
Diksi yang masih duduk sembari melihat sekeliling ruangan yang pernah ia datangi sebelumnya.
Tapi senyumnya tak berhenti berkembang di wajahnya sembari jari-jarinya yang masih memegangi bibir merahnya.
"Rasanya seperti mimpi", kata Diksi dengan senyuman bahagianya.
"Jika ini mimpi aku tak ingin bangun dari tidur ku", kata Diksi yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.
Diksi yang kemudian berdiri dari tempatnya termenung dan bergegas memilih baju di dalam lemari yang Bunga tunjuk sebelum gadis itu keluar.
"Hiiiii..aku tidak menyangka", kata Diksi yang masih memilih baju di dala lemari sambil bergeming sendiri.
"Ya ampun gadis ini benar-benar menyukai warna putih, bahkan di lemarinya banyak kaos warna putih yang ia miliki", kata Diksi yang kemudian mengambil kaos putih yang berada di depannya.
Diksi yang kemudian mengambil celana yang sebenarnya panjang namun terlihat pendek ketika ia kenakan, karena tinggi badannya yang tidak sepadan dengan Bunga.
"Celana yang lucu", kata Diksi sembari sesekali tertawa melihat celana yang ia kenakan.
Diksi yang sudah memaki baju Bunga dan keluar dari kamar tempat ia beristirahat.
"Apa bapak sudah selesai?", tanya Bunga yang melihat Diski yang baru saja keluar dari ruangan dengan baju dan celana yang kekecilan untuknya.
"hehehhe",Bunga tertawa ketika melihat Diksi baru keluar dengan pakaian yang terlihat kecil saat Diksi kenakan.
"Apa aku terlihat aneh?", tanya Diksi melihat bunga yang baru saja tertawa ketika melihatnya dengan pakaian yang terlihat kecil untuknya.
"Bapak sangat cocok dengan bajuku hahaha", jawab Bunga dengan sesekali tertawa kembali melihat Diksi yang terlihat lucu dengan baju yang kekecilan.
"Aku sedikit tak nyaman mengenakan ini", Kata Diksi yang sebenarnya sedikit malu menggunakannya.
"Maaf membuat anda jadi sedikit malu", kata Bunga merasa bersalah.
"Tapi aku suka menggunakan baju ini, karena aku bisa merasakan bau badanmu yang sangat ku suka", jawab Diksi yang membuat Bunga sedikit malu.
"Sekarang aku jadi membuatmu malu", kata Diksi menambahi setelah melihat respon bunga yang tiba-tiba diam dengan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
"silakan duduk aku membuatkan anda telur gulung", kata Bunga mempersilakan Diksi untuk duduk dan menikmati makanan yang ia sudah siapkan saat Diksi di dalam ruangan.
Diksi dan bunga menikmati makan malam bersama dengan sesekali tertawa.
sampai mereka menghabiskan makanan yang ada di meja. Meski hanya makan sederhana di toko tetapi Diksi sangat menikmatinya.
"terima kasih atas makan malamnya", kata Diksi pada Bunga setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Tapi bisakah aku meminta sesuatu lagi?", tanya Diksi yang memiliki satu permintaan lagi pada bunga.
"Apa itu?", tanya Bunga penasaran dengan permintaan yang Diksi ingin minta padanya.
"Saat kita di luar kampus bisakah hanya memanggil nama?", kata Diski ingin menghilangkan panggilan Bapak yang Bunga sematkan sebelum namanya.
"aku tidak bisa..", jawab bunga yang tak yakin dia bisa memanggil Diksi dengan tidak formal.
"kumohon..", pinta Diksi dengan nada manjanya.
"Baiklah aku akan mencoba..Diksi..seperti ini", kata Bunga mencoba memanggil Diksi hanya dengan nama.
"ah..panggil aku lagi", kata Diksi bersemangat ketika Bunga memanggilnya.
"ah..sangat nyaman mendengar mu mengucapkannya", Diksi yang tak berhenti tersenyum ketika bunga memanggil namanya.
"Aku akan membereskannya karena kamu sudah menyiapkan makan malam untukku", Diksi yang denga cepat mengambil piring dan membereskan meja untuk Bunga.
