Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab XV) {Hans} 1


__ADS_3

Namaku adalah Hans Canovus Kang, agak bingung sih mau mulai darimana. Aku bukan dari negara ini, karena pembullyan saat SD yang aku alami membuat ku pindah kesini. Awalnya pembullyan itu diketahui oleh orang tuaku, karena aku anak yang tertutup. Orang tuaku mulai curiga saat memergoki ku menangis dikamar dan mendapati memar di sekujur tubuh ku. Walau mereka memindahkan ku beberapa kali, tetap saja pembullyan selalu terjadi kepada ku. Hingga akhirnya orang tua ku memutuskan untuk pindah ke negara ini. Disini memang ada pembullyan juga, cuma itu hanya kemungkinan kecil terjadi di negara ini. Aku beruntung mendapatkan sekolah yang menghargai sama sekali, ini baru pertama kalinya aku merasakan kehidupan sekolah sebenarnya. Dulu aku tidak pernah ada ketertarikan apa yang aku minati karena aku hanya merasakan tersiksa nya di bully.


Sekarang aku menemukan minatku, yaitu menulis dan komputer. Saat kelas 3 SMP aku telah menguasai nya, bahkan melebihi kemampuan guru disekolah ku. Dan juga aku telah menerbitkan novel pertama ku saat kelas 2 SMP. Aku sangat menikmati kehidupan yang kujalani sekarang. "Perkenalkan ini anakku kevin" kata rekan bisnis ayahku memperkenalkan anaknya. Mereka sedang mengunjungi rumah kami untuk membahas soal bisnis. "Berapa umur anak mu?" tanya ayahku ke rekannya, " umurnya 12 tahun" jawabnya. "Hans temani dia bersama adikmu." kata ayah, "Baik ayah" aku langsung menghampiri nya. Aku mengulurkan tanganku, "aku hans, ayo ikut aku." Awalnya ia malu lalu akhirnya membalas uluran tangan ku. Aku membawa nya ke ruang santai kami. Aku sibuk dengan komputer ku, jennie sibuk membaca majalah dan kevin sedang membaca buku dongeng yang kuberikan.


Mungkin karena ia masih muda, kevin merasa bosan. Ia menghampiriku dan melihat ku, "ada apa kevin?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari komputer. "Itu apa hans?" tanya kevin, "Kok manggil kakak pake namanya? Kak dong kevin" celetuk jennie. "Gak apa apa jennie, kakak perbolehkan. Oh ya kev.. ini games, aku sedang membuat game." kataku. "Waahh..keren" kagum kevin, aku tersenyum kecil melihat ekspresi kevin menurut ku sangat menggemaskan."Boleh gak aku jadi teman kamu?" tanya kevin, "tentu saja" jawabku. Sejak itu kevin sangat dekat dengan ku, ia sering main ke rumah. Kadang ia beradu mulut dengan jennie yang membuat ku harus tangan memisahkan mereka. Yang anehnya mereka kadang memperebutkan ku, tingkah mereka menurut ku menggemaskan tapi mengesalkan juga. "Hans aku hari ini bolos" kata kevin, otomatis aku langsung menjitak kepala nya.


"Kamu ini harus nya jangan bolos, walau mereka mengejekmu tapi mereka tidak melakukan kekerasan kan?" tanyaku. "Enggak sih " jawab kevin, "selama mereka tidak melakukan kekerasan, kamu jangan bolos. Sama saja kamu mengakui kalau mereka benar" kataku, lalu aku menasehati lagi panjang lebar kepada nya. "Kamu ini seperti orang tua ya" kata kevin dengan kesal. Aku menghela nafas melihat tingkah nya. "Oh ya hans tadi saat aku bolos aku ketemu cewek. Dia sama seperti mu menasehati jangan membolos walau sendiri nya juga bolos. Setelah itu menyemangati diriku dan dirinya." kata kevin, terlihat sekali wajah nya sanga berbunga-bunga. "Dasar bocah! Belajar sana, jangan cinta-cintaan dulu" kevin yang mendengar ku menjadi kesal. Menurutku terlalu cepat untuk nya mengenal cinta atau karena akunya yang kolot.


Tidak hanya saat itu saja, setiap pertemuan topik yang di bahas gadis itu. Hal ini membuat ku jenuh, aku khawatir dengan ia kedepannya. Masalahnya bukan hanya kevin tidak punya rencana kedepannya, tapi ia sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Aku khawatir jika kevin menemukan gadis itu, orang tua nya tidak akan menyetujui nya. Apalagi usianya yang berumur 20 tahun baru lulus SMA. Bukan karena Kevin bodoh, hanya saja kemalasannya yang sangat kelewatan. Bahkan orang tua nya bersyukur karena diriku setidaknya ia lulus, tentu saja aku yang selalu menyeretnya ke sekolah. Kevin terlalu sombong dengan kepintaran nya, makanya ia menganggap tidak perlu susah payah hadir ke sekolah. Entah kenapa aku merasa seperti mempunyai seorang anak padahal nikah aja belum.

