Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 28 [Wasiat]


__ADS_3

*Bunga


Hari ini sudah satu Minggu sejak ayah di rawat di rumah sakit.


Kondisinya kian memburuk meski sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, bahkan Lucky ikut turun tangan langsung dalam pengobatan ayah.


Sedih rasanya melihat ayah yang sudah terbaring selama satu Minggu dan belum sadarkan diri.


Ibu yang selalu mencoba terlihat tegar, meski kesedihan sangat tergambar di wajahnya.


Aku yang masih tetap pergi ke kampus dan membuka toko Bunga dengan pikiran kacau dan selalu mencoba untuk berfikir positif tentang keadaan ayah kedepannya.


Diksi yang tak berhenti selalu menemani ku dan menghiburku meski aku tak berhenti menangis jika mengingat ayah yang sedang terbaring di rumah sakit.


***


"Bunga..kabar baik paman sudah siuman, sepulang dari kampus cepatlah datang ke rumah sakit", isi chat message yang cukup membuat Bunga terbelalak melihatnya.


Pesan yang memang sudah ia tunggu-tunggu dari Lucky tentang kondisi ayahnya.


Seketika senyumnya mengembang ketika mendengar bahwa ayahnya sudah sadar.


Bunga yang kemudian menemukan semangatnya lagi dan mulai mengikuti mata kuliah dengan pikiran yang tenang.


sampai jam terakhir mata kuliah tiba. Bunga yang biasanya pulang terakhir langsung mempersiapkan diri untuk pulang lebih cepat.


Ia sangat merindukan sosok ayahnya meski sang ayah banyak mengomel padanya.


Tapi itulah yang membuat Bunga rindu dengan segala celotehan ayahnya yang kadang malah membuatnya tertawa.


"Ah.. akhirnya aku bisa berbicara dan bercanda lagi dengan Ayah", kata Bunga sembari mengemas barang-barangnya dan bergegas keluar ketika Dosen sudah meninggalkan kelas.


Dini yang sudah menunggu sahabatnya keluar dari kelas dan melambaikan tangan dari jendela.


Hari ini Dini juga akan mengantar sahabatnya ke Rumah sakit bersama.


"Wah.. akhirnya aku gak tahan liat kamu murung terus", kata Dini bahagia melihat sahabatnya yang baru saja keluar dari kelas.


"Yah..aku sangat buruk dalam menutupi kesedihan", jawab Bunga dengan wajahnya yang bahagia.


"Bunga yang seperti ini adalah Bunga sahabat ku", kata Dini menyemangati sahabatnya.


"Dini kau sudah tidak ada kelas hari ini?", tanya Bunga pada Dini yang tiba-tiba menjemputnya.

__ADS_1


"masih ada kerja kelompok tapi aku sudah mendapat izin dari teman kelompok ku", jawab Dini yang sebenarnya masih mempunyai tugas kelompok namun bisa di undur demi menemani Bunga sahabatnya.


"Ah..maaf merepotkan", kata Bunga yang tidak enak dengan Dini dan Lucky yang sudah banyak membantunya.


"Hey..apa ini, aku sudah menganggap lebih dari seorang teman begitu juga dengan kak Lucky, kita keluarga jadi tak perlu merasa merepotkan untuk hal semacam ini", jawab Dini dengan tegas.


Setelah sedikit berbincang-bincang mereka berdua akhirnya berjalan menyusuri koridor kampus menuju tempat Dini memarkirkan motornya.


"Oh iya apa kau sudah mengabari Diksi?", tanya Dini yang penasaran apakah sahabatnya sudah mengabari kekasihnya tentang keadaan ayahnya.


"Ah..iya aku hampir lupa, tapi sepertinya nanti malam saja aku mengabarinya pasti dia sangat sibuk sekarang", jawab Bunga yang tak ingin merepotkan Diksi karena ia tau Diksi mempunyai jadwal full di hari ini.


"Oh...baiklah jika begitu..", jawab Dini yang kemudian menaiki motornya.


Bunga yang memang tidak di izinkan membawa motor karena kondisinya yang lemah selama seminggu selalu berangkat dan pergi bersama Dini.


Mereka yang akhirnya sudah menaiki motor berboncengan dan meninggalkan kampus menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan senyumnya tak berhenti mengembang, Bunga sangat bahagia hari ini.


Sini yang hanya fokus menyetir dan tak mengajak Bunga berbicara karena ia tau sahabatnya sangat bahagia terlihat dari kaca spion motor yang Dini kendarai.


Sampai akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit dan memarkirkan motornya.


Ayah yang memang di rawat di lantai 1 membuat mereka tak perlu menaiki lift ataupun tangga.


Bunga dan Dini yang terus berjalan sampai melihat Lucky yang baru saja akan masuk ke ruangan Ayah Bunga.


"Kak...",panggil Dini pada Lucky yang sebenarnya tak mengetahui kedatangan mereka.


"Shutttt...ini bukan di hutan jangan berteriak seperti itu, kau akan mengganggu pasien yang sedang di rawat", Himbau Lucky pada Dini adiknya.


