Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab I)


__ADS_3

"Lihat wanita itu, sayang ya coba saja dia dandan pasti cantik"


"Andaikan saja kamu merawat diri, mungkin saja kamu lebih cantik"


"Wanita diumur segini mah sedang mekar-mekarnya, kalau kamu?"


Semua perkataan benar-benar memuakkan.


Entahlah bukannya gak mau berusaha hanya saja aku sudah lelah dengan perawatan muka. Ditambah dengan keuangan ku ini, kemungkinan mustahil aku bisa merawat diri. Ditambah mukaku yang agak sensitif.


Memang wajahku agak lumayan, bentuk mataku tidak besar dan tidak sipit. Mataku memang agak mirip mata kucing (bukan berarti mataku seperti kucing) dan boneka (silahkan kalian kombinasi kan keduanya) . Hidungku juga tidak pesek dan tidak mancung. Begitu juga bentuk bibirku sedikit mungil, tapi agak lebar dan berisi.


Walau kulit ku putih, tapi wajahku berjerawat. Mukaku juga berminyak, rambutku saja bahkan seperti singa mengaum (Tolong jangan bayangkan diriku mengaum seperti singa di kartun). Badanku juga gemuk, tapi bukan berarti kegemukan (alias berisi). Bahkan telapak kakiku saja luka-luka karena aku sering sekali berjalan kaki.


Oh ya namaku adalah Rosella Levender Anggraini. Penampilan ku memang gak secantik namaku, mungkin orang tuaku berharap kelak aku akan cantik, murah hati, sopan dan berbudi luhur. Walau aku gak yakin apakah nanti akan terwujud. Aku karyawan di perusahaan xxxx sebagai accounting sekaligus mahasiswa ekonomi kelas karyawan di kampus Mak lampir.

__ADS_1


"Semua ini benar-benar melelahkan" kuhempaskan badanku ke kasur. Aku segera bangun, aku lupa belum mandi. Walau aku gak kepribadian mysophobia, tapi aku paling pantang kalau dari luar aku belum mandi gak ke kasur. karena badan kotor kena debu, keringat, dan lain sebagainya. Saat aku mengambil baju, ku lihat pantulan wajahku dikaca lemari.


Aku hanya menghela nafas melihat penampilanku. Wajahku benar-benar suram, mungkin aku terlihat tua dari umur ku."Sebegitu penting kah kecantikan itu?" memang pertanyaan ku agak konyol menjawab jawaban yang pasti. Dan itu benar-benar menyesakkan untuk ku.


Sudahlah apa yang kulakukan, tidak gunanya meratapi diriku, jangan sampai diriku stress gara-gara ini. Segera aku mandi, setelah itu aku ke ruang makan untuk makan. Untung nya makanan hari ini menggugah selera makanku. " Astaga!! makannya segitu... pantesan gendut" celetuk adikku sambil mengambil makanan dan menimbang nya. Aku benar-benar kesel dengarnya, tapi lebih baik aku fokus makan aja daripada gedek dengarnya.


aku dan adikku memang berbeda sekali, ia sangat menjaga penampilan nya. Lihat saja dia makan pake ditimbang segala. Memang bentuk badannya sangat bagus, wajahnya mulus dan rambutnya juga sangat terawat. Karena perbedaan itu, aku selalu dibandingkan dengan adekku. Dan itu sangat menyebalkan untuk ku, memikirkan ini membuat ***** makanku berkurang.


Jadi aku segera menyelesaikan makanku dan kembali ke kamar. " Hahhh.. benar-benar menyebalkan! Bahkan saat makan pun aku tidak menikmati nya." Tiba-tiba, kudengar hp ku berdering. Kuraih hpku dan kulihat siapa yang menelepon, " ngapain nih anak telepon?" entahlah kenapa aku bisa akrab dengannya. Selain chat, kadang sesekali kami berteleponan.


