
Sore ini Diksi pulang dengan rasa kecewa. Hatinya sedih karena terus memikirkan penolakan dari bunga untuk kesekian kalinya.
"Apa salahku?", kata Diksi bergeming sembari terus menyetir mobilnya.
"apa aku bertanya saja pada Dini", kata Diksi tiba-tiba terfikir tentang Dini sahabat Bunga.
"Pasti dia tau, penyebab bunga murung hari ini", Kata Diksi yang kemudian menepikan mobilnya dan mengirim pesan pada Dini.
"Din..apa kau tau, apa yang terjadi pada bunga?", ketik Diksi pada pesan yang langsung ia kirim pada Dini sahabat bunga untuk bertanya tentang apa yang terjadi.
Diksi yang sudah mengirim pesan kemudian di kejutkan dengan kakek-kakek yang pernah datang ke rumahnya.
Kakek yang menyebabkan kan ia berubah menjadi katak saat tersentuh air hujan.
"Bukankah itu kakek yang pernah datang ke rumah", kata Diksi dengan mata terbelalak dan segera keluar dari mobilnya dan berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar bayang-bayang kakek tersebut yang mulai hilang tertelan kerumunan orang berlalu lalang.
"Ah..ah..cepat sekali ia pergi", kata Diksi yang kemudian menyerah karena ia kehilangan jejak kakek tersebut setelah beberapa saat berlari.
Diksi terhenti di sebuah pohon besar di sebrang sungai yang sepertinya itu untuk pertama kalinya ia melihat pohon tersebut.
"Apakah sebelumnya pohon ini ada di sini?", Diksi yang berhenti dan bertanya-tanya tentang keberadaan pohon yang sebelumnya ia tak ketahui.
"ah sudahlah lupakan", kata Diksi yang kemudian memutuskan untuk kembali berjalan ke arah mobilnya karena tidak menemukan kakek tersebut.
Namun saat baru saja melangkah kaki hujan turun dengan deras, dan ya tentu saja tubuhnya langsung basah kuyup dan merubah Diksi menjadi katak seperti sebelumnya.
"aku senang hujan datang tapi kenapa aku harus berubah sekarang, aku bahkan belum mendapatkan jawaban apapun dari Dini Karna Smartphone ku yang tertinggal di mobil.
Diksi yang kemudian melompat-lompat tanpa arah Samapi akhirnya ia terfikir untuk datang ke Toko bunga tempat gadis yang pernah membantunya.
"Ah..iya aku baru ingat Bunga dia adalah obat penawarku, aku akan ke toko mencarinya", kata Diksi yang kemudian melompat-lompat ke arah di mana toko bunga berada.
"Cukup melelahkan dari sebelumnya", kata Diksi yang telah kelelahan menempuh jarak yang panjang dengan melompat-lompat sembari terkena hujan.
"akhirnya sampai juga", kata Diksi yang kemudian mencari kebenaran Bunga di sekeliling jendela toko.
Toko yang tertutup membuat Diksi yang berwujud katak tak dapat masuk ke dalam dan tetap di luar.
Hujan belum reda, tentu saja toko tutup untuk melindungi bunga-bunga agar tidak rusak.
"ah..bagaimana caraku masuk", kata Diksi yang kemudian berusaha melompat lebih tinggi untuk mencari perhatian seseorang di dalam toko.
"Wok..wok..", suara yang katak timbulkan di depan toko membuat Bunga tersadar.
Bunga yang saat itu sedang merangkai beberapa pesanan akhirnya melihat Katak Diksi yang berusaha masuk ke dalam toko.
"Ya ampun bukankah itu Katak Pak Diksi?", kata Bunga yang kemudian dengan cepat membuka pintu.
"Syukurlah kau melihatku", kata Diksi pada gadis yang sudah memegangnya di tangan mungilnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? kenapa anda berubah wujud lagi menjadi katak?", tanya Bunga pada Katak Diksi yang baru saja ia taruh di meja tempat ia merangkai bunga.
