Bunga Untuk Pangeran

Bunga Untuk Pangeran
Chapter 8 [Cinta]


__ADS_3

Entah mengapa hari ini bunga terus saja memikirkan Diksi. Laki-laki katak yang pernah ia rawat sebelumnya dan sekaligus Dosen di kampus tempat ia kuliah.


Bunga yang merasakan sepi dan aneh ketika tak lagi mendengar Katak yang selalu mengomel padanya.


Sangat aneh tapi tak di pungkiri jika keberadaan Diksi membuatnya terhibur meski dengan celotehannya yang selalu marah untuk hal-hal yang mungkin remeh bagi Bunga di kehidupannya.


Namun Bunga sadar bahwa tak mungkin ia akan menjalin hubungan yang lebih setelah ini.


Mengingat Diksi adalah pangeran yang mempunyai banyak penggemar di kampusnya.


Bukan hanya kalangan mahasiswa, namun dosen wanita juga banyak yang menyukainya.


***


"Permisi", Suara berat laki - laki berbadan tegap yang sudah bisa bunga tebak itu adalah Lucky, Kakak dari sahabat dekatnya Dini.


"Kak Lucky, ada apa", kata bunga yang baru saja tersadar dari lamunannya saat merangkai bunga di meja toko yang biasanya di jadikan tempat tidur untuknya beristirahat.


"Ya ampun aku bahkan bisa melihatmu dari luar jendela kaca toko mu, kenapa kau diam seperti patung?", Tanya Lucky yang penasaran terhadap bunga yang sudah ia pantai sedari Turun dari mobil dan memarkirkannya Di depan Toko.


"Ah...Hahahahah hanya sedang memikirkan sesuatu", jawab bunga dengan nada yang canggung.


"Baiklah..sore ini apa kau ada rencana?", tanya Lucky tiba-tiba pada bunga yang masih terus duduk dengan bunga-bunga yang ia rangkai.


"Tidak, sore ini aku senggang", jawab Bunga dengan cepat.


"Bolehkan aku mengajakmu keluar?", Tanya Lucky yang berhasil membuat bunga berhenti dari pekerjaan yang ia kerjakan sedari tadi.


"ke..mana?", tanya Bunga dengan nada yang sedikit terbata-bata karena Ahok dengan pertanyaan Pak dokter yang tiba-tiba mengajaknya keluar.


"Hanya ingin membelikan mu sesuatu yang enak dan berterima kasih karena kau telah menerima pemberian kecil dari ku", jawab laki dengan sedikit tersipu malu.

__ADS_1


"Ya..ampun bagaimana ini, apa benar kak lucky mempunyai perasaan terhadapku?", kata bunga bergeming dalam hati.


"Ah, oke aku mau",Jawab bunga yang spontan menjawab untuk menghargai Niat bik kakak temannya itu.


"Baiklah nanti ku jemput jam 5 sore", kata Lucky lagi yang kemudian mengatakan pada Bunga akan kembali ke toko untuk menjemputnya lagi sebelum jam 5.


"Baiklah...",jawab Bunga singkat karena tak tau harus menjabarkan jawabannya seperti apa lagi.


"baiklah, aku pergi dulu", kata Lucky yang berpamitan pada bunga yang masih duduk mematung dan mencerna setiap kata-kata yang terucap dari mulutnya dan beranjak pergi dari toko.


"Tidak...Tidak..mana mungkin Dokter sempurna sepertinya menyukaiku, gadis polos yang bahkan Dadan pun aku tak tau", kata bunga sambil sedikit memukul kepalanya dan menyadarkan bahwa tidak mungkin Dokter sempurna seperti Lucky menyukai gadis polos sepertinya.


"Clentung",


suara smartphone Bunga yang berbunyi pertanda ada sebua pesan masuk.


"Siapa ini..? tanpa nama", kata bunga yang heran dengan nomor telfon anonim yang mengirimkan pesan padanya.


"Ya..ampun apa lagi ini?",kata bunga yang kesal dan dengan cepat memungut smartphone yang baru saja ia jatuhkan ke lantai akibat shok.


