
Satu bulan kemudian.
Dokter dan tim medis telah mempersiapkan segala sesuatu untuk operasi transplantasi sumsum tulang belakang Reo. Di dalam ruang operasi, atmosfer penuh ketegangan dan antisipasi.
"Kondisinya cukup stabil saat ini, tapi kita harus segera memulai operasi untuk mengganti sumsum tulang belakangnya." Dokter yang sudah berambut putih itu, mengamati catatan medis Reo.
"Benar, semakin cepat semakin baik. Sudah ada pendonor, bukan?" tanya Dokter yang setengah baya, tapi tampak masih gagah, menyetujui pernyataan rekannya.
"Iya, Roberto, bersedia menjadi pendonor. Kami sudah melakukan semua tes kecocokan, dan semuanya terlihat baik." Dokter yang pemeriksa kecocokan sebulan lalu, mengkonfirmasi.
Dokter dengan rambut putih, mengalihkan pandangannya ke Ella yang duduk dengan cemas. Dia ingin bertanya, memastikan kesiapan mental dan fisik keluarga.
"Bagaimana dengan keluarga? Kita harus memastikan mereka juga siap menghadapi ini?" tanyanya pada Ella.
"Kami sudah bersiap, dokter. Kami tahu ini adalah satu-satunya peluang untuk menyelamatkan Reo," jawab Ella dengan mata berkaca-kaca.
Wanita itu, terharu, tegang dan cemas karena waktu operasi Reo semakin dekat. Ia berharap agar operasinya berjalan lancar, sehingga pengorbanan Roberto tidak sia-sia.
"Kita akan melakukan yang terbaik. Sekarang, mari kita mulai persiapan." Dokter utama yang menangani Reo, berbicara dengan maksud menenangkan.
Persiapan telah dilaksanakan oleh para perawat dan asisten dokter. Reo dan Roberto, sudah dipersiapkan sedemikian rupa untuk dibawa ke ruang operasi.
Tak lama kemudian, pintu ruangan operasi tertutup kemudian lampu menyala sebagai tanda bahwa di dalam sedang ada kegiatan operasi.
Ella dengan harap-harap cemas, menyatukan tangannya dengan mengucapkan segala doa dalam hatinya berharap agar operasi berjalan dengan lancar dan berhasil.
"Tuhan, berikan kelancaran dan kesuksesan operasi ini sehingga real maupun Roberto bisa diselamatkan."
Setelah beberapa lama kemudian, operasi transpalasi sumsum tulang belakang selesai. Lampu di atas ruang operasi telah padam.
"Akhirnya selesai, semoga semuanya baik-baik saja." Ella berdoa penuh harap.
***
Operasi telah berlangsung dengan sukses, dan Reo kini dalam tahap pemulihan di ruang pemulihan. Dokter dan tim medis berkumpul untuk membahas hasilnya.
"Operasi berjalan dengan baik. Sumsum tulang belakang dari Roberto telah berhasil diimplan." Dokter yang setengah baya, membuka masker dan sarung tangannya.
"Ini adalah langkah besar untuk kesembuhan Reo. Sekarang, kita perlu memantau perkembangannya dengan ketat selama tahap pemulihan." Dokter berambut putih, bernafas lega.
__ADS_1
"Ibu Ella, tahap pemulihan ini akan membutuhkan waktu. Reo akan merasa lemah, dan kami akan memberinya perawatan yang diperlukan."
Dokter utama Reo, berbicara dengan Ella yang duduk di samping tempat tidur Reo. Sedangkan Roberto, ikut mendengarkan di tempat tidur pasien di sebelah Reo.
Kondisi pria itu, masih lemah pasca operasi. Tapi, pria itu bernafas lega karena operasi berjalan lancar. Dia berharap sumsum tulang belakang yang dia donorkan bisa beradaptasi dengan, Reo.
"Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Anda semua, atas usaha keras Anda. Kami akan bersabar dan merawat reog supaya lekas sembuh, bersama-sama." Ella tersenyum tipis, merasa bersyukur dengan mengucapkan terima kasih pada tim dokter yang menangani operasi anaknya.
"Kami akan ada di sini untuk Reo, selama yang diperlukan." Roberto mengangguk, ikut menyahuti.
"Mari kita berharap yang terbaik untuk pemulihan Reo. Sekarang, mari beri dia waktu untuk istirahat." Dokter yang berambut putih, menyampaikan harapan.
Tim medis kemudian memberikan perawatan intensif kepada Reo saat mereka bersiap untuk fase pemulihan yang panjang dan melelahkan. Mereka berharap bahwa transplantasi sumsum tulang belakang ini akan membawa kesembuhan dan kebahagiaan bagi Reo dan keluarganya.