"Sebentar aku akan mengambilkan mu handuk", kata Bunga sebelum Diksi menjawab pertanyaannya barusan.
Diksi yang kemudian menunggu Bunga mengambil handuk dan sesekali mencium aroma wangi bunga-bunga di toko yang membuatnya merasa hangat dan nyaman.
"Wangi ini masih tetap sama seperti pertama kali aku datang", kata Diksi yang terpesona dengan wangi toko yang tak pernah berubah.
"Tentu saja, karena di sini toko bunga jadi wajar jika wanginya tetap sama dan tak berubah-ubah", jawab bunga yang muncul dari dalam ruangan sembari membawa handuk untuk Diksi kenakan.
"Jadi bagaimana jawab pertanyaan ku", kata bunga yang kemudian mengelus perlahan tubuh katak Diksi dan mengeringkannya dengan handuk yang ia bawa.
"Sebelumnya terima kasih sudah mengizinkan ku masuk dan memberiku handuk seperti ini", kata Diksi yang sangat bersyukur ada seseorang yang menerimanya meski wujudnya yang menjijikkan.
"Aku kira kau marah padaku", kata Diksi sedikit menunduk dan sedih ketika mengingat tentang Bunga yang membatalkan acara keluar bersamanya.
"Ah maafkan saya, sepertinya saya berlebihan tadi", jawab Bunga pada Diksi.
"Entahlah tiba-tiba mood ku menjadi buruk saat melihat Dini menunjukan foto anda berjalan dengan seorang perempuan cantik di koridor kampus", lanjut Bunga menegaskan ceritanya.
"Jadi kau marah karena itu?", tanya Diksi pada bunga yang akhirnya lega dengan jawaban yang di berikan.
"Aku pikir aku telah menyakiti mu dengan kata-kata ku, ternyata dugaan ku salah", jawab Diksi yang bahagia ketika mendengar jawaban dari Bunga.
"Apa kau mau ku tunjukan sesuatu?", tanya Diksi pada bunga yang masih menatapnya.
"Tapi kau janji tak akan marah atau memukulku?", tanya Diksi memastikan jika gadis di depannya tak akan memukulnya setelah ia memperlihatkan sesuatu yang mungkin bisa membuat Bunga marah.
"Tak akan, jadi tolong tunjukan padaku", jawab bunga dan berjanji tak akan marah tentang apa yang akan Diksi lakukan padanya.
"Bisakah kita pindah berbicara di ruang tempat istirahat mu?", tanya Diksi yang semakin membuat Bunga penasaran.
"Baiklah..ayo kita pindah ke ke kamar tidurku", jawab Bunga setuju dan membawa Katak Diksi masuk ke dalam kamarnya.
"Aku taruh kau di sini", kata bunga menaruh Diksi di kasur tempat ia biasa beristirahat di toko.
"Kemari mendekat..", kata Diksi menyuruh gadis di depannya untuk mendekatkan wajahnya.
Bunga yang setuju kemudian mendekatkan wajahnya karena penasaran dengan apa yang Diksi ingin tunjukan padanya.
Seketika Bunga yang sudah mendekat dan Diksi yang melompat kecil dan mendaratkan sebuah ciuman hangat kepada Bunga dalam wujud katak.
"Apa..yang bapak laku..", kata-kata Bunga terhenti ketika melihat Diksi yang berubah menjadi manusia setelah ia mendapatkan ciuman hangat.
"Ini yang ku maksud", kata Diksi yang sudah tidak malu mengakui jika bunga adalah obat untuknya.
Bunga yang saat itu menutup sedikit matanya karena laki-laki di depannya telanjang tanpa busana hanya tertutup oleh handuk yang sebelumnya Bunga berikan padanya.
"Pa tolong pakai handuk mu dengan benar", kata Bunga yang masih memejamkan matanya karena Diksi yang telanjang di depannya.
