
"Ya ampun bayak sekali pekerjaan ku", Diksi yang mengeluh ketika melihat banyak file menumpuk yang belum sempat ia lihat.
"Apa seharusnya aku merekrut asisten baru?", kata Diksi yang tiba-tiba terfikir untuk merekrut asisten baru untuk membantunya.
"Ah..aku lupa, aku punya kekasih yang bisa ku andalkan", Diksi yang kemudian teringan tentang Bunga yang pernah membantunya dalam menyelesaikan pekerjaan saat Diksi yang tengah berwujud katak.
"Aku akan menghubungi pacarku", Diksi yang kemudian mengambil smartphone dari saku jas nya dan mulai mencari nama Bunga di smartphone miliknya.
"Pertama aku harus mengganti namanya dulu", Diksi yang sadar jika nama Bunga di smartphone nya memiliki nama baru karena Bunga sekarang adalah kekasihnya.
"MANIS KU", ketik Diksi mengganti nama Bunga di smartphonenya.
"Tapi apa dia bisa?", dia bahkan terlihat lelah hanya untuk pekerjaan kampus dan mengurus toko", Diksi yang kembali bertanya-tanya mungkin saja kekasihnya tak bisa menjadi asisten baru untuknya.
"Ah..aku tidak ingin menambah beban untuknya, dia pasti sudah sangat lelah", Diksi yang semula ingin mengirimkan pesan mengurungkan niatnya.
Diksi pun kembali fokus pada tumbukan file" yang harus segera ia urus, namun selang beberapa menit suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Tok..Tok..", Diksi apa aku boleh masuk", suara perempuan dari luar ruangan kerja Diksi sembari mengetuk pintu.
"Masuklah..", Diksi yang masih fokus pada file dan mengizinkan perempuan yang baru saja mengetuk pintunya untuk masuk, karena Diksi tau itu adalah suara sahabatnya Lusi.
"Ada apa?", tanya Diksi pada Lusi yang kemudian duduk di depannya.
"Aku hanya kebetulan mampir karena hari ini aku free", jawab wanita yang tengah duduk di depan Diksi dengan arah berhadap-hadapan.
"Wah..pasti menyenangkan menjadi dirimu, kau bahkan bisa kesana kemari tanpa mencemaskan pekerjaan", kata Diksi yang sedikit iri dengan sahabatnya yang selalu terlihat bebas.
__ADS_1
"Jadi apa bapak Dosen butuh bantuan?", tanya Lusi mengejek sahabatnya.
"kkkk..baiklah jika itu tidak merepotkan, bisakah anda membantuku?", tanya Diksi menjawab tawaran dari sahabatnya.
"sini berikan padaku, di mana lagi kau menemukan sahabat terbaik seperti diriku", Lusi yang kemudian mengambil tumpukan file yang masih tertumpuk di atas meja Diksi.
"Wah.. sepertinya ini adalah hari keberuntungan bagi ku hahaha", Diksi yang merasa bersyukur karena sahabatnya yang tiba-tiba muncul dan membantunya seperti malaikat.
"Tapi ini tidak gratis..!", Lusi yang kemudian memperingatkan jika tenaganya tidaklah ia pakai secara cuma-cuma.
"Apa yang kau inginkan tuan Putri saya akan menurutinya", jawab Diksi yang tak berfikir lama karena ia sudah menyangka pasti sahabatnya tidak akan meminta hal yang macam-macam padanya.
"Temani aku makan malam hari ini", Lusi yang kemudian dengan tegas mengajak Diksi untuk menemaninya makan malam.
"Kenapa tiba-tiba, apa tidak bisa di undur hari ini aku ada kencan dengan kekasih ku", Diksi yang menolak ajakan Lusi karena ingin melaksanakan kencan pertama bersama Bunga.
"Wah..kenapa tidak bilang jika kau sudah mempunyai kekasih! jadi ini yang di sebut sahabat ?", Lusi yang sedikit marah karena Diksi yang tidak memberitahukan jika ia tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita.
"Lagi pula ini hari pertama aku resmi menjalin hubungan dengannya", kata Diksi menambahi.
