucky simpan untuk cinta pertamanya kini sudah hancur dalam satu malam.
Perkataan yang Bunga sampaikan berhasil membuat Lucky sedikit melepaskan perasaan yang sudah ia simpan sejak lama.
__ADS_1
Sangat sulit, namun Lucky harus menanggung konsekuensi yang telah ia buat.
Sedari awal saat kepulangan nya dari Study Lucky sudah merasakan dari sorot tatapan Bunga yang sudah berbeda padanya.
Bahkan buruh berbulan-bulan untuk akhirnya Lucky lebih dekat lagi dengan Bunga.
Namun Lucky tetap berterima kasih pada gadis kecil yang mengubah mimpinya.
Menjadi Dokter keren di masa depan yang bahkan Lucky sendiri tidak menyangka jika akhirnya ia benar-benar menjadi Dokter.
Lucky bahkan sangat mencintai dan berdedikasi untuk pekerjaannya sebagai Dokter.
Setiap orang mempunyai mimpinya masing-masing.
Dan Lucky mimpinya hanya menjadi seseorang yang terlihat keren untuk gadis kecil yang sekarang membuatnya melepas perasaan cinta yang sudah ia simpan cukup lama.
***
"Rasanya seperti aku sudah terpecah dan terpisah menjadi serpihan debu", kata Lucky yang masih menatap foto Bunga kecil dengan senyuman polosnya.
"Lihat senyummu, bagaimana aku bisa melupakanmu?", tanya Lucky pada dirinya sendiri.
Rasa ta sanggup menerima kenyataan jika cintanya di tolak membuatnya tersadar.
Tak semua yang ia inginkan bisa berjalan sesuai rencana.
Takdir hanya milik tuhan, meski kita sebagai manusia bisa berusaha dan mengubahnya.
malam yang cukup berat dengan sesekali Lucky meneteskan air matanya.
sembari berbaring di kasur ruang kerja dan terlelap hanyut dalam kesedihannya.
***
*Pagi
"Din gimana keadaan kak Lucky?", tanya Bunga pada sahabatnya saat berjalan ke luar kelas setelah selesai jam pelajaran pertama.
"Semalam kakak tidak pulang ke rumah, jadi aku tak tau bagaimana kondisinya", jawab Dini yang kemudian memasuki kelas ke dua bersama sahabatnya.
Hari ini mereka memiliki kelas yang sama untuk satu hari penuh.
Jadi sangat nyaman untuk mereka terus berbagi cerita.
"Aku sangat khawatir", kata Bunga dengan ekpresi khawatir nya.
"Tenanglah dia sudah jauh lebih dewasa dari kita harusnya tak terjadi sesuatu yang buruk", jawab Dini menenangkan sahabatnya yang mulai khawatir dengan keadaan Lucky.
__ADS_1
Hari ini Bunga terus cemas dan sedikit tak fokus pada kuliahnya, sesekali ia mengecek smartphone untuk melihat apakah ada balasan dari pesan yang ia kirim.
"Ting", suara smartphone Bunga saat kelas terakhir baru saja selesai.
"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir dan maaf membuatmu menunggu lama. Tadi aku ada operasi mendadak", jawab Lucky pada pesan yang Bunga baca.
"syukurlah, maaf mengganggu waktu kerjamu kak", jawab Bunga pada pesan yang langsung dengan cepat ia kirim pada Lucky.
"Gimana?", tanya Dini pada sahabatnya yang sedari pagi murung.
"Syukurlah kak Lucky baik-baik saja", jawab Bunga denga perasaan lega akan rasa khawatirnya.
"Sudah ku bilang dia akan baik-baik, yah meski aku tau sebenarnya kakakku itu cengeng xixixixi", kata Dini dengan sedikit bercanda.
"Aku jadi merasa bersalah karena mengatakan perasaan ku",Bunga yang terus merasa bersalah akan kata-katanya semalam.
"Shuttt..sudah seharusnya kau mengatakan itu, jika tidak kakakku akan menjomblo seumur hidup dan menunggu dirimu kawan", jawab Dini memberikan semangat pada temannya.
Obrolan singkat sembari berjalan menyusuri koridor kampus.
Mereka akhirnya memutuskan untuk segera pulang karena ingin menonton film kesukaan mereka berdua yang telah di rilis.
"Wah aku gak sabar nih, akhirnya ada juga waktu kosong kita berdua dan gak ada tugas yang membebani hahah", kata Dini yang bahagia sembari berjalan menuju parkiran bersama sahabatnya.
"Iya..", jawab Bunga yang juga bahagia karena akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu bersama lagi.
"Lo Pak Diksi baru belum pulang?", tanya Dini yang melihat Dosennya sedang membawa banyak berkas dan baru keluar dai mobilnya.
"oh kalian, mau pulang? iya hari ini ada sedikit urusan yang harus ku selesaikan", tanya Diksi pada mereka yang ternyata baru akan keluar kampus.
"Bapak butuh bantuan?", tanya Bunga pada Diksi yang terlihat repot denga barang bawaannya.
"Apakah boleh?", tanya Diksi atas tawaran bantuan dari bunga.
"Tentu saja kami tak terburu-buru", jawab mereka berdua serempak.
"Terimakasih, ini tolong bantu", kata Diksi yang kemudian mengambil beberapa file lagi di dalam mobilnya.
"Ah..iya saya baru ingat sebenarnya saya ada janji", kata Dini yang tiba-tiba beralasan tidak bisa membantu Diksi dan sengaja meninggalkan sahabatnya agar mereka bisa lebih dekat
"oh..it's okay, maaf ya aku pinjam dulu temannya sebentar", jawab Diksi pada Dini yang kemudian pergi tanpa rasa bersalah.
"Anak itu benar-benar awas saja nanti jika aku ke rumahnya", kata Bunga menggerutu pada pada sahabatnya yang pergi dengan sesekali menoleh dan menyemangati sahabatnya.
"Ayo Bunga..", ajak Diksi pada Bunga yang masih melamun menatap sahabatnya dengan tangan yang penuh berkas.
"Bunga..!", panggil Diksi lagi pada perempuan yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Ah..I..iya pak ayo", jawab Bunga yang baru sadar jika Dosennya memanggil namanya.
Mereka berdua pun berjalan berdampingan sembari membawa beberapa file di tangan masing-masing meski Diksi membawa lebih banyak.