"Baiklah..aku lupa karena terbiasa teriak di rumah saat memanggilmu hihihi", jawab Dini dengan tawa ringannya.


"Kau ini....", jawab Lucky sambil mengusap lembut kepala adiknya karena gemas dengan sikapnya yang tak bisa membedakan tempat.


"Kak bagaimana keadaan ayah?", tanya Bunga langsung pada Lucky yang memang menangani ayah secara langsung.


"Untuk saat ini kondisi paman sangat baik, ku harap dua atau tiga hari paman bisa pulang dan beraktivitas seperti biasa", jawab Lucky yang belum bisa memastikan tentang kondisi ayah Bunga kedepannya.


"Baiklah ayo masuk, ayah mu sudah menunggu", ajak Lucky pada Bunga yang kemudian membuka pintu kamar tempat di mana ayah di rawat.


"Ayah...!", teriak Bunga yang kemudian berlari dan langsung memeluk ayahnya dengan erat.

__ADS_1


Ibu yang masih duduk di sampingnya juga ikut mengelus kepala anak perempuannya.


Rasa sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.


"Apa kau menjadi anak baik ketika ayah tidak ada?", tanya Ayah menggoda anak perempuannya.


"aku murung setiap hari meski tetap menjalani aktivitas huhuhu", jawab Bunga dengan sedikit menangis ketika mengingat bagaimana hidupnya berjalan tanpa ayah.


"Kau ini sudah dewasa, sampai kapan akan selalu manja dengan ayahmu yang sudah tua ini", jawab ayah sambil mengelus rambut putri kesayangannya.


"Siapa bilang ayah sudah tua? ayah selalu muda untukku jadi jangan sakit seperti ini lagi", kata Bunga yang kembali memeluk ayahnya dengan erat.


"Baiklah... baiklah ayah berjanji untuk tetap sehat", kata Ayah sembari terus berbalik memeluk putrinya dengan lembut.


"Lucky terima kasih, selama ini kau sudah merawat keluarga paman", Kata ayah sembari meraih tangan Lucky dan menggenggamnya dengan hangat.


"Ah..paman jangan berlebihan kita ini keluarga, tentu saja aku harus membantu Paman dan Bibi begitu juga dengan Bunga", jawab Lucky yang merasa bahwa menjaga keluarga Bunga adalah kewajibannya.


"Kau memang anak laki-laki paman yang selalu membuatku bangga memilikimu, meski kita tak memiliki hubungan darah tapi kebaikan mu melebihi itu", jawab ayah yang masih menggenggam lembut tangan Lucky.


"Paman harap kau bisa menikahi Bunga karena paman sangat ingin memiliki menantu seperti mu", kata Ayah yang kemudian membuat semua orang di dalam ruangan tercengang dengan perkataannya.


"Ah...itu tidak mungkin paman Bunga' hanya menganggapku seorang kakak", kata Lucky yang shok dengan perkataan Ayah Bunga yang berniat menjodohkan mereka berdua.


"Ayah....",kata Bunga dengan sorot matanya memelas.


"Ayah tak tau sampai kapan ayah akan bertahan, dan ayah pikir Lucky bisa menggantikan posisi ayah untuk menjaga mu", kata ayah yang kemudian menitihkan air mata.


"Paman..aku yakin paman pasti sembuh, jadi ku mohon jangan berbicara seperti itu", kata Lucky memberikan semangat layaknya seorang Dokter.


"Kau tau..kakakmu ini dia menjadi Dokter karena dirimu Bunga, dia sangat menyayangi mu dari kecil dan ayah sudah melihat itu",kata Ayah yang ternyata sudah mengetahui jika Lucky memiliki perasaan terhadap putrinya.


"Tapi ayah...", jawab Bunga mencoba menolak.


"Ayah harap kamu memikirkan permintaan ayah yang satu ini, sebelumnya ayah selalu memberikan kebebasan memilih pada dirimu sendiri, tapi untuk masalah ini ayah sangat ingin memilihkan laki-laki yang menurut ayah baik dan pantas menjadi suamimu", jawab Ayah dengan tegas.


Bunga yang kemudian hanya diam dan tak bisa melawan saran dari ayahnya.


Sedari dulu ayahnya tak pernah melarang Bunga untuk segala hal yang ia pilih bahkan untuk kuliah sastra Inggris yang sebenarnya ayah kurang mendukungnya.


Namun ayah tetap mengizinkan Bung untuk menggunakan kehendak bebasnya dalam memilih jurusan yang ia inginkan.


Tapi untuk masalah jodoh yang akan menjaga anaknya selamanya membuat ayah sangat ingin memilihkan laki-laki yang menurutnya pantas untuk anak perempuannya yang akan menggantikan ayah untuk menjaganya.

__ADS_1


"Tapi ayah tidak akan memaksamu, ayah hanya memberikan saran dan berharap jika permintaan ayah kali ini dapat kau mengerti", kata Ayah lagi menambahi.


__ADS_2