
Sore ini langit sangat gelap, bunga yang baru saja pulang dari kampus langsung pergi membawa motornya dengan cepat.
"Wahh..akan hujan sepertinya", kata bunga bergeming dalam hati sembari membawa motornya keluar dari kampus.
Bunga yang melajukan motornya lebih cepat akhirnya sampai di toko dengan selamat.
"Brasssssss", suara hujan deras yang mengguyur kota dan sekitarnya.
"syukurlah aku sudah sampai", kita Bunga yang kemudian masuk ke dalam toko dan pergi membersihkan diri.
***
Hari ini Diksi begitu sibuk karena banyaknya pekerjaan yang sebelumnya ia tinggalkan, meski ada sebagian yang sudah di bantu oleh bunga sebelumnya namun pekerjaannya tak pernah selesai dan selalu bertambah.
Diksi yang arogan dulunya banyak mempunyai asisten untuk pekerjaannya, namun tak satupun asisten yang bertahan lama untuk bekerja dengannya.
Karena Diksi adalah orang yang sangat detail dalam hal apapun itu, tak jarang banyak yang akhirnya mengundurkan diri setelah beberapa bulan bekerja dengannya.
"Ya ampun hujan sangat deras, langit bahkan sangat gelap dan aku belum menyelesaikan pekerjaanku", kata Diksi sembari menatap awan di balik jendela ruangan kerja tempat ia bekerja.
Diksi yang sesekali melihat hujan di balik jendela akhirnya memutuskan untuk fokus pada pekerjaan nya.
Sekitar setengah jam ia fokus pada pekerjaannya hingga akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengemasi barang-barangnya untuk di lanjutkan di rumah.
"Ah..masih kurang sedikit, aku akan melanjutkannya di rumah saja", kata Diksi sembari mengemasi barang-barangnya dan memasukannya dalam ransel.
"klep...",secara tiba-tiba lampu padam karena hujan angin yang sangat deras.
"apa ini aku bahkan tidak bisa melihat apapun, kumohon seseorang bantu aku", jerit Diksi sembari menyalakan senter dari smartphonenya.
Diksi yang terus ketakutan dan badanya mulai gemetar, itu semua karena traumanya yang tidak bisa berada dalam kegelapan.
Diksi mempunyai phobia terhadap gelap, ia bahkan tidak pernah memakaikan lampu kamarnya saat tidur.
Dari kecil ia selalu takut akan kegelapan karena menurutnya Gela adalah sesuatu yang menyeramkan.
"Bagaimana ini bahkan kampus sudah sangat sepi", kata Diksi yang masih mencoba untuk berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
"Ah..aku tak punya pilihan lain..", Diksi yang kemudian langsung mencari kontak di smartphone nya bertuliskan nama Bunga, karena hanya nama itu yang terfikir kan olehnya di saat keadaan yang genting.
"Ahh siapa ini, nomor anonim lagi?", kata bunga yang kemudian mengecek layar smartphone nya yang sedari tadi bergetar di saku bajunya.
"Halo...Bunga ku mohon selamatkan aku, aku sangat lemas sekarang!", kata suara dari telfon yang bunga baru angkat.
"Pak Diksi? bapak di mana sekarang aku akan menjemputmu", kata Bunga yang sudah mengenal suara Dosennya itu.
"Aku di kampus sekarang huh... huff..huh..", jawab Diksi dengan nafasnya yang tersengal senggal menandakan ia sedang panik.
"Tarik nafas..hembuskan perlahan dan tetap diam aku aku menyusul bapak tunggu sebentar", himbau Bunga pada Diksi yang terkena serangan panik akibat phobia yang ia alami.
"emmmmm...huuuffff", Diksi yang menuruti perkataan Bunga di telfon.
"Aku akan matikan telfonnya dan tunggu aku!", kata Bunga yang kemudian mematikan telfonnya dan kemudian bergegas mengambil kunci motor.
"Ayah aku pergi dulu ada temanku butuh bantuan", kata Bunga berpamitan pada ayahnya yang sedang merangkai beberapa pesanan bunga untuk hari ini.
"Baiklah hati-hati jalanan licin", jawab ayah setelah anaknya berpamitan dengannya dengan masih fokus pada rangkaian bunga yang ia buat.
"iya ayah aku akan hati-hati jangan khawatir", teriak bunga dari luar toko yang sudah duduk di motor dan bersiap untuk melaju.
Meski tak ada ikatan pasti antara dia dan Pak Diksi tapi Bunga begitu khawatir dengannya.
Mengingat satu Minggu mereka pernah menghabiskan waktu bersama - sama.
