Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab IV)


__ADS_3

Tik..tik..tik..suara keyboard menandakan kesibukan diruang keuangan ini. Ya..sudah hari senin saja, kembali lagi kepada kesibukan yang sudah rutinitas. Ditengah tenggelam dengan pekerjaan, pikiran ku juga tenggelam oleh pembicaraan ku dengan wina kemarin. Sebelum kami pulang ke rumah masing-masing.


Flashback


" Sela, pikirkan lagi tentang perasaan mu. Aku tau sekarang dalam pikiran mu kamu masih mengelak tentang perasaanmu, karena kamu takut bertepuk sebelah tangan lagi seperti cinta pertama mu. Tapi semakin kamu mengelak, semakin juga kamu jatuh dalam ke perasaan mu. Jadi lebih baik kamu memikirkannya, dan kalau kau benar menyukainya. Lebih baik ungkapkan jangan dipendam, apapun hasilnya walau kamu ditolak setidaknya ada kepastian yang bisa membuat mu untuk membuang perasaan itu." aku tersenyum mendengar pertanyaan wina.


" Terimakasih win, aku akan coba memikirkan nya. Tapi soal untuk mengungkapkan nya, aku tidak janji. Itu benar-benar tidak mudah untuk ku. Karena aku takut jika benar aku hanya bertepuk sebelah tangan, akan ada jarak di antara kami. Dan pertemanan kami mungkin akan hilang juga" wina menghela nafas mendengar perkataan ku. "Baiklah terserah kamu mau gimana nya" bales wina setelah itu kami pun masing-masing pulang.


Flashback end


Aku sangat bingung sekarang, apakah benar aku ada perasaan dengan kevin? Aku memang nyaman chat dengan dia ataupun berbicara dengan langsung. Bahkan saat mengerjakan tugas bersama pun juga begitu. Tapi apa benar itu perasaan itu? Aku menghela nafas, ini membuat ku pusing. Apalagi aku memikirkan nya saat aku lagi kerja ngeliat angka begini bisa pecah kepalaku. "Rosella, apa kamu gak makan siang?" tanya navier rekan kerjaku, setidaknya diantara semua rekan kerja aku lumayan dekat sama dia.


"Oh. udah makan siang ya?" tanyaku segera mengecek jam di hpku, dan ternyata udah jam 12.15. "Ah iya, mungkin satu menit lagi aku makan siang." jawabku. "Baiklah aku tunggu ya" kata navier. Aku segera menyimpan fileku, lalu ku lock komputer nya. Setelah itu aku menyusul navier untuk ke kantin kantor bersama. Ya di kantor tempat ku kerja ada kantinnya, dan kantin disini sudah ditunjang oleh kantor. Dan menu hari ini kulihat nasi dengan soto ayam, setelah aku mengambil makanan nya aku memilih air putih untuk minumnya lalu ke meja dikantin itu.


"Lumayan juga ya soto nya" ucap navier mencicipi nya, aku mengangguk mengiyakan. "Rosella sebenarnya kamu mikirin apa sih? Mau tadi pas kerja atau pas sekarang makan kamu tenggelam dalam pikiran mu. Apa jangan-jangan kamu mikirin cowok ya?" Pertanyaan navier membuat ku tersedak, aku segera minum. "Oh..benar ya?" tanyanya lagi, "Ya ada dah masalahnya, udah makan aja" navier mendengar jawaban ku cemberut dan ngomel-ngomel karena aku terlalu tertutup.


Jujur walau navier lumayan dekat denganku, hanya saja aku belum bisa membuka diriku sepenuhnya. Tidak jarang juga aku menghindari pembicaraan pribadi, untungnya navier bukan orang yang baperan. Walau dia ngomel-ngomel, tapi setelah itu ia mencoba mencari bahan pembicaraan lainnya. Setidaknya di kantor dia satu satunya ngerti bahwa aku tidak ingin dipaksa untuk terbuka. Selain itu ia juga selalu mencoba untuk mendekat denganku walau aku membangun tembok saat berkomunikasi dengannya seperti menandakan kalau ia dengan sabar menunggu ku terbuka tentang diriku.


Tring..tring..tring..kulihat siapa yang chatku dan ternyata kevin yang menchatku.


"Rosella?"


"Ada apa?" bales chatku


"Nanti apa kamu mau ke kampus bareng?" aku sedikit kebingungan dengan ajakan kevin. Sebaiknya aku bales apa ya? Jika aku terima, takut nya nanti ada yang melihat dan salah paham. Setelah beberapa lama terdiam aku pun membalasnya.


" Maaf kev, aku takut nanti ada ya lihat dan salah paham."