"Diksi tak perlu, biar aku saja yang membersihkannya", Bunga yang menolak dari menarik piring yang telah Diksi kumpulkan di depannya.
"Biarkan, aku juga ingin merasakan bagaiman mencuci piring", Diksi yang penasaran dengan bagaimana rasanya mencuci piring karena ini pertama kalinya bagi ia mencuci makan.
"Baiklah", kata Bunga yang akhirnya menuruti permintaan Diksi.
Diksi yang kemudian membawa beberapa piring yang ia kumpulkan dan mulai mencucinya.
"Kemari kamu harus memaki ini ketika mencuci piring", Bunga yang kemudian memakaikan celemek pada Diksi yang baru saja akan memulai mencuci piring.
__ADS_1
Diksi yang menurut kemudian menunduk dan mencondongkan badannya ke depan gadis yang berada di depannya.
"Apa ini?", tanya Diksi yang bahkan ia tidak tau tentang kain yang Bunga pakaikan untuknya.
"ini adalah celemek, agar baju mu tidak kotor saat mencuci piring", kata Bunga yang masih berusaha meraih Diksi yang masih lebih tinggi meski ia sudah merunduk.
"Menunduk lah lebih rendah, aku tau aku pendek jadi berhenti mengejekku dengan senyum masam mu itu", Bunga yang sedikit marah karena senyuman yang Diksi lemparkan ketika wanita mungil di depannya tak berhasil meraihnya karena ia terlalu pendek.
Diksi yang kemudian lebih menundukkan wajahnya dan malah mendekatkannya di hadapan Bunga dan dengan cepat memberikan kecupan hangat pada gadis mungil di hadapannya.
"Lagi-lagi kau pandai mengambil kesempatan", Bunga yang tersipu malu akibat ciuman manis yang Diksi layangkan untukku.
"Aku tak tahan melihatmu yang begitu manis, jadi tolong mengerti akan hal itu", Diksi yang terus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk tidak menahan lagi apa yang ingin dia lakukan pada gadis yang ia sukai.
"Sudah cepat fokus cuci piringnya dan berhenti menatapku", kata Bunga yang terus melihat Diksi yang tanpa henti menatapnya meski bunga telah selesai memakaikan celemek.
"Baiklah istri ku", jawab Diksi yang sangat patuh pada perintah gadis kecil yang ia cintai.
Bunga yang sudah tak sanggup menahan semua kata manis yang Diksi lontarkan untuknya segera lari meninggalkan Diksi dengan piring kotor yang akhirnya ia cuci meski Diksi tak mengetahui cara mencucinya.
selang beberapa menit saat Bunga meninggalkan Diksi di dapur sendiri terdengar suara piring pecah yang membuat Bunga langsung berlari ke arah suara itu berada.
.
"Ya ampun aku lupa, ini pertama kalinya bagimu bagaiman aku bisa ceroboh dan meninggalkan mu melakukannya sendiri", Bunga yang baru menyadari jika ia baru saja meninggalkan anak kecil yang tidak tau bagaimana cara mencuci piring.
"tetap tenang di situ dan jangan bergerak", kata Bunga yang kemudian dengan dengan cepat mengambil sapu untuk segera membersihkannya.
Diksi yang merasa bersalah hanya mengangguk seperti seorang anak kecil yang sedang di mendapatkan amarah dari seorang ibu.
"maafkan aku", kata Diksi yang merasa bersalah.
"Hey tak perlu meminta maaf, aku yang bersalah karena meninggalkan mu sendiri", Bunga yang masih fokus membersihkan pecahan piring dan merasa bersalah karena meninggalkan Diksi sendirian.
"Apa ada yang terluka?", tanya Bunga setelah selesai membersihkan pecahan piring.
__ADS_1
"Hanya sedikit tergores", Diksi yang kemudian menunjukkan telapak tangannya dengan goresan yang cukup dalam.
"Ya ampun ini cukup dalam Diksi ayo tinggalkan ini dan pergi ke ruang tengah bersama ku", Bunga yang khawatir dengan kondisi tangan Diksi yang tergores cukup dalam bergegas mengambil obat untuk menghentikan pendarahan yang terus keluar dari telapak tangannya.