Cantik (The Queen Of Power)

Cantik (The Queen Of Power)
Cantik (Bab XIII)


__ADS_3

Sejak semalam kevin belum menchatku, hal ini membuat ku gelisah. "Rosella apa kau tidak apa-apa?" tanya navier. "Aku tidak apa-apa" jawabku. "Beneran? Kalau gitu kenapa kamu tidak makan ?" tanya navier. "Ini aku makan kok" kataku menyuap ke mulut ku. "Yaudah kalau begitu" kata navier. Ada notif chat dari kakak


"Little berry apa kamu sudah makan?"


"Ini lagi makan"


"Bagus, makanlah yang banyak 😁"


"Kakak sudah makan?"


"Sudah kok"


"Ooohh"


"Little berry nanti sebelum ke kampus aku ke rumah sakit buat ambil hasil tes DNA. Apa kamu mau bareng?"

__ADS_1


"Enggak usah kak, nanti aku sendiri aja"


"Yaudah kalau begitu, oh ya aku mau lanjut kerja ya. Aku sudah selesai istirahat."


Chat dengan kakak membuat badmood ku berkurang.


"Chat dengan siapa?" tanya navier. "Dengan kakak kembar ku" navier terkejut mendengar nya. "Kamu punya saudara kembar?"aku mengangguk mengiyakan. "Ini kakak kembar ku" kataku sambil menunjuk kan foto kakak. "Waahh....kakakmu ganteng juga ya."kata navier. "Tentu saja dong" kataku dengan bangga. "Kalau gitu aku bakal jadi calon kakak ipar mu" kata navier mengedipkan sebelah matanya. "Yeee..enak aja" kataku lalu kami tertawa. Waktu pun berlalu, tanpa terasa sudah jam pulang kerja. Mungkin ini pertama kalinya aku berangkat ke kampus sendiri sejak kejadian pelecehan itu. Jujur aku masih sangat takut kejadian di angkot akan terulang. Setiap berangkat kerja aku memang naik angkot, hanya saja perasaan takut itu selalu ada.


Sudahlah lupakan rasa takutku, karena kalau seperti ini terus aku akan menyulitkan mereka. Saat aku keluar gedung aku dikejutkan oleh vika yang menunggu ku di parkiran. "Vika kamu ngapain disini?" tanyaku. "Ya jemput kamu lah, aku gak bisa membiarkan kamu dijemput kevin setelah apa yang terjadi semalam. Kecuali kalau dia dapat dipercaya lagi baru boleh"kata vika. "Maaf merepotkan mu" kataku, "enggak kok" kata vika. Sesampainya di kampus, aku segera ke ruang L2 untuk kelas matkul hari ini. Kulihat sepertinya kevin belum datang. "Oh ya vika, kamu rahasia in dulu ya soal kak dave. Karena aku mau memberitahu kan ke kevin dulu"bisikku ke vika. "Ok ok" kata vika. Aku pun memikirkan bagaimana kata-kata yang akan digunakan untuk memberitahu soal indetitas kakak. Jika aku salah kata bisa menimbulkan salah paham.


Tak lama kemudian kulihat kevin datang, ia langsung menghampiri ku dan membawa ku ke pintu keluar belakang gedung kampus. "Sekarang aku mau kamu memblok nomor kak dave" kata kevin. "Maaf gak bisa, soalnya kak dave..", kevin menyela perkataan ku"kak dave apa? Apa jangan-jangan kamu ada sesuatu sama dia?". "Bukan gitu kev.." lagi-lagi kevin memotong omongan ku, "bukan apa nya? mengapa kak dave kemarin menyusul kita?" tanya kevin dengan marah. Aku hanya tersenyum tidak percaya, ia hanya menanyakan soal kak dave dan tidak minta maaf atau menjelaskan soal semalam. Bahkan ia tidak memberi ku kesempatan bicara." Mengapa kamu marah kak dave menyusul kita? Apa kau tidak menjelaskan kepada ku yang terjadi semalam?" tanyaku. " Mengapa? Bukannya kau menyetujui nya?" aku tidak percaya mendengar nya. "Memang kapan aku menyetujui nya?" tanyaku balik.