"Ok, tidak apa apa"

__ADS_1


Entah kenapa aku merasa sedikit menyesal menolak ajakan kevin. Sekarang aku hanya bisa menghela nafas "Ada apa ?" tanya navier, aku tersenyum lalu menjawab "tidak apa-apa". Setelah itu kami melanjutkan makan siang kami, dan juga berbincang bincang membahas topik yang ringan. Tanpa terasa jam makan siang berlalu, dan waktu pun makin berlalu bersamanya aku tenggelam dengan pikiran dan pekerjaan ku. Hingga tanpa terasa sudah jam pulang, aku segera beres-beres dan bergegas untuk berangkat ke kampus.


Saat berangkat ke kampus, entah kenapa dalam perjalanan di angkot firasatku gak enak. Perasaan ku agak menjadi gelisah seperti ada sesuatu nanti dikampus. Apa aku melupakan sesuatu? aku cek ditasku, tidak ada yang terlupakan. Tugas? udah kukerjakan. Apa aku telat lagi? Eh..kalau dipikir ini bukan masalah ku. Aku memang kang telat jika untuk akuntansi karena aku benci akuntansi dan pekerjaan kantor jadi itu bukan yang jadi penyebab kegelisahan ku.


Tiba di kampus, memang tidak apa apa "mungkin cuma firasat ku aja" walau begitu, firasatku masih gak enak. Hingga saat matkul berjalan hampir selesai, kulihat salah satu organisasi mahasiswa meminta berbicara pada dosen. " Baiklah karena ada pemilihan ketua PMM kita akhiri matkul hari ini" kata dosen setelah itu ia membereskan barang-barang nya. PMM seperti OSIS jika disekolah, walau harusnya itu DPMU atau BEMU, atau lainnya. Entahlah kenapa mereka lebih memilih nama itu. Mendengar itu aku hanya mengumpat dalam hati, sial pantesan firasat ku gak enak.


Kenapa aku mengumpat? Pertama aku gak suka organisasi kayak gitu, kedua aku paling benci disuruh ikut pemilihan ketua PMM. Pemilihan ketua PMM dilakukan sekali dalam dua semester atau setahun. Bagaimana pemilihan ketua tahun lalu? Tentu saja saat itu aku memilih kabur, waktu itu saat sedang ramai di tempat pemilihannya. Aku masuk ke salah satu ruangan di lantai satu itu yang dekat pintu keluar. Lalu aku buka naik di meja dekat jendela dan keluar lewat jendela. Untung nya di depan pintu keluar lagi gak ada orang, aku memanfaatkan kesempatan itu.


Tapi untuk sekarang mana mungkin aku menggunakan cara yang sama. Jadi aku tunggu sampai mereka selesai menyampaikan visi misi mereka dan lain sebagainya. Saat waktu nya untuk turun ke lantai 1, aku memegang tangan Vika. Aku memberi tanda kepada nya untuk mengikuti aku, ia pun mengangguk. Lalu perlahan aku ke ruangan sebelah aku kelas tadi, oh ya setiap ruangan kecuali lantai satu ada balkon. Di kampus ini banyak pohon-pohon berukuran besar dan tingginya sampai melewati dikit lantai 5.


Lalu aku membawa vika ke balkon, ia kebingungan kenapa aku membawa nya kesini. "Ayo kita kabur" ajak ku, "ngapain kabur lagipula pintu keluar juga dijaga" bales vika. " Ya kabur aja, aku gak suka milih-milih gitu. Lagipula ada kok caranya kok.", " Caranya?" tanya vika kebingungan. Lalu aku melirik pohon dekat balkon ini, vika melotot setelah mengetahui maksud ku. "Jangan bilang ngelompat ke dahan pohon dan turun. Kalau iya kamu gila ya, aku ogah ah mending kita milih aja" kata vika sembari menarik tangan ku untuk pergi.


Tapi aku menahan dan melepaskan tangannya, "yaudah kamu aja sendiri yang milih, aku ogah" balesku. Lalu aku mempererat tas punggung hitamku ini, lalu naik ke balkon dengan cepat aku melompat ke arah dahan itu. Kudengar sedikit pekikan yang ditahan vika. Ku berdiri menyeimbangkan di dahan pohon itu, lalu menoleh ke vika. Vika menggeleng kan kepala nya melihat apa yang kulakukan, "gak apa apa kok" kataku dengan pelan, "Cckk..yaudah hati hati" ucap vika, "ok" balesku. Aku segera turun dari pohon, perlahan dari dahan ke dahan.


