Cahaya Cinta ( Anak Genius )

Cahaya Cinta ( Anak Genius )
Bab 9. Bersandiwara


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Sementara, kita di sini dulu ya, Sayang?" tanya Ella, begitu tiba di sebuah rumah susun sederhana.


"Ya, Ma."


Reo tidak banyak bicara. Ia hanya dan sekeliling, karena ini bukan rumahnya yang dulu ditempati sebelum operasi berlangsung.


Anak itu tidak tahu apa alasan mamanya, pindah dari rumah kontrakan yang dulu ke rumah susun sederhana ini. Tapi ia yakin, ada namanya memiliki alasan yang lebih.


"Ayo, Reo bersih-bersih dulu, baru istirahat. Mama, akan membereskan pakaian setelah Reo tidur."


Reo, hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu dibantu mamanya sebelum beristirahat.


Tak lama kemudian, Reo sudah berbaring di tempat tidur. Dengan cepat ia memejamkan matanya, karena sebelum keluar dari rumah sakit ia sudah minum obat terlebih dahulu.


Setelah memastikan Reo benar-benar tidur, Ella kembali ke ruang tengah untuk membereskan pakaian ke almari.


"Aku, akan memastikan semuanya baik-baik saja. Aku, tidak mau jika terjadi sesuatu pada anakku." Ella, bergumam seorang diri.


Tok tok tok


"Eh, siapa yang datang?" tanya Ella, heran.


Ketukan pintu, membuat lamunan Ella buyar ketika. Wanita itu melihat dengan tatapan tidak biasa ke arah pintu, sebab ia tidak pernah memberitahukan kepada siapapun dengan alamat tempat barunya ini.


Antara ragu dan penasaran, Ella akhirnya bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah pintu. Ia bermaksud untuk membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang ke rumahnya.


Clek!


"Eh," teriak Ella, tertahan.


Ternyata keberadaannya ditemukan Isabella. Dan kekasih Roberto itu datang dengan maksud memberinya ancaman dan tekanan.


"Jadi inilah tempat kalian bersembunyi?" tanya Isabella, yang datang dengan tatapan marah.


"Isabella, a-ku hanya ingin waktu untuk tenang dalam menjaga Reo. Ia tidak boleh mendapatkan segala tekanan," ungkap Ella, memberikan penjelasan.


Isabella menghela napas, tapi dengan tatapan mengintimidasi. Senyuman di wajahnya, juga bukan senyuman yang tulus, akan tetapi sebuah senyuman sinis yang meremehkan.


"Kamu tidak bisa lari selamanya, Ella. Kau pikir kamu bisa menjauh?" sindir Isabella, dengan tersenyum miring.

__ADS_1


Sayangnya, perbincangan mereka berdua yang seperti orang berdebat, membangunkan Reo yang sedang tidur di dalam kamar.


Anak kecil itu keluar dari dalam kamarnya, dengan mengucek mata karena belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi.


"Ma, apa yang terjadi?" tahta Reo, memegang erat tangan Ella.


"Sayang, Reo. Kamu kembali ke dalam kamar, ya? Reo, harus percaya pada Mama. Semuanya akan baik-baik saja." Ella, mencoba menenangkan Reo.


Dalam keadaan seperti ini, Isabella justru memanfaatkan waktu. Ia menghampiri mereka berdua dengan sikap dominan. Seakan-akan semuanya menjadi ketentuannya sendiri.


"Kalian merasa tenang, bisa bersembunyi dariku? Kalian pikir aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja?" tanyanya sinis.


"Isabella, kamu harus mengerti bahwa keputusan ini bukan untuk menyakiti siapa pun. A-ku, aku hanya ingin melindungi Reo dari tekanan dan konflik yang terjadi."


Ella, memberikan penjelasan yang sama seperti yang ia katakan di awal. Ia, melakukan semuanya dengan maksud melindungi anaknya saja. Tidak ada maksud lain.


Isabella tertawa sinis, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ella padanya. Ia tidak bisa percaya dengan mudah, apalagi rasa cemburu telah membakar hati dan pikirannya.


"Apa kamu berpikir aku akan percaya dengan omong kosongmu? Kau mencoba mengambil Roberto!" teriaknya seperti orang kesetanan


"Mama, apa yang Tante, bicarakan?" tanya Reo bingung, dengan menggenggam erat tangan mamanya.