Lalu aku mendengar bisik-bisik, disitu aku menyadari banyak orang yang berkumpul disitu. "Apa !? Kau tidak bisa menjelaskan nya kan? Lalu apa kau bisa menjelaskan ini !?" tanya kevin melempar beberapa foto. Dan foto itu aku memeluk kakak malam itu, kami ke rumah sakit dan kami ke rumah. Aku benar-benar marah sama kevin, bisa-bisanya ia melakukan ini kepada ku apalagi ditengah banyak orang seperti ini. Tiba-tiba kak dave datang memukul wajah kevin. "Dasar bajingan berani nya kau melakukan ini" kata kakak dengan marah. Vika segera menghampiri ku dan merangkul ku. "Kevin teganya kau!" kata vika. "Dengan penampilan mu seperti ini saja kamu seperti itu, apalagi kalau cantik bisa ngejalang" perkataan kevin membuatku sangat sakit. Kevin terus saja melontarkan kata-kata kasar kepada ku, habislah sudah kesempatan terakhir yang diberikan oleh kakak.


Karena tidak tahan dengan kondisi ini, aku berteriak dengan keras. Teriakanku menghentikan kevin berbicara dan kakak yang akan memukulnya. Air mataku mengalir dengan deras, perasaanku sangat hancur. "Tak bisakah kau memberikanku kesempatan bicara? Kau...kau.. menilai seenaknya tanpa bertanya kepada ku. Aku.." kata-kataku terhenti oleh suara tangisan ku. "Aku dan kak dave adalah saudara kembar, dia adalah kakak kembar ku. Itu yang tadi ingin aku beritahu kan kepadamu. Kak..kakak telah memberikan kesempatan terakhir untukmu dan sekarang kau menghancurkan nya" kevin terkejut mendengar ku, mungkin ia tidak menyangka kalau informasi yang dia terima salah. Tangisan ku tidak tertahankan lagi, vika mencoba menenangkan ku. Aku pergi berlari meninggalkan tempat itu, kudengar vika memanggil ku.

__ADS_1


Aku terus berlari hingga keluar kampus, aku langsung menaiki angkot. Aku tidak tau kemana, sekarang aku membiarkan diriku pergi saja. Entah dimana aku memutuskan untuk turun, baru aku menyadari tidak membawa tas ataupun hp. Untung nya ada uang disaku celanaku, setelah membayar angkot nya aku melanjutkan jalanku. Aku tidak tau kemana, hanya mengikuti langkah kakiku melangkah. Aku tenggelam dalam pikiran ku, masih terbayang bagaimana kevin memperlakukan ku. Padahal baru saja kami bersama, baru saja kami tersenyum bersama. Tanpa kusadari di jalan ada sebuah lubang yang membuat satu kakiku masuk, kukeluarkan kakiku dari lubang itu dan ku lanjutkan lagi perjalanan ku. Aku benar-benar sial, mengapa hal buruk terjadi pada ku?


Sampai akhirnya entah bagaimana sekarang aku berada di taman. Aku pun duduk di taman itu karena sudah kelelahan. Dan aku menangis lagi dan lagi, sampai akhirnya aku berhenti karena lelah. Aku hanya termenung dengan pandangan mata kosong. "Rosella? Mengapa kau menangis?" kulihat hans jongkok didepan ku. Hans menatap ku dengan khawatir, melihat nya membuat air mataku mengalir. Tangannya dengan lembut mengusap air mata ku yang mengalir. "Kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan mu?" tanya hans. Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menangis. Hans duduk disampingku dan memelukku menenangkan ku, "tidak apa-apa menangis saja, semua akan berlalu" kata hans. Aku menangis sejadi-jadinya, hans menepuk punggung ku dengan lembut. "Apa kamu sudah lega?" tanya hans, "iya" kataku dengan lemah.


