
Sudah satu jam Diksi terlelap dari tidurnya, bunga yang sedari tadi tak tidur akhirnya ia juga ikut merasakan kantuk dan mulai meletakan kepalanya di batas sofa.
Hari sudah gelap dan listrik sudah menyala tapi mereka berdua masih tertidur pulas hingga akhirnya Diksi terbangun karena ia sudah merasakan banyak cahaya masuk ke dalam matanya.
"Ah..ya ampun aku benar-benar tertidur", kata Diksi yang baru sadar dengan posisi tidurnya.
"Ya ampun aku lupa jika tadi aku tidur di pangkuan bocah ini", kata Diksi sembari mengingat-ingat kejadian yang baru saja terlewati bersama Bunga.
Sesekali senyumnya mengembang dan sesekali mencuri pandang pada gadis kecil yang sedang tertidur pulas dengan kepala yang mendongak ke atas di tepian sofa.
"Apa yang ku lakukan, aku lagi-lagi merepotkan anak ini", kata Diksi lagi yang masih bergeming dan menatap lekat-lekat wajah mungil bunga yang masih terlelap.
"Sebelumnya aku adalah orang yang benci dengan hal kotor dan menjijikan, tapi entah mengapa aku ingin menjadi katak lagi untuk mendapatkan ciuman lembut dari bibir mungilnya", kata Diksi dengan senyumnya yang masih mengembang dan berharap jika ia bisa mencium Bunga lagi setelah insiden sebelumnya.
"Aku ingin mengatakan jika kau adalah Obat untuk ku", Kata Diksi lagi yang kemudian Bagun dari tempatnya berbaring di pangkuan Bunga dan mulai membenarkan cara tidur Bunga yang sangat terlelap.
"Kau sangat cerewet ketika sadar, tapi anak ini benar-benar cantik bahkan saat ia tidur", geming Diksi sembari mengambil bantal di ruang istirahat serta selimut.
Diksi yang sebelumnya tak peduli dengan orang lain kini mulai menunjukan sisi sebenarnya yang ada pada dirinya.
"Terima kasih", kata Diksi yang duduk di bawah sembari menatap wajah lelah Bunga yang masih terlelap.
"Terima kasih Karna sudah menemukanku, terima kasih karena sudah mengubah hidupku", Diksi yang tak berhenti mengucapkan rasa terima kasihnya pada gadis kecil yang terlelap di depannya.
Diksi yang sesekali mulai memberanikan diri untuk membelai rambut Bunga yang terurai dengan lembut.
"Aku baru sadar ada manusia secantik dirimu", Diksi yang terus menatap bunga lekat-lekat.
Diksi yang kemudian terbawa suasana dan terus mendekatkan wajahnya ke arah gadis kecil yang tengah terkepal dalam tidurnya.
"Apa aku penjahat ketika mengambil kesempatan ini?", tanya Diksi pada dirinya sendiri sebelum akhirnya melayangkan kecupan hangat di bibir mungil milik bunga.
"Maaf, tapi aku tak bisa melakukannya ketika kau sadar ! kau mungkin akan langsung berteriak dan menyangka aku adalah orang tua yang mesum dan gila tapi aku sangat menginginkanmu", Kata Diksi merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.
"Ting..",suara dari smartphone Bunga yang tiba-tiba berbunyi.
__ADS_1
"Bunga aku mendengar dari ayah kau pergi saat hujan, kabari aku jika kamu sudah sampai rumah.. From Kak Lucky", pesan yang baru saja Diksi baca.
"Ya ampun anak ini, dia bahkan tidak mengunci smartphonenya!", Diksi yang kemudian melihat profil dari seseorang yang baru saja Diksi baca chat nya.
"Jadi ini yang namanya Lucky, ya sangat tampan tapi masih lebih tampan diriku", kata Diksi yang sedang terbakar api cemburu dan membanding-bandingkan dengan seseorang yang baru saja mengirim pesan perhatian pada Bunga.
"Ah...pak kau sudah bangun?", kata Bunga yang baru saja terbaring dari tidurnya.
Bunga yang masih mengumpulkan nyawanya setelah tidur cukup ini.
"Ini smartphone mu berbunyi", kata Diksi dengan ekpresi masamnya sembari memberikan smartphone yang ia pegang.
"Ah..terima kasih", jawab Bunga yang kemudian bangkit dari tidurnya dan mulai membuka smartphone yang di sodorkan oleh Diksi untuk mengecek pesan dari siapa yang Diksi maksud.
"Aku baik-baik saja sekarang hujan juga sudah reda aku akan pulang sekarang kak tidak perlu khawatir", ketik Bunga pada chat message yang baru saja ia kirim untuk balasan pesan dari Lucky yang khawatir dengannya.
"Dia pacarmu..?", tanya Diksi yang lebih berani pada Bunga yang masih fokus pada layar smartphonenya.