Hingga akhirnya aku sampai di bawah, " pasti tidak ada yang mengira kan kalau aku bakal turun lewat pohon" aku benar benar sangat bangga dengan diriku ini. Aku segera berjalan menuju gerbang keluar, " Berhenti!" sial seperti nya aku ketahuan. Tanpa menoleh kebelakang, aku segera lari. Dan kudengar suara orang kaki mengejar ku, aku mempercepat lariku. Aku pun berhasil melewati gerbang keluar kampus. Setelah aku merasa sudah jauh berlari, aku menghentikan langkahku. "Hahh..hah.. setidaknya orang itu tidak sampai sini kan mengejar ku" ku coba untuk mengatur nafasku setelah berlari.


Lalu sebuah tangan memegang pundak ku dan membalik badanku. "Akhirnya ketangkap " nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari mengejar ku. Sial aku tertangkap oleh kak Dave!! Kak dave merupakan salah satu anggota PMM, dia merupakan bagian humas. Kak dave terkenal akan rumor nya yang buaya darat. Mendekati wanita lalu ketika wanita itu baper, dia meninggalkannya. Tapi bukan itu yang ku khawatir kan, masalahnya dia kalau nangani orang yang bermasalah aku dengar sangat mengesalkan. Seperti jika ada yang membuat ribut di kampus, maka dia akan memaksa orang itu menyanyi di lapangan bagaimana pun caranya.


Dan kulihat ke arah senior itu, ia membungkuk kelelahan dan melihatku. Mungkin sekarang aku selamat, tapi entah nanti esok malamnya di kampus gimana. Semoga ia tidak menghukum ku berlebihan hanya karena aku tidak ikut memilih. Setelah menurut ku cukup jauh dan senior itu tidak mungkin mengikuti ku, aku turun dari angkot dan membayar nya. Lalu ku menyebrang, lalu menunggu angkot C60. Angkot yang tadi aku naiki itu L03, untungnya di jalurnya ada yang masih bisa dilewati C60.


" Apa aku ke ropang gabut dulu ya?" posisi ropang gabut hanya beda 1 km dari posisi ku sekarang arah berlawanan arah kendaraan disini. Jadi bisa dibilang ropang gabut emang terletak di jalur angkot ke arah daerah rumahku lewat. Setelah beberapa pertimbangan aku pun memutuskan untuk pergi ke ropang gabut. Tidak berapa lama mungkin sekitar 15 menit, aku sampai di ropang gabut. Aku pun segera ke lantai dua dan sialnya sudah ada orang disitu. Mau gak mau aku duduk di meja lain, tapi aku terhenti sebentar karena aku menyadari sesuatu.


Pria itu terlihat familiar untuk ku, lalu tak sengaja aku melihat tas laptopnya. Sebuah sulaman di tas itu sepertinya aku pernah melihat nya juga. Lalu aku teringat dia pria itu!! Pria tinggi yang duduk dibelakang ku saat aku makan dengan wina kemarin. Aku menghampiri nya dan melihat wajahnya. Dan kebetulan ia tidak menggunakan masker nya, mungkin dia habis makan. Aku terkejut wajahnya sangat mirip dengan yang sechan member running man. Detak jantung ku berdetak kencang, dan wajah ku mulai memanas.


Ada sebuah rahasia kecil yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun, baik itu wina, vika, apalagi kevin. Dan ini juga alasanku agak ragu apakah benar aku menyukai kevin. Karena tentangku belum move on dari cinta pertamaku itu adalah sebuah kebohongan. Sebenarnya aku sudah ada perasaan kepada orang lain, hanya saja orang itu tidak bisa kugapai bahkan mustahil. Orang yang hanya kulihat lewat media atau acara tv, orang itu tidak lain adalah Yang Se Chan. Seorang member running man termuda, walau untuk ku sebenarnya tua karena perbedaan umur kami 12 tahun.


Kalian mungkin mengira kalau aku menghalu atau sekedar hanya fans. Awalnya aku berpikir begitu, namun aku berubah pikiran saat aku cemburu liat dia sangat dekat wanita lain atau tertarik dengan wanita itu. Seperti saat ia dengan Naeun eonni atau somin eonni. Apalagi ada yang buat rumor mereka itu monday couple baru, ingin rasanya aku siram air raksa ke yang buat rumor itu. Mengapa aku menyukainya? Memang sulit menjelaskan, hanya saja ia penyayang keluarga, cerdik/pintar dalam suatu hal tanpa orang sadari, humoris, perhatian dan masih beberapa yang sulit aku jelaskan.