"Kakimu kenapa?" tanya hans lagi, kulihat kaki yang masuk ke lubang tadi dengkulnya terluka. Celanaku jadi robek, bahkan kulihat kuku kakiku ada yang patah dan berdarah. "Itu tadi kakiku masuk ke lubang dijalan" kataku. "Kakak ini!" seorang wanita datang dan menyerahkan bungkusan ke hans. "Minumlah" kata hans mengulurkan air botol, aku pun meraih dan meminum nya. "Boleh aku ngobatin kaki kamu?" tanya hans, aku mengangguk memperbolehkan. Ia menggulung celanaku sampai dengkul yang terluka. Lalu hans menuangkan air ke bagian lukaku untuk membersihkan kotoran nya. Memang sakit tapi entah kenapa luka di dengkul ku tidak terlalu sakit. Lalu aku lihat ia mengeluarkan kain kasa, dan menggunakan itu untuk mengoleskan alkohol ke lukaku. Setelah itu lukaku di beri betadine dan di lilit kain kasa.


Dan hans juga mengobati telapak kakiku juga, ia melakukan itu dengan lembut. "Kakak dia siapa ?" tanya wanita itu, "Dia temanku, oh ya rosella ini adalah adikku namanya jennie" kata hans memperkenalkan adiknya. Kami pun bersalaman, "baru kali ini kakak memperkenalkan teman wanitanya ke aku, kamu sangat cantik" kata jennie dengan ceria. "Aku tidak secantik itu" kataku dengan murung. "Siapa bilang ? Yang bilang kamu jelek berarti buta" aku terkejut dengan cara bicaranya. "Baiklah terimakasih" kataku, jennie tersenyum ramah kepadaku. "Rosella aku telepon kakakmu ya, sepertinya dia tadi telepon aku. Cuma karena adekku yang bawel ini, aku tidak sempat mengangkat nya" kata hans, dan kulihat Jennie menjulurkan lidah ke hans dan ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adeknya.


"Umurmu berapa?" tanya jennie, " umurku 21 tahun" jawabku. "Hhmm.. ternyata lebih muda setahun dariku, tapi tidak apalah kalau kamu jadi kakakku" kata jennie dengan tersenyum. Aku kebingungan maksud dengan kakak, padahal kan aku lebih muda dari dia. "Sepertinya kamu pendiam ya, kamu tau kakakku itu sangat lembut. Dia hampir tidak pernah membentak ku, paling kalau aku sudah kelewatan. Walau tubuhnya kekar tapi ia tidak pernah berbuat kasar dengan wanita." aku tau perkataan jennie memang benar. " Kakak itu sangat jenius, di kampus nya ia mendapat beasiswa karena prestasi nya. Bisa lima bahasa, sangat menguasai hal berkaitan dengan teknologi. Dan kakak juga seorang penulis terkenal, ia sangat pandai menulis. Kakak juga sangat pandai masak, bahkan chef bintang lima pun kalah. Sayangnya dari semua kehebatan itu, satu-satunya kelemahan dia adalah jomblo akut" kata jennie dan ia terus membahas tentang hans, entah kenapa ia seperti memasarkan kakaknya ini.


" Oh ya ngomong-ngomong apa kamu punya pacar?" tanya jennie. "Aahh..itu.. sebenarnya udah hanya saja sekarang baru berakhir" kataku. "Maksudnya dia yang putusin kamu? atau kamu yang putusin dia?" tanya jennie. "Agak sulit sih menjelaskan nya." kataku, lalu aku menceritakan nya kepada jennie bagaimana hubungan ku bisa berakhir. "Siapa pria itu? Aku akan menghabisi nya" tanya jennie, entah kenapa pandangan matanya mengerikan. "Sudahlah pria sampah macam itu tidak pantas bersama mu. Kan di dunia ini banyak pria yang baik, contohnya seperti kakakku" kata jennie. Aku kebingungan mau merespon apa, jadi aku tersenyum saja. "Kamu berhenti bicara yang aneh" kata hans mengusap rambut adiknya. Aku tersenyum melihat keakraban mereka, mengingatkanku dengan kakak. "Kakakmu akan segera kesini" kata hans, "terimakasih hans" ucapku.