"Ah...syukurlah sampai dengan selamat", kata Bunga yang baru saja sampai di kampus dan memarkirkan motornya sembari bergegas berjalan menuju ruangan Diksi.
"Ya ampun memang benar-benar gelap", kata Bunga yang kemudian menyalakan senter di smartphonenya dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong kampus.
"hahhhh...kenapa ruangannya jauh sekali", kata Bunga yang mulai kelelahan namun terus berjalan.
"Hah..Pak apa Bapak di dalam?", Ketuk Bunga pada salah satu pintu yang diyakininya itu adalah ruangan Pak Diksi.
"Masuk saja aku tak menguncinya!", jawaban seseorang dari dalam ruangannya yang kemudian dengan cepat Bunga membuka dan mengecek Diksi yang sudah meringkuk di lantai dengan tangganya yang masih memegang smartphone dengan senter yang menyala.
"Tak apa ada aku di sini!", kata Bunga yang kemudian merangkul Diksi yang masih bergetar karena ketakutan.
__ADS_1
Bunga yang secara refleks memeluk Diksi hanya berniat untuk membantu menenangkan Dosennya yang saat itu membutuhkan pertolongan.
"Ayo kita duduk di sofa?", ajak Bunga pada Diksi dengan memapahnya berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Diksi.
"Duduklah dengan tenang, aku akan mengambilkan anda air untuk minum", Kata bunga yang kemudian beranjak dari tempat duduk di mana dia memapah Diksi dan membawanya ke sofa.
"Jangan..aku takut!", rengek Diksi yang seketika berubah menjadi bayi yang lucu.
"Aku akan kembali, tempat minum hanya 5 langkah dari tempatmu duduk jadi tenanglah", Kata bunga yang kemudian melepaskan tangan Diksi yang semula menahannya untuk pergi meski hanya mengambil segelas air untuk menenangkannya.
"Minumlah anda butuh ini untuk menenangkan getaran di tubuhmu", saran Bunga pada Diksi dengan menyodorkan air putih yang baru saja ia ambilkan.
"Terimakasih..dan maaf sudah merepotkan mu lagi untuk ke sekian kalinya", Kata Diksi merasa bersalah karena hanya Bunga yang ia pikirkan saat dalam kesulitan.
"Bagaimana perasaan anda apa jauh lebih membaik?", Tanya Bunga yang masih khawatir dan duduk di samping Diksi yang masih sedikit bergetar.
"Apakah aku boleh berbaring sebentar? aku belum tidur dari kemarin", Diksi yang mengeluh pada Bunga dan meminta izin untuk membaringkan badanya yang masih sedikit bergetar.
"Baiklah", kata Bunga mengizinkan permohonan Diksi untuk menemaninya berbaring sebentar sembari menunggu hujan reda.
"Aku akan berpindah tempat agar bapak bisa tidur dengan nyaman", kata Bunga yang kemudian beranjak dari tempatnya duduk di sofa.
"Jangan...tetap duduk di sini ijinkan aku berbaring di atas kaki mu kepalaku sangat sakit sekarang", Tahan Diksi pada Bunga yang akhirnya mengundurkan niatnya untuk berdiri karena kepala Diksi yang sudah terbaring di atas kakinya yang masih dengan posisi duduk.
"Tapi...", kata bunga yang terhenti ketika jadi telunjuk Diksi yang mendarat di bibir mungilnya.
"Ku mohon izinkan aku..", kata Diksi yang memohon pada bunga untuk mengizinkannya terbaring di atas kakinya.
Akhirnya Bunga hanya duduk dengan terus melihat Dosennya yang tampan berbaring dan terlelap di pangkuannya.
Wajah Diksi yang terlihat pucat membuat Bunga tak berhenti menatap Laki-laki yang dulu ia takuti karena auranya yang gelap.
Namun sekarang Diksi jah berbeda dari pertama Bunga melihatnya, Di lebih cerah dan lebih lembut ketika memejamkan mata.
"Sangat tampan..", kata bunga tanpa sadar ketika hanyut dalam tatapannya pada laki-laki tampan yang tertidur lelap di pangkuannya.
"Terimakasih...aku banyak mendapatkan pujian seperti itu dari banyak orang, namun hanya dirimu yang dapat membuat hatiku bergetar ketika mendengarnya..", jawab Diksi yang ternyata masih setengah sadar dari tidurnya.
__ADS_1
Bunga yang shok tentang apa yang ia katakan membuatnya tersipu malu dan menoleh dan membuang pandangannya dai wajah tampan Diksi.