"Sechan oppa" kataku secara spontan, dan ia terkejut melihatku sudah di depan nya. Orang itu segera memakai maskernya lagi, "Bukan saya hanya mirip saja". Setelah mendengar perkataan nya, aku menyadari perbedaan nya. Postur badan nya sangat berbeda, ia terlihat lebih atletis. Seperti yang aku bilang postur badan nya seperti campuran lee kwang soo dan kim jong kook , bisa kalian bayangkan? Ku sembunyikan kekecewaan ku dan mencoba mengalihkan ke lain " Oh ya kau benar, ngomong ngomong kamu pria kemarin kan? Yang membayar makanan dan memesan es krim untuk ku?"

__ADS_1


"Iya kau benar, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanyanya, "lumayan baik" jawabku. " Ngomong ngomong kamu duduklah" lalu aku duduk di depan nya. Kami diam beberapa detik, sekarang suasana nya benar benar canggung. " Oh ya sepertinya kamu suka nonton running man?" tanyanya, "iya aku sangat suka nonton running man" jawabku setelah itu kami diam lagi. Entah kenapa, padahal ia bukan Sechan oppa tapi karena wajahnya 100% mirip aku seperti berhadapan dengan sechan oppa. Hal ini membuat jantungku makin berdegup kencang.


"Maaf boleh aku bertanya?" tanya orang itu, "Iya apa?" tanyaku. " Apa kamu sedang tidak enak badan? Wajahmu sangat memerah" mendengar perkataannya aku segera menyalakan hp dan menyalakan kamera. Dan benar saja wajahku benar-benar merah. "Astaga..."aku segera menenangkan diriku, ini benar benar memalukan bisa bisanya wajahku memerah atau lebih tepatnya merona. "Tidak, aku..aku..aku baik saja saja" ucapku gugup. Kulihat ia tersenyum geli melihat tingkah ku, "Kenapa kamu gugup? " tanyanya. Melihat senyum nya wajahku makin memanas.


"Ah..itu karena kamu sangat mirip sechan oppa?" tanpa sengaja aku mengatakan nya, aku menutup mulut ku. Dan kulihat ia sangat terkejut, "kamu sangat menyukainya" tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk, ingin rasanya aku masukin kepalaku ke tas. "Kukira kau sangat menyukai pria yang kau bicarakan dengan teman mu itu." katanya. "Entahlah..aku juga bingung" jawabku, sekarang aku teringat kembali dilema ku yang sempat terlupakan. "Sekarang aku benar benar bingung dengan perasaanku sendiri" jelasku.


Orang itu terdiam sebentar, lalu ia menatap ku yang membuat ku gugup. " Kalau begitu aku harap kamu bisa memecahkan teka-teki perasaan mu" aku tersenyum mendengar nya, "Iya terimakasih" ucapku. "Oh ya namamu siapa?" tanyaku, "Hans" jawabnya. "Hans ya, kalau gitu salam kenal Hans. Aku rosella", "iya aku tau kamu rosella" jelas nya. Aku kebingungan bagaimana ia tau ? Kan wina selalu memanggil ku sela, " Itu sebenarnya saya punya teman bernama kevin. Dan ia pernah menunjukkan dirimu saat foto bersama satu kelas." aku terkejut mendengar penjelasan nya. Hans adalah temannya kevin, dan kemarin aku membicarakan tentang kevin.


"Tenang saja, soal pembicaraan kalian kemarin aku tidak mengatakan nya ke kevin" walau ia berkata seperti itu belum tentu kan. Bisa saja ia memberi petunjuk atau apalah. Apapun itu sekarang aku ingin mengubur diriku. "Ah..kalau begitu terima kasih" aku mengatakan ini dengan malu. " Hhmm..apa kau ingin memesan sesuatu?" katanya mencoba mengalihkan pembicaraan, dan tentu saja pengalihan itu aku terima. "Iya aku mau pesan, tapi untuk pesenanku aku yang bayar jangan kamu bayarin lagi. Dan juga sekalian pesenan mu aku bayar ya, kan kamu waktu itu pernah bayarin aku." aku bilang gitu karena aku tidak mau hutang.


" Jangan, saya saja yang bayar. Kamu tau kan harga diri pria" baiklah aku gak bisa menolak lagi. Seperti nya ia seperti kevin, menurut ia harga diri pria bisa jatuh kalau wanita yang bayar makanannya. "Baiklah kalau gitu" setelah itu kami memencet bel memanggil pelayan. Aku memutuskan untuk memesan lemon tea aja, walau hans meminta ku memesan makanan tapi aku menolak. Karena aku takut pulang kemalaman karena aku kelamaan makan. Ia akhirnya mengalah, dan kami pun hanya memesan minuman.