"Jangan khawatir, sayang. Ini hanyalah masalah antara orang dewasa," jawab Ella, dengan tetap tersenyum.


Isabella mencoba mencengkeram lengan Reo, memberikan rasa takut pada anak kecil tersebut.


"Kau ingin menggantikan aku, kan? Kau ingin mengambil perhatian Roberto, kan?!" teriak Isabella, dengan memberikan pertanyaan.


Tentu saja Ella tidak tinggal diam. Ia sebisa mungkin menghalangi Isabella, dengan menjadi taman untuk Reo. Wanita itu, akan melakukan apa saja demi anaknya!


"Jangan sentuh, anakku!" teriak Ella, dengan mata menatap Isabella tajam.


"Mama, Reo takut!"


Reo mulai ketakutan dengan tubuhnya yang bergetar. Mata Reo, juga sudah mulai berkaca-kaca. Apalagi melihat namanya yang bertengkar dengan Isabella. Wanita yang ia tahu, sering membuat mamanya merasa sedih.


"Hehhh, kalian berdua memang pantas mendapatkan semua ini. Kamu ingin melindungi Reo? Tunggu sampai aku selesai dengan kalian!"


Isabella tertawa penuh kebencian, karena menganggap ibu dan anak itu adalah musuh terbesarnya.


Isabella meninggalkan tempat itu dengan kemarahan yang meledak-ledak, meninggalkan Ella dan Reo dalam ketakutan, ketegangan dan kecemasan yang lebih besar.

__ADS_1


Dalam situasi ini, Ella merasa harus bisa lebih melindungi Reo dan menghadapi semua rintangan yang mungkin muncul dari Isabella. Sedangkan bagi Reo, semua ini semakin membingungkan dan menakutkan.


"Sebaiknya, kita memang pergi menjauh dari tempat ini. Tepatnya dari kota ini, Sayang."


Setelah berpikir sejenak, Ella, memutuskan untuk meninggalkan kota ini sekalian. Ia tidak mau jika Reo merasa tertekan sehingga mempengaruhi kesehatannya.


Wanita itu akan berusaha dan berjuang lebih keras, demi melindungi anaknya. Ia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Reo, hanya karena kesalahpahaman Isabella. Sedang Roberto, bari saja bertugas keluar kota.


***


Satu minggu kemudian.


Roberto datang ke rumah susun yang disewa Ella. Pria itu mendapatkan alamat tersebut dari rumah sakit, setelah ia mendesak bagian administrasi RS, upaya memberikan alamat Ella yang terbaru.


Sayangnya, ia terlambat karena Ella dan Reo sudah pergi lagi dari rumah susun tersebut. Saat Roberto tiba di tempat, nyatanya rumah susun tersebut kosong.


"Ella? Reo? Di mana kalian?"


Pria itu terus mencari-cari, bahkan bertanya pada banyak orang yang ada di sekitar rumah susun tersebut.


Ternyata, Isabella datang menyusul Roberto, dengan wajah marah. Wanita itu benar-benar kecewa dengan kekasihnya itu.


"Kau terlambat, Roberto."


Roberto terkejut melihat Isabella!


"Isabella? Apa yang kamu, lakukan di sini?" tanyanya dengan kening berkerut.


Isabella menghampiri Roberto dengan langkah tegas dan mantap. Tidak ada keraguan sedikitpun pada wanita tersebut, saat berkata dengan Roberto.


"Aku, tahu di mana Ella dan Reo berada. Mereka hanya mencoba kabur, dariku."


Roberto mencoba tetap tenang, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Isabella. Pria itu, ingin tidak peduli. Tapi melihat bagaimana wajah tenang Isabella, Roberto akhirnya kembali bertanya pada wanita itu.


"Isabella, berbicara dengan tenang. Apa yang terjadi?" tanyanya kemudian, berusaha untuk tidak terpancing emosi.


"Mereka pergi, Roberto. Ella membawa Reo pergi, dan itu karena kamu!" Isabella berteriak, setelahnya menghela napas panjang.


Wanita itu, sedang merencanakan sesuatu sehingga dia bisa menutupi semuanya. Dengan menuduh semuanya adalah akibat dari ulah Roberto sendiri, maka pria itu akan merasa bersalah.


"Pergi? Ke mana? Dan kenapa dengan, aku?" tanya Roberto dengan mengernyitkan kening.

__ADS_1


__ADS_2