
Keesokan harinya, Isabella datang dengan wajah yang dipenuhi kemarahan. Dia mencari Ella dan Reo di tanam bermain rumah sakit. Dengan tangan yang gemetar, dia menghampiri mereka dengan tatapan penuh amarah.
"Ella," ujarnya dengan suara bergetar, menahan amarah.
"Kau ... kau benar-benar tidak berhak menyembunyikan Roberto dariku."
Ella terkejut dan cemas melihat ekspresi wajah Isabella yang marah-marah, apalagi menyangkut-pautkan nama Roberto.
"Isabella, aku tidak mengerti apa yang ingin kamu katakan. Ada apa?" tanya Ella penasaran ingin tahu.
Isabella tertawa dengan penuh kebencian, berpikir bahwa ia telah merencanakan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Apalagi dengan adanya Reo, alat yang bisa mengikat Roberto.
"Hehh? Ini lebih dari sekadar privasi. Kau menyembunyikan keberadaan anaknya selama ini dan membuatku tampil bodoh, setelah Roberto mengetahui segalanya, ha?!"
Reo yang berada di samping Ella menatap dengan mata yang penuh kebingungan dan ketakutan. Dia tidak mengerti mengapa ada begitu banyak kemarahan di dalam wajah Isabella.
Isabella mengejar lagi dengan berkata, "Kau tahu, sekarang aku mengerti mengapa kalian terus melindungi anak ini. Kalian ingin mengorbankan aku, untuk hubungan kalian! Iya, kan?" teriak Isabella, tidak melihat situasi dan kondisi saat ini yang berada di taman rumah sakit.
Ella mencoba menjelaskan dengan hati-hati, "Isabella, ini bukan tentang "mengorbankan" atau apapun. Kami hanya ingin memberikan Reo kesempatan hidup yang layak."
Isabella melemparkan pandangan tajam kepada Reo, karena berpikir bahwa ada perubahan besar pada Roberto setelah kedatangan Ella dan Reo akhir-akhir ini.
"Kesempatan yang layak? Tapi kau sendiri berhak mendapatkan kesempatan apa? Aku ingin kalian segera pergi setelah mendapatkan apa yang ingin kalian dapatkan!"
Ella mencoba menjaga ketenangan hatinya, berharap situasi tidak semakin memburuk. Dia tidak mau jika Reo, ikut berpikir yang tidak-tidak.
"Kami tidak bermaksud menyakiti siapa pun, tidak ingin mengambil Roberto juga. Apa yang terjadi antara kita adalah masa lalu, dan sekarang prioritas kami adalah Reo."
Isabella mengambil napas dalam-dalam, wajahnya penuh kemarahan. Sebab yang ya tahu, Ella berusaha mendekatkan Reo dengan kekasihnya, yaitu Roberto.
"Aku tidak akan membiarkan kalian merasa puas, dengan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Kalian, sebaiknya segera pergi!"
__ADS_1
Setelah bicara dengan maksud mengusir, Isabella pergi begitu saja. Dia tidak mempedulikan perasaan Ella maupun Reo.
Ella dan Reo ditinggalkan dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian dan ketegangan. Isabella hanya berambisi untuk memberikan pelajaran kepada mereka berdua, dan perlahan tetapi pasti, Isabella hanya inginkan keduanya untuk segera pergi dari kehidupan Roberto.
"Reo, sayang, ada sesuatu yang ingin Mama bicarakan. Ingat, tidak lama kamu akan sembuh dan bisa pergi dari rumah sakit ini. Kita, kembali ke rumah kita yang dulu. Reo mau, kan?" tahta Ella, pelan-pelan.
"Iya, Ma."
Ella, tersenyum tipis mendengar jawaban anaknya. Ia tidak perlu berbicara banyak hal karena itu akan menambah rasa cemas pada Reo, dan ia tidak mau jika Reo akhirnya banyak berpikir.
"Benar sekali, Reo. Kita akan pulang, dan hidup bersama dengan bahagia seperti kemarin-kemarin."
"Apakah, om Roberto ikut?" tanya Reo, dengan polosnya.
"Tidak, sayang." Ella, menjawab dengan cepat.
Wanita itu, tentu saja tidak mau memberikan harapan yang besar pada Reo. Apalagi akhir-akhir ini, Reo dan Roberto semakin dekat sebagaimana layaknya seorang anak dan ayah.