Reo dan Roberto, memang berbeda waktu sadarnya dari obat bius. Tapi Reo akan sadar satu jam lagi, setelah Roberto.
Satu jam kemudian.
"Ma-ma, Mama ... a-ku merasa ... pusing ..."
Reo terbangun dan penuh kantuk, dengan mata yang berkaca-kaca karena merasa sedikit pusing dan sakit yang dirasakannya
Ella mengusap pelan kepala Reo, dengan menekan tombol merah untuk menghubungi tim medis memberikan kabar bahwa Reo sudah sadar.
"Operasi? Apa yang terjadi, Ma?" tanya Reo dengan menggosok-gosok mata, mencoba memahami situasi.
"Kamu, melakukan operasi untuk membantumu sembuh, Reo. Ayah Roberto, menjadi pendonor untukmu." Ella, berbicara dengan lembut, memberikan informasi yang sebenarnya.
Wanita itu tidak mau menyembunyikan sesuatu dari anaknya lagi. Dia berharap, Reo bisa menerima keadaan yang sebenarnya bahwa ayahnya masih hidup. Tidak seperti yang disangkanya selama ini, jika ayahnya telah meninggal dunia.
Tak lama kemudian, Reo melihat ke arah tempat tidur pasien lainnya, ada di sebelahnya. Di sana ada Roberto, maksud dari tadi melihatnya dengan tersenyum.
"Om Roberto ... benar-benar melakukan itu untukku?" tahta Reo terkejut dan bersyukur.
Sepertinya, Reo lupa dengan keadaan sebelum operasi. Tapi itu adalah hal yang wajar, sebab dia baru saja sadar pasca operasinya.
Tak lama kemudian, tim dokter datang untuk memeriksa keadaan Reo.
"Halo jagoan, bagaimana? Ada yang sakit?" tanya dokter pada Reo, meminta pada anak itu untuk mengatakan apa yang dirasakan.
__ADS_1
Reo, memberikan jawaban sesuai dengan apa yang dirasakan sehingga Dokter bisa memeriksanya.
Setelah beberapa saat Dokter tampak tersenyum dan menepuk-nepuk pelan lengan Reo, meminta kepada anak tersebut untuk tetap bersemangat.
"Semuanya baik, dan Reo tak perlu cemas. Kamu, secepatnya akan sembuh dan bermain seperti dulu."
"Terima kasih, Dokter." Reo, mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut.
Setelahnya, Dokter bersama perawat keluar dari ruangan membiarkan mereka berbincang. Tapi, Dokter juga sudah menasehati mereka supaya tidak memaksakan diri, membiarkan Reo supaya lebih banyak beristirahat. Begitu juga dengan Roberto.
"Sayang, Reo. Ayah, akan melakukan apa pun untuk melihatmu sehat dan bahagia lagi." Roberto berbicara dengan tulus, dari tempat tidurnya.
Reo dan Roberto, masing-masing masih tiduran di tempat tidur pasien secara berdampingan, merasa lega bahwa operasi mereka telah berhasil.
"Terima kasih, Om Roberto. Reo ..."
"Kamu adalah bagian yang sangat berharga, ayah tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi padamu."
Roberto tahu, jika Reo terbiasa memanggilnya dengan sebutan "ayah". Dia memaklumi dan tidak memaksa.
"Reo berjanji, akan menjadi anak yang baik dan sehat. Tidak merepotkan mama, lagi."
Roberto tersenyum, begitu juga dengan Ella. Mereka berdua sama-sama bersyukur dengan kondisi Reo yang terlihat lebih baik meskipun masih lemah.
"Itu yang ayah harapkan, nak. Sekarang, kita akan menjalani proses pemulihan bersama-sama. Kamu, akan merasa lebih baik dari hari ke hari."
Meskipun Reo belum bisa memanggilnya "ayah" tapi Roberto tidak pernah lelah mengajarkan supaya Reo terbiasa dengan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "ayah" saat bincang dengan anaknya itu.
Tangan Ella, menggenggam tangan anaknya dengan lembut, merasa senang dengan interaksi keduanya.
Dalam hati, wanita itu menyesali keputusannya 5 tahun yang lalu. Sebab karena itu juga, secara langsung ia telah memisahkan anak dengan ayahnya.
Perbincangan mereka penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Mereka bersiap untuk menghadapi proses pemulihan yang panjang, tetapi dengan keyakinan bahwa mereka dapat mengatasi semua rintangan bersama-sama.
***
Di tempat lain, seorang wanita tampak mengeratkan rahangnya dengan mata yang menatap tajam pada selembar foto yang ada di tangannya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bersatu! Enak saja, datang-datang meminta segalanya!"
__ADS_1