__ADS_1


"Hans boleh aku minta tolong?" tanya kevin, " Apa?" jawabku dengan malas. " Aku minta tolong dong cariin kampus tempat wanita berada" aku menghela nafas mendengar permintaan nya. "Kevin bisakah kamu berhenti terobsesi dengan gadis itu? Kamu tau kamu menghancurkan dirimu sendiri. Lihatlah bahkan kamu sekarang tidak kuliah, memang nya sampai berapa lama kekayaan keluarga mu bertahan? Jika kamu tidak kuliah, akan sulit untuk mu menjadi penerus keluarga." nasehat ku kepadanya. "Iya aku tau, makanya ini aku mau kuliah" aku terkejut mendengar nya. " Apakah kau serius? Kalau begitu mau kuliah dimana?" tanyaku. " Di kampus gadis itu berada" aku menghela nafas mendengar nya. "Sudah cukup kev!" bentakku, lalu aku menenangkan diri ku dan segera pergi.


"Tunggu dulu, aku mohon sekali ini saja. Aku janji jika aku berkuliah di kampus gadis itu, aku akan bersungguh-sungguh" kata kevin. "Bagaimana caranya kamu mencari tahu? Yang kau tau hanya namanya saja" kataku. " Tadi siang aku melihat gadis itu, sepertinya ia memegang sebuah brosur kampus. Sayangnya aku hanya melihat nama depan kampus nya, ditambah jalannya sangat cepat sekali aku tidak bisa menyusul nya." kata kevin. "Baiklah apa nama kampus itu?" tanyaku. " Universitas Mak" kata kevin, "memang ada nama kampus seperti ini?" tanyaku. "Mungkin karena aku lihatnya itu" jelas kevin. Aku pun mencoba mencari dan yang muncul adalah Universitas Mak Lampir. "Ini kev.." kulihat orang itu sudah pergi, dan ada chat masuk


"Terimakasih hans, aku sekarang segera kesana"


Aku menghela nafas atas sikap kekanakannya.


Sebenarnya ibuku adalah owner perusahaan penerbitan ini, ia mempercayai perusahaan padaku dengan memberikan jabatan ini. Sedangkan ayah adalah owner dari agensi Acevega, sama sepertiku perusahaan dipercayakan kepada jennie. Ayah juga memberikan posisi CEO kepada jennie. Jujur aku menolak posisi ini, kalau tidak ibu memohon aku tidak akan menerima nya. Waktu itu aku merekomendasikan jennie, namun ia mengamuk karena sudah memegang perusahaan agensi. Walau sebenarnya sebagai kompensasi, ibu memberikan waktu luang banyak untuk ku. Hanya saja waktu luang itu aku pakai untuk mengerjakan novelku. Bisa sajah seperti yang dikatakan kevin, aku bisa bebas menentukan waktu ku. Hanya saja aku tidak menyukainya, karena waktu ku akan tersia-siakan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, sebenarnya aku mau minta tolong" kata kevin. "Mau minta tolong apa lagi? Aku kerja loh gak nganggur."kataku dengan kesal. "Bisa tidak kamu mencari tahu soal rosella?" tanya kevin. "Tidak kev, sampai kapan kamu mau seperti ini? Kamu itu cuma kuliah, dan aku kerja. Kamu kan bisa melakukan nya sendiri."kataku dengan kesal. "Aku mohon hans tolong aku. Satu-satunya yang bisa melakukan itu adalah kamu." kata kevin. Ia terusan memohon sampai akhirnya aku pun goyah, jujur aku kesel dengan diriku yang tidak tega an dengan kevin. "Baiklah akan aku lakukan" kevin senang mendengar nya. Kevin pun memberikan nama lengkap rosella dan fotonya lalu ia segera pulang. Setelah jam kerja ku selesai, aku segera membuka apps spy buatan ku. Aku mengetik nama lengkap rosella, disana tertulis data umumnya.


