Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 25 [Hey]


__ADS_3

Hari ini Diksi sangat khawatir, bagaimana tidak ia bahkan melupakan tentang janji kencannya bersama Bunga kekasihnya.


Semalam Bunga menunggu kabar darinya. Diksi yang baru sadar setelah pulang dari rumah Luna dengan cepat menuju taman tempat mereka berjanji untuk bertemu.


Namun Diksi tak melihat Bunga sama sekali, karena jam menunjukan pukul 11 malam, tak mungkin Bunga sebagai perempuan masih berkeliaran menunggunya yang tak kunjung datang.


"Dasar bodoh..!", kata Diksi pada dirinya sendiri.


"Bagaimana aku bisa melupakan janji ku terhadap Bunga, pasti dia akan sangat marah denganku", Diksi yang sudah berfikir negatif jika kekasihnya akan marah dengannya.


Berbagai cara ia coba dari mengirim banyak spam pesan dan panggilan telfon yang sangat banyak, namun nihil tak ada jawaban dari Bunga kekasihnya.


"Apakah aku harus ke toko saja?", Diski yang kemudian langsung pergi ke toko Bunga meski sudah larut malam, namun rasa khawatirnya dan bersalahnya mendorong kuat dirinya untuk banyak melakukan usaha permintaan maaf.


"Bunga..bunga..apa kau di dalam?", panggil Diksi di luar toko, namun nihil lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam dan cukup membuatnya frustasi.


Diksi yang menyadari mungkin kekasihnya sudah tertidur lelap tak ingin lagi melanjutkan untuk mengganggu Bunga.


"Lebih baik aku pulang saja", katanya sambil dengan raut wajah yang memelas dan rasa bersalah yang terus menghantuinya.


Ketakutan demi ketakutan datang menghampiri Diksi satu persatu.


"Bagaimana jika besok pagi ia berubah pikiran untuk tidak melanjutkan hubungan ini kedepannya?", tanya Diksi dengan pikirannya sendiri.


Diksi yang kemudian mengendari mobilnya dan menyusuri jalan yang suda sepi dengan hanya sesekali orang berlalu lalang.


Jarak rumah Diski yang begitu jauh dengan toko bunga milik kekasihnya membuatnya sedikit kelelahan tanpa harapan.


Diksi yang masih fokus menyetir dengan segala pertanyaan yang menghujam di otaknya.


namun selalu ia tepis sampai akhirnya ia sampai di rumah dan membersihkan diri untuk bersiap tidur.


Diksi yang kemudian melucuti semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dan mulai membersihkan diri di kamar mandi.

__ADS_1


Pikirannya yang semakin kacau ketika ia hanya melakukan aktivitas menggosok badan membuatnya terus berfikir keras.


Sampai akhirnya ia menyelesaikan mandinya tanpa rasa nikmat yang biasa ia rasakan setelah mandi.


"aku bahkan masih lemas meski sudah membersikan tubuhku", kata Diksi yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit setengah badannya.


Mencari piyama untuk ia tidur dan sesekali menatap smartphonenya yang hanya berbunyi dengan banyak pesan spam dari para penggemarnya.


"Ah.. sepertinya baru kemarin aku merasakan hati ku penuh dengan kebahagiaan dan sekarang aku bahkan tak memiliki semangat ketika belum mendengar kabar darinya", kata Diksi yang tampak lesu dengan mengancing piyama yang baru saja ia kenakan.


Diksi yang terus menunggu balasan dari kekasihnya sembari duduk di atas ranjang dan membaca buku yang belum ia selesaikan setelah satu Minggu ia baca.


Otaknya bahkan tak bisa mencerna kata-kata dari buku yang harusnya bisa menghaturkan dirinya dari tulisan-tulisan yang ia baca.


"Sepertinya aku harus menyudahi ini, aku bahkan tak fokus hanya untuk membaca", kata Diski yang kemudian menaruh kembali buku yang baru beberapa menit ia baca.


Memutuskan untuk membaringkan diri dan mulai mencoba memejamkan mata.