"Siapa wanita itu? sepertinya memang ada yang berubah dari diri mu..", Lusi yang penasaran dengan siapa sosok wanita yang bisa membuat Diksi jatuh hati padanya.
"Dia hanya wanita sederhana, tapi banyak kelebihan yang hanya bisa di lihat olehku", Diski yang menjelaskan kepada sahabatnya tentang ciri-ciri wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Dia pasti sangat beruntung karena bisa membuatmu jatuh hati padanya", kata Lusi dengan masih fokus pada file-file di depannya.
"Bukan dia yang bersyukur tapi aku yang sangat bersyukur bisa memilikinya", Diski yang menjelaskan bagaimana ia sangat bersyukur bisa memiliki kekasih seperti Bunga.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang mengubahku dan hidupku", Diksi yang masih merasa bersyukur tentang apa yang ia miliki sekarang ini.
"Aku menjadi semakin penasaran tentang siapakah wanita sederhana yang membuatmu begitu tergila-gila padanya", Lusi yang terus berfikir dan membayangkan seperti apa sosok wanita yang Diksi bicarakan padanya.
"Ah..tapi apa tidak bisa kau membantu ku kali ini?", Lusi yang masih berharap Diski mau menerima tawarannya.
"Hari ini ayah sedang sakit dan dia ingin aku datang berkunjung ke rumah bersama kekasihku, kau tau aku tak suka menjalin hubungan dan sekarang aku hanya memiliki mu jadi ku mohon bantu aku kali ini saja", Lusi yang terus berusaha agar Diksi dapat membantunya.
"Aku tak mau berbohong pada ayahmu, kau tau kan ayahmu sudah mengenalku mana mungkin dia bisa percaya tiba-tiba kita menjalin hubungan lebih dari sekedar teman", Diksi yang mencoba menolak dan meyakinkan Lusi bahwa usahanya tak akan berhasil.
"Justru karena ayah mengenalmu, dia akan lebih menerima jika kamu adalah kekasihku, ayolah..kumohon..", Lusi yang terus memohon pada Diksi dengan raut wajahnya yang memelas.
"Ya ampun anak ini..hey berhenti memasang wajah melas mu, okey aku akan menemanimu tapi setelah ini aku harus mengatakan pada ayah mu tak ada hubungan di antara kita jika ayah sudah sembuh okey !", Diksi yang akhirnya menyetujui permohonan dari sahabatnya karena wajah melas yang terus Lusi tunjukan padanya.
Merekapun akhirnya menyudahi pembicaraan hingga hanya keheningan di dalam ruangan dan suara ketikan dari labtop masing-masing sampai akhirnya mereka berdua menyelesaikan semua pekerjaan sebelum jam pulang kampus.
***
"Eh buru-buru banget mau kemana?", tanya Dini penasaran setelah melihat sahabatnya dengan cepat mengemasi barang-barangnya.
"Ah..aku ada janji jadi aku harus segera bersiap", Bunga yang masih terus memasukan barang-barangnya ke dalam tas sembari menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
"Oh.. hati-hati, hari ini aku masih harus di kampus untuk mencari referensi tugas", Dini yang masih harus tetap di kampus karena tugasnya yang mulai menumpuk meski ia selau mengerjakannya.
"Ya ampun..aku cukup berduka untukmu baiklah..semangat kawan aku duluan ya", Bunga yang sedikit mengejek Dini dan bergegas pergi menuju tempat ia memarkirkan motornya.
"Ah.. syukurlah cuaca hari ini sangat bagus, harusnya tidak akan turun hujan..", Bunga yang sesekali melihat langit yang cerah sembari terus berjalan menuju parkiran motor.
__ADS_1
Bunga yang kemudian dengan cepat menemukan motornya dan beranjak pergi dari kampus dengan menaiki motor butut kesayangannya.
"Aku tidak sabar untuk malam ini..hihihi", Bunga yang masih mengendarai motornya menuju rumah dengan senyumnya yang terus mengembang karena membayangkan seperti apa indahnya kencan pertama dengan seseorang yang ia cintai.