__ADS_1
Diksi yang kemudian membenarkan handuknya dan menatap bunga lekat-lekat.
"Lepaskan tangan yang menutupi wajahmu, aku sudah memaki handuk dengan benar", kata Diksi sembari memegang tangan Bunga dan mencoba membuatnya melepaskan agar dia bisa melihat wajah cantik gadis di depannya.
"Cantik", kata Diksi saat wajah mereka berhadap-hadapan dan membuat bunga berniat kembali menutup wajahnya.
"Jangan di tutup aku ingin melihat wajahmu, kau terlihat lebih cantik ketika malu", kata Diksi yang dengan cepat memegang tangan Bunga yang akan menutup wajahnya kembali.
"Kau tau, kau adalah gadis yang dapat mengubahku", kata Diksi yang kembali membuat gadis di depannya merona.
"Pegang ini", kata Diksi yang menaruh tangan Bunga pada tubuhnya yang bertelanjang dada agar bunga merasakan detak jantung Diksi yang berdekatan sangat cepat.
"Pak..", kata Bunga yang semakin malu setelah datangnya menyentuh dada Diksi tanpa lapisan kain yang menghalanginya.
Diksi yang kemudian mendekatkan lagi wajahnya pada Bunga dan dengan cepat mengambil kesempatan dan mencium gadis mungil di depannya untuk kesekian kalinya.
Bunga yang masih shok hanya diam dan mengikuti alur yang Diksi berikan.
kecupan hangat yang berubah menjadi sedikit panas ketika Bunga akhirnya sedikit membuka mulut mungilnya karena dorongan dari lidah Diksi yang terus memaksa untuk masuk ke dalamnya.
ciuman pertama Bunga denga seorang yang ia juga cintai akhir-akhir ini membuatnya diam dan hanya mengikuti alur yang Diksi berikan padanya.
Sesekali mereka berhenti dan saling menatap.
"Aku menyukai mu, apa kau mau menjadi kekasihku?", tanya Diksi di sela-sela ciumannya yang berhenti dengan nafas berat keduanya yang beradu.
Bunga yang malu hanya diam tanpa menjawab.
"Aku akan menganggap ini adalah ekpresi jawaban", kata Diksi yang kemudian ******* kembali bibir mungil gadis di depannya.
Diksi yang kemudian memeluk Bunga dengan erat sembari sesekali mencium tengkuk leher milih Bunga yang sedikit membuatnya mengeluarkan suara gairah.
"emm....ahhh, Pak tolong hentikan!", kata Bunga yang baru pertama kali merasakan hal aneh di dalam tubuhnya dengan sentuhan yang Diski berikan.
"Kau milikku sekarang, aku sudah memberikan tanda", kata Diksi yang kemudian sedikit melonggarkan pelukannya setelah memberikan kecupan yang berhasil meninggalkan jejak merah di tengkuk leher gadis mungil yang sudah tak berdaya.
"Maaf sepertinya aku bertindak berlebih, tapi aku tak bisa menahannya", kata Diksi yang kemudian menghentikan aktivitas panas dan menyadarkan dirinya tentang apa yang ia lakukan.
Diksi yang kemudian sedikit menjauh dan membenarkan cara duduknya.
"Pak..", panggil Bunga yang kemudian membuat Diksi menoleh lagi padanya.
"emmuahh....", Bunga yang tiba-tiba membalas ciuman diksi dengan kecupan lembutnya dengan cepat.
"Apa ini tandanya kau menerima ku?", tanya Diski sembari memegang bibir merahnya yang baru saja mendapatkan balasan kecupan hangat dari Bunga.
"Entahlah..cepat pakai baju dan ayo kita makan malam bersama", kata Bunga yang kemudian keluar dari ruangannya sembari menunjuk lemari untuk Diksi kenakan.
Malam dingin yang mereka ubah menjadi kehangatan bersama.
__ADS_1