"Oh ya apa kamu mau aku antar?" tanya hans, aku merasa gak enak kalau ia sampai mengantar ku pulang juga"Enggak usah hans, aku takutnya ngerepotin" jawabku. " Enggak ngerepotin kok, lagipula ini sudah jam 9 kurang. Nanti kamu bisa kemalaman pulang nya" mendengarnya aku tidak bisa menolak lagi."Baiklah kalau begitu", lalu beberapa saat minuman pun datang. Kami pun berbincang-bincang ringan. Sampai akhirnya minuman kami habis, kami memutuskan untuk pulang.


"Masuklah" ujarnya sambil membuka kan pintu untuk ku. Aku terkejut mobil yang di kendarai nya itu mobil Ferrari 812 !!! Warna mobilnya hitam sangat elegan menurut ku. "Terimakasih" aku pun masuk kedalam mobilnya. Setelah itu ia menutup pintunya, lalu ke bagian mengemudi sebelahku. Hans memutar mobilnya untuk masuk ke jalan. Dalam perjalanan kami hanya diam. Dan aku pun bingung apa yang ingin aku bicarakan. " Oh ya alamat mu apa?" tanyanya, aku pun menyebut alamat lengkap ku lalu ia memasang map.


" Hans boleh aku tau kamu kerja apa?" tanyaku, " saya seorang penulis" jawabnya sambil fokus memperhatikan jalan. Kalau ia penulis, harusnya aku tau dia. Coba aku ingat ingat nama penulis dari buku yang aku baca. Lalu aku teringat buku yang berjudul The Memory of the villain karya Hans Canovus Kang. "Tunggu jangan bilang kamu ini Hans Canovus Kang?" pertanyaan ku membuat nya terkejut. "Darimana kamu tau ?" tanyanya balik, "karena anda bilang penulis. Lalu yang aku tau seorang penulis bernama Hans yang itu aja" jawabku.


"Seperti nya kamu suka membaca ya, sehingga tau karya saya" katanya, " jelas saja tau, mana ada orang yang tidak tau karyamu. Apalagi yang berjudul The memory of the villain, itu kan novel yang top. Apalagi banyak yang gak tau soal wajahmu" aku pun mengatakan kekaguman ku tentang novelnya. Dan sepanjang perjalanan aku sangat berapi api membahas novel karyanya. Dan aku menceritakan betapa inginnya aku menjadi penulis, dan aku sudah menulis novel sebanyak 5. "Kalau gitu buku novelmu pasti sangat menarik" aku tersenyum getir mendengar nya.


"Sebenarnya karyaku belum dibukukan, karena salah satunya sudah dicuri. Sejak karyaku dicuri, aku mengunci semua file di laptopku dan memutuskan untuk menyimpan nya sampai terungkap siapa penulis itu." jelasku mengingat dimana ada seorang penulis yang tidak mengungkapkan identitas nya, karyanya sangat persis dengan karya pertama ku. "Apa kau perlu bantuan?" tanyanya, "tidak terima kasih, aku akan berusaha sendiri mengumpulkan bukti nya." jawabku. Dan tanpa terasa sudah dekat rumah ku, aku memutuskan turun disini.


"Hans terimakasih atas tumpangannya" ucapku, "Iya sama sama, oh ya sebelum itu boleh aku meminta no mu?" tanya hans. "Tentu saja boleh" hans meminjam hpku, dan ia menambahkan no nya lalu misscall ke hpnya. "Kalau kau butuh bantuan, hubungi no ku" katanya, "Iya terimakasih" lalu aku turun dari mobilnya dan melambaikan tangan. Untung nya aku pulang jam seperti biasa aku pulang kampus, jadi tidak ada yang mengomel. Aku segera makan, setelah itu segera mandi.


Setelah mandi dan mengering kan rambutku, aku rebahan dikasur dan melihat hpku. Belum ada chat dari kevin, mungkin ia sibuk. Kevin juga bergabung dengan PMM. Hanya saja ia cuma sebagai panitia pemilihan. Mungkin saja ia masih dikampus, mengurusi surat surat pemilihan itu. Lalu ada chat dari Hans


"Selamat malam"


" Ya selamat malam" belasku di chat

__ADS_1


Entah kenapa untuk seseorang baru bertemu, ia sangat manis sampai mengucap kan selamat malam. "Hans..Kevin..bisa ya sejenis seperti itu berteman." sejenis yang aku maksud mereka sama-sama orang berada. Tapi apa aku pantas berteman dengan mereka? Apalagi penampilan ku seperti ini, bagaikan dalam sebuah khayalan aku bisa berteman dengan mereka.


__ADS_2