Meskipun ia bahagia, tapi Ella, yang baru tahu jika Roberto memiliki seorang kekasih, tidak ingin merusak hubungan mereka. Apalagi alasannya datang ke kota ini karena Reo, Semua demi kesehatan dan keselamatan Reo semata.
"K-amu, kamu tidak melakukan apa-apa yang salah, Sayang. Beberapa orang mungkin memiliki pendapat atau informasi yang tidak benar tentang kita. Dan kadang-kadang, orang bisa merasa cemas atau marah saat ada sesuatu yang tidak mereka pahami."
"Tapi, kenapa mereka tidak suka pada kita?"
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh Reo, dan untuk menjawabnya, Ella perlu banyak berpikir agar jawabannya bisa diterima oleh anaknya yang lumayan kritis.
"Beberapa orang bisa merasa cemas atau terancam oleh hal-hal yang berbeda. Mungkin mereka tidak tahu tentang kita dengan baik, dan mereka bisa merasa takut atau curiga. Tetapi kamu tahu, kita punya banyak teman dan keluarga yang mencintai kita, bukan?"
Dengan kata-kata yang diucapkan dengan pelan dan hati-hati, Ella berharap anaknya tidak kembali memberinya pertanyaan.
Tapi ternyata keinginan Ella tidak terwujud. Reo, lagi dan lagi mengajukan pertanyaan lainnya, yang membuat Ella menghela nafas panjang dengan maksud menenangkan diri.
__ADS_1
"Iya, Reo tahu. Tapi Reo masih merasa sedih, dan kenapa Tante tadi, marah-marah?"
"Hemmm ... Itu normal, sayang. Kadang-kadang, kita bisa merasa sedih atau bingung saat ada masalah. Tapi kita akan melewati ini bersama-sama. Yang penting adalah, Reo tetap bersama dengan Mama, mendukung satu sama lain."
Tapi Reo, belum puas hanya dengan jawaban seperti itu. Ia terus mengajukan pertanyaan lagi dan lagi, yang lebih kritis.
"Apa yang kita bisa lakukan, Ma?"
"Kita akan berbicara dengan orang-orang yang kita percayai, seperti dokter dan teman-teman kita di rumah sakit. Misalnya, para suster yang selama ini ikut merawat Reo. Mereka akan membantu kita menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kita, kepada orang-orang."
Meskipun belum sepenuhnya paham, Reo tetap mengganggu mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan mamanya.
"Reo, percaya pada, Mama."
"Ya, Sayang. Bersama-sama, kita akan menghadapi masalah ini dan kamu bisa sembuh dan tumbuh dengan kuat. Dan kita akan selalu bersama terus."
Reo mengangguk, dan tidak lagi bertanya-tanya. Tapi sepertinya itu hanya sementara saja, sebab tak lama kemudian ia mengajukan pertanyaan lagi.
"Lalu, kapan kita pergi, Ma?"
"Emhhh, kita tunggu keputusan dari dokter dulu, ya? Jika diperbolehkan pulang besok, kita pulang besok. Tapi jika lusa, ya pulangnya lusa."
Kepala Reo, kembali mengangguk. Anak itu seakan-akan mengerti maksud dari perkataan mamanya, dengan permasalahan yang dihadapi juga. Padahal, ia tidak sepenuhnya mengerti.
"Kita, kembali ke dalam kamar, yuk!"
"Ya, Ma."
Ella, meminta pada anaknya itu untuk kembali ke kamarnya, agar bisa beristirahat sebentar setelah berjalan-jalan di taman bermain rumah sakit.
Dalam hati, Wanita itu berharap agar Isabella bisa menahan diri dan tidak lagi datang ke rumah sakit dengan emosi.
__ADS_1
'Aku, akan cepat pergi begitu Reo sembuh. Kamu, tenang Isabella. Aku, tidak pernah berpikir untuk kembali pada Roberto, seperti yang kamu tuduhkan.'
Ella, hanya bisa berbicara dalam hati, karena tidak mungkin membicarakan hal ini dengan anaknya. Sebisa mungkin, ia akan memikirkannya sendiri dengan membuat keputusan yang menurutnya jauh lebih baik.