Diksi yang sangat lelah pun langsung tertidur pulas meski beberapa kali ia menolak untuk tertidur karena terus menahan smartphonenya dan menunggu balasan pesan dari kekasihnya.


"Ya ampun aku bahkan tertidur sembari memegang smartphone", kata Diksi yang baru saja sadar akibat cahaya matahari pagi yang menyorot wajahnya lewat celah-celah jendela.


Diksi yang masih sangat mengantuk mencoba untuk menyadarkan diri dan duduk denga langsung meminum air putih yang selalu ia taruh di meja kecil dekat ranjangnya.


Setelah menghabiskan satu gelas di pagi hari matanya sudah terbuka lebar, nyawa yang ia kumpulkan bahkan sudah sadar sepenuhnya.


Diksi langsung melihat smartphone dan hatinya sangat lega ketika ia mendapatkan balasan pesan dari kekasihnya.


Seketika senyumnya mengembang di wajahnya. Rasa khawatirnya langsung hilang seketika ketika membaca pesan dari kekasihnya.


Diski yang langsung menelpon Bunga meski masih pagi dan mengabari bahwa dirinya akan ke Toko dan mengunjungi kekasihnya.


Diksi sudah sangat lega dengan segala kecemasannya langsung tersenyum tanpa henti dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke Toko bunga dan bertemu kekasihnya.

__ADS_1


***


*Di toko


"Apa temanmu masih lama?", tanya Lucky sembari merangkai beberapa bunga pesanan customer.


"mungkin sebentar lagi", jawab Bunga yang juga masih fokus pada pekerjaannya.


Bunga dan Lucky kemudian hanya fokus dengan pekerjaan masing-masing sambil sesekali bercerita tentang Lucky yang yang menikmati pekerjaannya di rumah sakit dan Bunga yang sedikit sibuk dengan tugas-tugas kampus yang tak ada hentinya.


"Apa kak Lucky juga memiliki banyak tugas dulu saat kuliah di sana?", tanya Bunga penasaran dengan masa lalu Lucky saat kuliah.


"Tugasku tak terlalu banyak, kami lebih banyak tugas praktikum langsung tapi aku sangat menikmatinya.


"Yah..memang berbeda jika itu tentangmu kak hahahh", kata Bunga yang sudah menduga jawaban dari Lucky karena ia tak pernah menganggap berat apapun yang ia jalani dalam hidup.


"Tuhan tak akan memberikan sebuah cobaan jika bukan untuk mendewasakan seorang hamba", kata Lucky yang mulai berubah menjadi seorang bapak tua yang penuh dengan nasihat.


"Itu betul, hanya saja aku kadang suka mengeluh untuk sebenarnya hal yang belum ku lalui", jawab Bunga dengan segala kekhawatiran tentang masa depan.


"Khawatir itu baik, namun alangkah baiknya untuk tidak berlebih. Aku tau kau anak yang spesial sedari kecil aku sangat mengenal mu", jawab Lucky yang sudah mengetahui Bunga karena ia melihat bunga tumbuh bersama dirinya.


"Iya kau bahkan lebih tau tentang diriku di banding diriku sendiri hahahh", jawab Bunga di selingi candaannya.


"Permisi...", terdengar suara seseorang dari luar toko yang sudah tak asing untuk Bunga.


"Diksi..", kata Bunga langsung berlari ke arah pintu dan menyapa kekasihnya.


Diksi yang baru saja akan mencium kening kekasihnya di kagetkan dengan seorang laki-laki yang baru saja keluar setelah Bunga menyapanya.


"Jadi ini temanmu", tanya Lucky yang baru saja melihat laki-laki dengan badan tegapnya sedang memegang tangan Bunga.


"Aku ke...",Diksi yang tidak sempat melanjutkan perkenalkan dirinya sebagai kekasih Bunga langsung dengan cepat Bunga bungkam mulut Diksi dengan tangannya.

__ADS_1


Diksi yang kemudian bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi namun akhirnya menurut dengan apa yang Bunga kode kan padanya.


__ADS_2