"Aku sudah mendengar apa yang terjadi" kata hans. "Aku minta maaf" aku kebingungan dengan permintaan maaf hans. " Kenapa kamu yang minta maaf?" tanyaku. " Semalam harusnya aku berbicara padanya tentang semua. Hanya saja ia tidak mau berbicara denganku. Seandainya aku lebih memaksa lagi, kamu mungkin tidak akan terluka seperti ini. Jadi aku minta maaf" kata hans. "Tidak hans ini bukan salahmu" kataku, "tunggu jangan bilang kevin yang dimaksud adalah teman kakak?" tanya jennie. Hans hanya menghela nafas, "kalau begitu kevin ternyata bajingan juga ya" kata jennie. Hans menjitak kepala jennie, "dasar anak nakal, darimana kamu belajar bahasa kasar seperti itu" kata hans. "Emang aku salah? emang benar kan, kenyataan nya kayak gitu" kata jennie. "Tapi kamu jangan kasar juga" kata hans, "iya kakak bawel" kata jennie.


Beberapa lama kemudian kakak datang, aku menunduk tidak berani menatapnya. Kakak langsung memeluk ku, "Syukurlah kamu bisa ditemukan" kata kakak. "Kakak tidak marah sama aku?" tanyaku. " Bagaimana bisa kakak marah sama kamu. Yang pantas dimarahin itu kevin bukan kamu. Tunggu kakimu itu kenapa?" tanya kakak yang baru melihat kakiku. "Kakiku gak sengaja masuk ke lubang yang ada dijalan." kataku. "Apa sakit?"tanya kakak, "gak terlalu sakit kak" kataku. "Lain kali jangan asal main pergi gitu aja ya. Apalagi kamu gak bawa apa-apa, kamu tau betapa khawatir nya kakak?" aku menunduk mendengar nya. "Sudahlah kamu pasti lelah, ayo kita pulang" kata kakak. "Oh ya hans terimakasih telah menemukan adikku dan juga mengobati nya" kata kakak. "Iya tidak masalah." kata hans lalu kami berpamitan pulang.

__ADS_1


Sebelum pulang kami pergi ke minimarket dulu membeli air dingin untuk mengompres mataku yang bengkak. "Ini kompreslah" kata kakak, aku pun menerima nya dan mengompres mataku. "Apa kau mau makan dulu? Aku yakin pasti kamu lapar." tanya kakak. Aku memperhatikan jam, "tenang saja, aku sudah bilang ke papa mama kalau kita makan dulu" kata kakak. "Baiklah kak" kataku, " kamu mau makan apa?" tanya kakak. "Aku gak tau kak" kataku, "hhmm..kalau gitu kita restoran yang dulu pernah aku datangi" kata kakak, "iya kak" kataku. Disana aku tidak terlalu nafsu makan, karena masih memikirkan hal tadi. "Kenapa? Kamu gak suka makanan nya?"tanya kakak. " Bukan kak, hanya saja gak nafsu" kataku. "Little berry kalau kamu kayak gini, nanti kakak bisa bunuh kevin" aku terkejut dengan perkataan kakak. " Rosella jika kamu sedih, kakak dua kali lebih sedih melihat mu begini" kata kakak.


Aku merasa bersalah dengan kakak, yang sudah menanggung dan menyembunyikan kesedihan beberapa tahun harus merasakan kesedihan lagi. "Maafkan aku kak" kataku, " tidak apa-apa, kamu tidak salah kok" kata kakak dengan senyum lembut diwajahnya. Aku pun makan agar kakak tidak khawatir lagi. Aku benar-benar bodoh karena memikirkan masalah ku dengan kevin tanpa memikirkan orang yang menyayangi ku seperti kakak. Vika pasti sangat khawatir denganku begitu juga dengan hans. Begitu juga dengan orang tua dan adikku jika mengetahui hal ini. Mulai sekarang aku harus belajar mencintai dan menghargai diriku sendiri demi mereka semua. Aku harus melupakan kevin dan memulai lembaran baru.


__ADS_2