Yang menarik wanita ini seumuran dengan kevin, tapi bertolak kepribadian. Sepertinya rosella seorang pekerja keras, karena ia kerja sekaligus kuliah. Aku pun mencoba mengawasi nya secara langsung selama beberapa hari. Tentu saja setelah jam kerjaku selesai, aku langsung menunggu dekat perusahaan tempat ia bekerja. Dari sepanjang penglihatan ku, rosella tidak seperti wanita lain. Sangat cuek dengan penampilan, pendiam, seorang ambivert dan berkepribadian baik. Entah kenapa aku semakin penasaran dengan wanita itu. Semakin aku mengawasinya, semakin aku mengerti kepribadian nya. Banyak luka yang dialami wanita itu entah apa. Wanita ini bisa menjadi dampak baik bagi kevin, tapi aku tidak kalau sebaliknya.


Suatu hari aku akan mengerjakan novelku, entah kebiasaan karena mengikuti rosella, aku ingin mengerjakan nya di ropang gabut. Namun tanpa sengaja ternyata rosella datang juga dengan temannya. Aku tau dia gelisah karena takut meja favorit nya aku ambil. Jadi aku duduk meja yang dekat mejanya, aku memasang airpod spyku agar bisa mendengar apa yang dibicarakan. Ternyata mereka membicarakan tentang ia dan kevin. Hanya saja ternyata ia tidak menyadari perasaan nya. Entah kenapa aku merasa tidak enak, jadi aku segera pergi ke kasir untuk membayar. Aku masih kepikiran dengan apa yang dibicarakan mereka tadi. Sepertinya rosella membutuhkan sedikit cemilan dingin untuk menyegarkan dirinya. Jadi aku pesankan roti bakar eskrim sekaligus membayar makanan mereka juga. Dan meninggalkan pesan kecil di memo untuk nya.


Esok malamnya membuat ku terkejut, saat aku ke ropang gabut untuk merefresh diri sejenak. Waktu itu aku habis makan tidak memakai masker ku. Tiba-tiba saja rosella ada dihadapan ku, "Sechan oppa" seru rosella, aku pun segera memakai masker, "Bukan saya hanya mirip saja" jelasku. Terlihat ia sangat kecewa dan mencoba mengalihkan ke lain " Oh ya kau benar, ngomong ngomong kamu pria kemarin kan? Yang membayar makanan dan memesan es krim untuk ku?""Iya kau benar, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanyaku, "lumayan baik" jawab rosella.


" Ngomong ngomong kamu duduklah" lalu ia duduk di depan ku. Kami diam beberapa detik, sekarang suasana nya benar benar canggung. " Oh ya sepertinya kamu suka nonton running man?" tanyaku, "iya aku sangat suka nonton running man" jawab rosella setelah itu kami diam lagi. Kulihat wajahnya sangat memerah, "Maaf boleh aku bertanya?" tanya ku, "Iya apa?" tanya balik rosella. " Apa kamu sedang tidak enak badan? Wajahmu sangat memerah" mendengar perkataanku, ia segera menyalakan hp dan menyalakan kamera. "Astaga..." ia segera menenangkan dirinya, tingkahnya sangat lucu. "Tidak, aku..aku..aku baik saja saja" ucapnya gugup. Aku tidak bisa lagi menahan senyumku, "Kenapa kamu gugup? " tanyaku.

__ADS_1


"Ah..itu karena kamu sangat mirip sechan oppa?" aku terkejut mendengar nya, "kamu sangat menyukainya" tanyaku lagi, ia mengangguk mengiyakan. "Kukira kau sangat menyukai pria yang kau bicarakan dengan teman mu itu." kataku. "Entahlah..aku juga bingung" jawab rosella, wajahnya terlihat sangat kebingungan. "Sekarang aku benar benar bingung dengan perasaanku sendiri" jelasnya. Aku terdiam tidak menduga hal ini," Kalau begitu aku harap kamu bisa memecahkan teka-teki perasaan mu" kataku. Aku jadi merasa bersalah dengan kevin, walau sebenarnya yang rosella sukai itu yang sechan. Entah kenapa aku merasa seperti akan menjadi perebut wanita orang.


Beberapa lama kemudian kami pulang, aku menawarkan untuk mengantar nya. Awalnya ia menolak tapi akhirnya dia mau aku antar kan. Selama perjalanan kami berbincang, aku baru mengetahui bahwa rosella salah satu pembaca novelku. Menurutku rosella sangat manis, dan aku mengerti mengapa kevin sangat menyukainya sampai terobsesi. Walau aku hanya sebentar berbicara dengannya, aku merasakan sangat nyaman. Ini sangat berbahaya untuk ku, bisa-bisa aku jatuh hati dengannya. Walau sebenarnya maksud ku dia bukan seperti playgirl, rasa nyaman dia seperti tulus menemani orang itu berbicara. Sepertinya aku akan membangun dinding sebelum aku ada perasaan kepada nya.


__ADS_2