"Bukan..dia adalah kakak dari temanku namun sudah seperti kakakku sendiri", jawab Bunga dengan cepat.
"Terima kasih untuk hari ini, dan maaf aku merepotkan mu lagi", kata Diksi lagi mengucapkan rasa terima kasih dan bersalahnya karena sudah melibatkan Bunga untuk urusan pribadinya.
"Tak apa saya sudah menganggap anda seperti seorang teman karena kita pernah menghabiskan waktu bersama dan saling berbagi kisah", jawab Bunga yang merasa sama sekali tidak terbebani dengan Diksi yang meminta bantuannya.
"Ayo akan ku antarkan kau pulang", Kata Diksi yang kemudian mengambil barang-barang yang akan ia bawa.
"Saya akan pulang sendiri, ada motorku di parkiran kampus", tolak Bunga pada Diksi yang akan mengantarkannya pulang.
"Ku mohon jangan menolaknya, hanya ini yang bisa sedikit membuatku merasa lebih baik setelah merepotkan mu", kata Diksi yang memohon untuk tidak di tolak ajakannya.
"Tapi bagaimana dengan motorku?", tanya Bunga' yang khawatir dengan motor yang ia bawa.
"Tenang saja nanti aku akan meminta bantuan satpam untuk mengantarkannya ke rumahmu", jawab Diksi meyakinkan Bunga untuk tidak khawatir tentang kendaraanya yang masih terparkir di parkiran kampus.
"Baiklah", jawab Bunga yang kemudian mereka berdua beranjak pergi meninggalkan ruangan yang sedari tadi mereka habiskan watu bersama.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju parkiran tak ada dia antara mereka yang membuka pembicaraan.
Diksi yang masih kesal dan cemburu dengan seseorang yang memberikan perhatian lebih pada bunga membuatnya terus berfikir tanpa henti.
Hanya keheningan yang menemani mereka berdua sampai akhirnya mereka sampai pada parkiran mobil.
"Silakan masuk", kata Diksi membukakan pintu mobilnya untuk Bunga masuk dan kemudian baru menyusul masuk ke tempat kemudi.
"Maaf karena merepotkan mu dan harus mengantarkan mu pulang selarut ini", Diksi yang membuka pembicaraan ketika mereka sudah di dalam mobil dan bersiap untuk pulang.
"Tak apa, aku sudah izin pada ayahku, dan juga kita pulang malam itu karena diriku yang tidur terlalu lelap maaf karena membuat anda menunggu saya", kata Bunga yang merasa lebih tidak enak karena sudah membuat Diksi pulang larut malam.
Hanya itu pembicaraan di antara mereka berdua sampai akhirnya Diksi sampai dan memarkirkan mobilnya di depan toko.
"Aku akan turun dan berpamitan pada ayahmu", kata Diksi yang kemudian turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Bunga.
"Permisi selamat malam", Sapa Diksi pada ayah Bunga yang masih sibuk mengemasi peralatan untuk merangkai bunga.
"Wah..siapa ini yang datang malam-malam", jawab ayah yang langsung menaruh peralatannya dan menghampiri laki-laki yang baru saja menyapanya.
"Maaf sebelumnya karena membuat Bunga pulang malam, Saya Diksi Dosen Bunga di kampus dalam kenal", kata Diksi dengan sopan mengenalkan dirinya.
Meski Diski sebelumnya sudah mengenal ayah dan ibu bunga, namun saat itu wujudnya masih berupa katak dan tak mungkin baginya mengenalkan diri sebagai seekor katak yang menjijikan.
"Rasanya sangat hangat ketika kembali ke toko ini", kata Diksi bergeming dalam hati.
"Ah kamu Doses sastra Inggris, Bunga bayak berbicara tentang anda karena anda adalah orang yang sangat biak", jawab ayah pada laki yang sering putrinya bicarakan padanya.
"Ha...ha..saya tidak sebaik itu, Bunga melebih-lebihkan, karena ini sudah malam maaf tidak bisa untuk duduk dan berbincang lebih lam", kata Diksi yang berniat untuk berpamitan pada ayah Bunga.
"Ah..iya ini sudah malam, terima kasih sudah mengantarkan anak om. Lain kali jangan lupa mampir dan mari menikmati teh bersama", Ayah Bunga yang kemudian memberikan tawaran pada Diksi untuk selesai mampir dan berbicara - bincang bersamanya.
"Terima kasih atas sambutan hangatnya saya pamit pulang dulu, Bunga aku pulang terima kasih untuk hari ini", kata Diksi yang membukukan badannya di depan Ayah bunga dan juga berpamitan pada Bunga yang masih berdiri di sebelah ayahnya.
Hari yang cukup melelahkan namun ada sedikit momen yang membuat Diksi bahagia.
__ADS_1