" Kenapa jadi kamu yang hembusin nafas?" dia terdiam beberapa saat." Aku agak bingung soalnya sih, bagaimana rasanya kalau digituin. Karena kan kadang mereka juga gak salah dan juga gak benar. selain itu saya kan cowok, jadi gak bisa rasain disuruh rawat dan dandan." nyebelin banget nih anak, ya aku tau dia cowok bukan cewek ataupun bencong.


"Tapi itu tergantung sama kamunya, kalau menurut kamu nyaman kalau kamu kayak gini ya begitu aja. Jangan terpaksa dengan apapun itu, karena kamu sendiri yang akan tersiksa." aku terdiam, apa yang dia katakan benar juga." Dan lagipula kalau kamu tiba-tiba berubah, melakukan seperti adek kamu atau wanita lain lakukan.." entah kenapa firasat ku gak enak dengan lanjutannya.


" Aku gak bisa bully kamu dong" tuhkan sudah kuduga."Resee!! sudah kuduga kayak gitu" terdengar tawanya yang puas mendengar ku kesal. "Ngeselin banget sih jadi anak!" "biarin bleee.." nih anak benar-benar mengesalkan. "Btw kenapa telepon?" tanyaku untuk menghentikan tawanya yang menyebalkan. " Ah, itu kamu besok ada waktu?" tanyanya.

__ADS_1


"Besok aku kerja" jawabku, " emang minggu kamu kerja?" duuhh..aku lupa besok minggu. "Oh ya aku lupa", "dasar kamu ini, kayak nenek aja pikun. Besok ada waktu gak?" nih anak kenapa nanya gitu ya? "Kayaknya ada, emang kenapa?" tanyaku balik. "Mau ke perpustakaan nasional? Ngerjain bareng tugas kampus?" Oh ya aku baru ingat ada tugas makalah matkul bahasa inggris lanjutan.


"Mau, jam berapa?", "Jam 10 pagi, kita ketemuan di kampus". "Ok ok, sampai ketemu besok" aku menutup teleponnya. Setidaknya aku bersyukur kalau bukan dia aku bakal lupa sama tugas kampus itu. Oh ya, tadi yang nelpon itu adalah Kevin. Dia teman kampusku, lumayan dekat sih. Tapi teman ya, tidak lebih dari itu.


Kedekatan kita hanya sebatas chat, jarang dekat secara langsung. Walau kadang tugas kita sering ngerjain bareng di perpustakaan nasional. Makanya hanya aku dan dia yang tau kalau kita dekat. Awal kedekatan kita itu karena kami sama-sama suka main game. Makanya sesekali kadang aku mabar sama dia.


Saat pertama kali bertemu, kukira dia pria yang kalem jaim dan juga aneh.


Kenapa aneh? Karena saat kumpul di kampus untuk persiapan ospek, dia hanya diam memperhatikanku dan yang lainnya. Aku keheranan mengapa ia memperhatikan kami. Lalu aku minta temanku tanya apakah dia jurusan akuntansi juga. Dan ternyata benar ia juga jurusan akuntansi.


Dan ia ikut bergabung dengan kami, walau tidak banyak bicara. Ia hanya lebih banyak memperhatikan kami. Dan lebih anehnya dia sering memperhatikan aku, dan kevin bilang dulu ia sering memperhatikan aku karena merasa aneh. Mengapa aku benar-benar cuek sekali dalam berpenampilan.


Memang masuk akal dia menganggap ku aneh saat pertama kali itu. Karena dibanding yang lain, aku ini jauh lebih kusam meredup. Dimana aku berpakaian se ala kadar tidak seperti mahasiswi lain yang pakaian nya lumayan modis. Dimana yang lain rapi dengan dandanan nya, aku yang lusuh karena muka berjerawat dan berminyakku.


Seperti melihat rumput liar diantara para bunga-bunga. Tapi setidaknya, setelah aku dekat dengannya. Ternyata kevin lah selain para sahabat ku, yang memberiku semangat tentang masalah ku. Walau kadang ia sangat menyebalkan dan kadang juga super menyebalkan. Tapi aku bersyukur dia menjadi teman dekat ku. Perlahan rasa kantukku datang, dan kumulai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2