
Dengan tidak sabaran, Roberto menyahut jawaban Ella yang belum selesai. Dia ingin memberikan kejelasan bahwa niatannya ini bukan semata untuk dirinya saja, tapi yang utama adalah untuk Reo.
"Tentu, Roberto. T-api, aku akan memikirkannya dengan baik."
Setelah percakapan itu, Ella membutuhkan waktu untuk merenungkan tawaran dari Roberto. Dia mengerti pentingnya keamanan dan kenyamanan bagi Reo, tetapi ia juga menyadari bahwa sebuah pernikahan adalah keputusan besar yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
Malam harinya, Ella berusaha berbicara dengan anaknya memberikan penjelasan dengan niatan Roberto, pada mereka.
"Sayang, Mama ingin berbicara soal ..."
Reo, memiringkan kepalanya. Anak kecil itu menatap mamanya dengan intens, nantikan perkataan sang mama selanjutnya.
Tapi ternyata, setelah beberapa detik Ella tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Ini membuat Reo kebingungan, karena mamanya justru memejamkan mata dengan menghela nafas panjang.
"Ma, ada apa?" tanya Reo pada akhirnya.
"Emh, Reo misalkan, kita ... emh, maksud Mama, Mama menikah dengan papamu, ayah Roberto, Reo bagaimana?" tanya Ella, dengan susah payah merangkai kalimatnya.
"Menikah?" tanya Reo, seperti bingung dengan berpikir.
Ella mengangguk, kemudian memberikan penjelasan sedikit kepada Reo tentang apa itu pernikahan. Bagaimana kehidupan mereka setelahnya, jika Roberto menikah dengannya.
"Jadi nantinya, Reo, Mama sama papa bakalan bersama-sama?" tanya Reo, membuat kesimpulan.
"Iya, Sayang."
Dengan cepat, Reo menggangguk antusias. Anak itu seperti mendapatkan sebuah hadiah besar sehingga matanya berbinar-binar, dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
"Jadi, nanti Reo kayak Devan, Sinta dan Boy, yang rumahnya dekat rumah kita yang jauh dulu?" tanya Reo, membandingkan dengan kehidupan teman-temannya sewaktu masih di luar kota, sebelum dirinya dinyatakan sakit.
"Iya, Sayang."
Ella, menjawab pertanyaan anaknya dengan menggangguk. Matanya berkaca-kaca, haru dengan pemikiran anaknya yang ternyata cepat tanggap.
Selama ini, setiap Reo bertanya dengan pertanyaan ke mana papa? Di mana papa? Ella selalu memberikan jawaban bahwa papanya sudah pergi jauh.
Ella tahu, Reo ingin dan bermimpi bisa memiliki seorang papa seperti teman-temannya yang lain.
__ADS_1
"Jadi, Mama akan menikah dan Reo punya, papa?" tanyanya sekali lagi, meyakinkan.
"Ya, Sayang."
Jawaban Ella, juga sama. Air mata Ella, tak bisa dibendung lagi sehingga ia menangis kemudian memeluk anaknya.
Dengan tanggapan Reo yang seperti ini, Ella berusaha meyakinkan dirinya untuk membuat keputusan yang tepat. Semua akan dilakukannya demi kebahagiaan sang anak.
***
"Saya, butuh jaringanmu. Apa, kamu sanggup melakukan pekerjaan ini untukku?" tanya Pria dengan aura yang berwibawa dan berkuasa.
Ayah Isabella, dengan rasa dendam yang mendalam, merencanakan langkah-langkah yang akan diambil untuk memberikan pelajaran pada Roberto. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan untuk membalas dendam atas penghinaan yang dia alami.
Dia memanfaatkan sumber daya dan koneksi yang dimilikinya, bekerja di balik layar untuk memastikan bahwa rencananya akan berjalan dengan mulus. Dia berencana untuk menggunakan pengaruhnya sebagai pejabat untuk mempengaruhi situasi dan memastikan bahwa Roberto akan merasakan konsekuensi dari tindakan "berani" yang dia ambil.
Sementara itu, Roberto, tanpa sadar, menjadi target dari rencana balas dendam ayah Isabella. Dia akan segera menyadari bahwa keputusannya yang dulu pernah berhutang budi dengan ayah Isabella, memiliki konsekuensi yang serius.
"Kau, harus membayar mahal semuanya, Roberto." Ayah Isabella, bergumam sendiri setelah mendapatkan kesepakatan dengan rekannya.