"Apa ini benar pesan dari Pak Diksi?", kata Nina yang masih bertanya-tanya sangat tidak mungkin rasanya Dosennya yang dingin tiba-tiba mengundangnya datang ke rumahnya yang bisa di sebut kerajaan dan tak sembarang orang yang bisa masuk ke sana.


"Maaf tapi malam ini saya sudah memiliki janji dengan seorang teman", jawab Nina pada message yang lalu iya kirim pada nomor anonim yang baru saja mengaku jika itu adalah nomor Dosennya Pak Diksi.


"Ah..baiklah jika begitu, tapi pastikan kau menyimpan no telepon ku", jawab message yang baru saja bunga kirim.


"Entah benar atau tidak ini dari Pak Diksi tapi sepertinya tak ada kewajiban bagiku menurutinya untuk menyimpan no anonim ini",kata bunga bergeming tak percaya jika itu adalah nomor benar Pak Diksi Dosen Sastra Inggris nya di Kampus.


***


"Bagaimana apa kau suka?",tanya Lucky pada Bunga saat mengajaknya pergi ke taman hiburan dan memakan es cream coklat kedukaan gadis mungil tersebut.

__ADS_1


"Wah..sudah lama sekali saat terakhir aku kemari, sepertinya saat itu aku masih sangat kecil dan anda saat itu sudah SMA", kata Bunga mengingat-ingat terakhir kali ia menghabiskan waktu di taman hiburan yang sebelumnya pernah ia datangi dengan Lucky.


Yah umur mereka terpaut lumayan jauh, Bunga yang saat itu sering Dititipkan di rumah Lucky menjadi dekat dan menganggapnya sebagai adik kecil seperti dini.


Namun anehnya rasa sayang Lucky berubah seiring waktu berjalan.


Bunga yang ia dulu jaga dan rawat seperti adiknya sendiri. Kini sudah tumbuh menjadi gadis mungil dengan parasnya yang cantik.


Entah sejak kapan rasa sayang itu berubah menjadi rasa ingin memiliki, namun Lucky masih ingat persis saat pertma kali ia pulang dari studi nya di Australia.


Cukup lama ia meninggalkan rumah maka dari itu ia cukup terkejut ketika pulang dan membawa gelarnya sebagai mahasiswa lulusan fakultas kedokteran dan melihat kedua adiknya yang tumbuh begitu cepat.


Bahkan matanya tak berhenti memandang wajah mungil bunga saat untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak bertemu dengannya.


Gadis kecil yang dulu ia jaga Jan selalu merengek meminta es cream padanya kini tumbuh menjadi gadis cantik yang mampu membuatnya berdebar setiap saat.


Sulit untuk Lucky mengatakan jika ia ingin hubungan lebih dari sekedar kakak dan adik, karena ia tau kemungkinan buruk bisa saja terjadi jika ia menyatakan perasaannya.


Karena rasa sayang dan cintanya ia hanya memutuskan untuk diam dan memperhatikan Bunga dari kejauhan.


"Wah..sudah lama sekali ya..",kata bunga setelah memasukan beberapa suap es cream ke dalam mulutnya.


"sebentar..", kata Lucky yang kemudian mengusap es cream yang tersisa di sela-sela bibir mungil bunga.


"ah...kak biarkan aku mengelapnya sendiri", kata bunga yang kemudian dengan cepat memalingkan wajahnya dan mengelap mulutnya dengan cepat.


"kau masih saja belepotan ketika makan es cream", kata Lucky sembari mengelus Rambut panjang bunga dengan lembut.


"Kak..rambutku jadi berantakan", kata bunga yang sedikit kesal dengan tingkat laku Lucky yang mengacak-acak rambutnya.


"Kau terlihat semakin menggemaskan ketika marah", jawab lucky yang terus menggoda bunga dan membuatnya sedikit tersipu.

__ADS_1


"Andai saja jarak umur kita tak sejauh ini, apa aneh jika orang setua diriku menyatakan cinta pada remaja sepertinya", gaming Lucky dalam hati dan terus berharap jika suatu hari ia mempunyai keberanian untuk menyampaikan perasaannya.


__ADS_2