"Bagus. Tapi, jangan waktu dekat-dekat ini. Itu, bisa membuatnya curiga."
Tentu saja, pertarungan antara ayah Isabella dan Roberto akan menjadi serangkaian tindakan dan reaksi yang tak terduga, membawa mereka dalam pertarungan yang tidak seimbang.
"Pastikan kasus itu jadi kasus yang baru, sehingga bisa menjatuhkan Roberto dan memastikan bahwa dia tidak akan pernah bangkit kembali."
"Tentu, Pak. Apa yang harus kita lakukan? Maksudnya, ada rekayasa lain yang diperlukan, mungkin?"
"Tentu. Jadi ..."
Mereka saling mengangguk dalam persetujuan, setelah ayahnya Isabella memberikan penjelasan. Orang tersebut telah diperintahkan untuk mengeksekusi rencana ini dengan hati-hati dan efisien, dengan tujuan untuk mengakhiri masa depan Roberto.
"Pastikan ia tidak akan bisa menghindar, karena jika dulu tanpa bantuanku, dia juga tidak akan selamat!"
"Pasti. Untuk waktu tepatnya, bisa kita bicarakan lagi."
Ayah Isabella, mengangguk setuju. Pria berwibawa dan berkuasa itu, segera mengutaati layar ponselnya juga. Secepatnya, ia mentransfer sejumlah uang pada orang tersebut, yang akan bekerja sama dengannya.
__ADS_1
"Lakukan tugasmu, dan berikan aku laporan yang memuaskan!" katanya kemudian, penuh dengan penekanan.
"Siap, Pak. Bapak l, tinggal terima beres dan tidak perlu mengotori tangan sendiri."
Setelah itu, mereka sama-sama berdiri berjabat tangan kemudian pergi dari tempat tersebut dengan tujuan masing-masing, seakan-akan tidak memiliki tujuan atau kesepakatan bersama.
Ayah Isabella, melanjutkan perjalanan menuju ke arah kantornya. Melanjutkan pekerjaan dan tugasnya sebagai pejabat negara yang memiliki kekuasaan dan kekuatan dengan nama yang baik.
***
"Ok, kita mulai untuk presentasi kita hari ini."
"Silahkan, pak David."
"Baik, terima kasih. Saya ..."
Suasana ruangan penuh dengan aura profesionalisme saat Roberto duduk bersama beberapa kolega bisnisnya di meja bundar, yang terletak di ruang konferensi yang terang benderang. Mereka saling bertatap muka dengan senyum hangat, menunjukkan hubungan yang erat dan saling menghormati.
Roberto dengan semangat mengikuti diskusi, mengajukan pertanyaan tajam, dan mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap pandangan dan saran dari rekan-rekannya. Ia mampu mengartikulasikan visi dan strategi bisnisnya dengan jelas, sambil tetap terbuka terhadap masukan dari anggota timnya.
"Ok, untuk anak cabang di luar kota bagaimana jika saudara Roberto yang memimpin?"
"Kita bisa diskusikan ini lagi, setelah kesepakatan kita dalam proyek tersebut disetujui."
Semua kolega bisnisnya tampak terkesan dengan komitmen dan dedikasi Roberto, sehingga dalam waktu dekat bisa mencapai kesuksesan bersama dan mendapatkan kepercayaan.
Mereka saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan wawasan untuk mendukung pertumbuhan bisnis mereka secara bersama-sama.
Tidak hanya fokus pada aspek bisnis, namun mereka juga membicarakan nilai-nilai etika dan integritas yang menjadi pondasi dari usaha mereka.
"Saya, siap ditugaskan anak cabang, saat waktunya tepat." Roberto, menyatakan kesanggupannya.
Pria itu berpikir bahwa, dengan pindah ke luar kota dia bisa membawa Ella dan Reo juga. Jadi, mereka juga bisa sedikit melupakan kejadian buruk yang dialami Reo di kota ini.
'Aku rasa, ini bukan keputusan yang buruk, jika aku menerima tawaran pemimpin anak cabang di kota lain.'
Dengan tawaran menarik ini, Roberto berpikir bahwa alam seakan-akan memberikannya dukungan atas usaha dan niatannya yang ingin menikahi Ella, kemudian membangun keluarga yang bahagia bersama dengan anaknya, Reo.
__ADS_1